Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Dream - Awan Cumulonimbus dikenal sangat berbahaya bagi penerbangan. Cumulonimbus merupakan salah satu awan vertikal yang tingginya bisa mencapai 60 ribu kaki atau sekitar 18 kilometer lebih.
Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Bentuknya khas, vertikal atau menjulang sangat tinggi, padat, dan sangat rawan terjadi badai petir. Selain itu, juga terdapat gumpalan-gumpalan es di dalam awan yang disebut Cb ini.
Dengan karakteristik itu, awan ini sangat berbahaya bagi penerbangan. Pesawat bisa saja tersambar petir yang banyak terjadi di pusat Cumulonimbus. Atau juga mengalami tekanan hebat. Es yang terbentuk dari dari awan ini juga bisa merusak mesin pesawat.
Sebuah posting ke laman Youtube oleh akun Channel 76 menggambarkan sebuah pesawat yang memasuki awan Cb saat akan landing di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Suasananya sungguh mencekam.
Dalam video berjudul " Detik-detik Suasana Kokpit Pesawat Saat Berada di Dalam Awan Cumulonimbus (CB)" itu terlihat suasana menjadi sangat gelap. Pesawat pun mengalami guncangan hebat.
Dalam video berdurasi 11 menit 10 detik itu yang diunggah pada 4 Januari 2015 itu menunjukkan adanya kilatan-kilatan cahaya. Berikut videonya. (Ism, Sumber: Youtube Channel 76)
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?

Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram