Tafsir Al Baqarah Ayat 2, Menelisik Makna Takwa Menurut Ulama

Reporter : Arini Saadah
Rabu, 20 Januari 2021 09:55
Tafsir Al Baqarah Ayat 2, Menelisik Makna Takwa Menurut Ulama
Orang bertakwa itu meninggalkan apa yang sebenarnya boleh karena khawatir terjatuh pada larangan Allah.

Dream – Surat Al Baqarah merupakan surat terpanjang di dalam Al Quran yang terdiri dari 286 ayat. Surat ini termasuk surat Madaniyah. Al Baqarah memiliki arti sapi betina, berisi kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah Swt kepada Bani Israil.

Surat Al Baqarah juga disebut Fustatul Quran (puncak Al Quran) sebab memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Selain itu surat Al Baqarah juga disebut dengan surat Alif lam mim seperti pada ayat pertama.

Kitab suci Al Quran merupakan penyempurna kitab-kitab terdahulu. Sehingga ia menjadi pedoman dan petunjuk bagii manusia untuk menemukan jalan yang benar. Al Quran merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 2. Berikut penjelasan surat Al Baqarah ayat 2 arab, latin, arti, dan isi kandungan di alamnya.

1 dari 5 halaman

Al Baqarah Ayat 2

Dikutip dari NU Online, berikut bacaan surat Al Baqarah ayat 2 lengkap arab, latin dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia:

Ilustrasi© nu.or.id

Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin.

Artinya:

Itu kitab tiada terdapat keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Menurut Imam Baidhawi dalam Tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil menyebutkan “ Dzalikal kitab” yang berarti itu kitab, merupakan kata untuk menunjuk sesuatu yang jauh. Kata ini ditafsirkan sebagai surat Al Baqarah, al Quran, kitab atau kitab suci terdahulu.

Sementara itu, makna asal kitab adalah kumpulan, himpunan, gabungan. Sedangkan Al Qurthubi mengutip al Jundi, kitab itu gabungan dari huruf-huruf.

2 dari 5 halaman

Tafsir Al Baqarah Ayat 2

Tafsir Al Baqarah ayat 2 yaitu, pengertian “ tiada terdapat keraguan” menjelaskan kitab itu demikian jelas dan gamblang, sehingga orang dengan akal sehat tidak emragukannya sebagai wahyu yang mengandung mukjizat setelah menganalisanya. Tiada seorang pun meragukan kemukjizatan al Quran. (Al Baidhawi).

Ilustrasi© freepik.com

Apabila diperhatikan ayat “ jika kalian meragukan sebagian dari wahyu yang Kami turunkan kepada hamba Kami…(dan seterusnya)”, Al Quran tidak menjauhkan mereka dari keraguan itu. Akan tetapi memberikan jalan alternatif yang menyenangkan yati mempersilahkan mereka berusaha untuk menenang kejelasan Al Quran.

Di saat mereka tak berdaya, maka jelas bagi mereka bahwa di dalam Al Quran tiada ruang kesamaran dan pintu masuk keraguan.

Ulama lain menafsirkan kalimat “ tiada keraguan di dalamnya bagi orang yang bertakwa”. Keaguan adalah bentuk mashdar dari “ sesuatu membuatku ragu” kemudian timbul keraguan dalam dirimu. Keraguan merupakan kegelisahan jiwa dan keguncangan batin. Ia disebut juga “ syak” karena membuat jiwa resah dan menghilangkan ketenangan hati.

3 dari 5 halaman

Tafsir Selanjutnya

Tafsir Al Baqarah ayat 2 selanjutnya adalah “ Sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa” artinya sebagai petunjuk yang mengarahkan mereka pada kebenaran. Kata “ hudan” artinya petunjuk. Ada ulama yang memahaminya sebagai petunjuk yang mengantarkan pada tujuan karena itu ia dihadapkan dengan dhalalah sebagaimana firman “ la’alaa hudan aw fii dhalaalim mubiin.” Maka dari itu kata mahdi berlaku hanya untuk orang yang menerima petunjuk sampai tujuan.

Kata petunjuk secara khusus dilekatkan pada orang yang bertakwa sebab mereka menerima petunjuk dan mengambil manfaat. Meskipun demikian, petunjuk ini sifanya umum untuk orang muslim dan non muslim dengan pertimbangan hudan lin naas yang artinya sebagai petunjuk bagi manusia.

Kemudian kata Al Muttaqi merupakan bentuk tunggal dari al Muttaqiin yang berasal dari kata al wiqayah atau sangat menjaga. Definisi syariat menyebutkan al muttaqi sebagai sebutan orang yang menjaga dirinya dari hal yang kelak membahayakannya di akhirat.

4 dari 5 halaman

Tingkatan Orang Takwa

Takwa dalam Al Baqarah ayat 2 ini memiliki tiga tingkatan:

  1. Orang yang menjaga diri dari azab yang kekal dengan melepaskan diri dari kemusyrikan seperti firman Allah “ wa alzamahum kalimatat taqwa”.
  2. Orang yang menjauhkan diri dari tindakan pengabaian yang dianggap dosa menurut syariat, termasuk dosa kecil menurut kaum tertentu. Al muttaqi disebut al muta’arif, tingkatan ini sesuai dengan firman Allah Swt “ wa law anna ahlal quraa aamanuu wat taqwa.”
  3. Orang yang menjauhkan diri dari segala hal yang bisa memalingkan hatinya dari Allah serta menekan hasrat dan nafsunya demi ibadah kepada Allah Swt. Ini merupakan jenis takwa yang hakiki seperti firman Allah “ yaa ayyuhalladziina aamanut taqullaha haqqa tuqaatih.

Dengan demikian, menurut pendapat Al Baidhawi, kata hudan lil muttaqiin pada Al Baqarah ayat 2 dapat ditafsirkan dengan tiga jenis takwa tersebut.

5 dari 5 halaman

Memahami Takwa

Ilustrasi© shutterstock.com

Sayyidina Umar dalam Tafsir Ma’alimut Tanzil karya Imam Al Baghowi, pernah bertanya kepada Ka’ab bin Abhar tentang takwa. Ia bertanya, “ pernahkah kamu melewati jalan berduri?” Pernah.” “ Apa yang kamu lakukan?” “ Aku berhati-hati dan waspada.” “ Itulah takwa,” jawab Ka’ab.

Selain itu, Abdullah bin Umar mengatakan, “ takwa itu kau tidak melihat dirimu lebih baik dari orang lain.” Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “ takwa itu pengabaian atas larangan Allah dan pelaksanaan atas perintah-Nya. Sedangkan anugerah-Nya setelah takwa itu merupakan sebuah kebaikan yang berlipat ganda.”

Menurut Syarh bin Hausyab, orang bertakwa itu meninggalkan apa yang sebenarnya boleh karena khawatir terjatuh pada larangan Allah. Al muttaqin secara khusus disebut pada Al Baqarah ayat 2 ini sebagai bentuk penghormatan bagi mereka karena telah jelas mengambil manfaat atas petunjuk Allah. (Al Baghowi).

Beri Komentar