Dulu Disebut Penyakit Raja dan Orang Kaya, Asam Urat Kini Justru Banyak Mengancam Anak Muda
© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
Reporter : Rizky Wahyu Permana
Dalam catatan medis Mesir Kuno sekitar 2640 sebelum Masehi, ditemukan gambaran penyakit yang menyerupai gout atau asam urat.
DREAM.CO.ID - Bayangkan seorang raja Mesir Kuno yang hidup dikelilingi kemewahan dan hidangan lezat. Di tengah berbagai fasilitas yang dimilikinya, ia justru harus menahan nyeri hebat pada persendian kaki hingga sulit berjalan. Kondisi semacam ini bukan sekadar gambaran kehidupan para penguasa zaman dahulu. Penyakit asam urat atau gout telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan lama dikaitkan dengan kalangan elite yang memiliki akses terhadap makanan dan minuman mewah.
Dalam catatan medis Mesir Kuno sekitar 2640 sebelum Masehi, ditemukan gambaran penyakit yang menyerupai gout, terutama serangan nyeri pada sendi kaki yang dikenal sebagai podagra. Berabad-abad kemudian, Hippocrates, tabib Yunani yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran, menggambarkan kondisi tersebut sebagai penyakit yang dapat membuat seseorang tidak mampu berjalan.
Pada masa itu, asam urat sering disebut sebagai "penyakit raja-raja" atau "penyakit orang kaya". Julukan tersebut muncul karena kebiasaan makan yang dianggap menjadi pemicunya, seperti mengonsumsi daging dalam jumlah besar, makanan laut, dan minuman beralkohol. Jenis makanan tersebut dahulu lebih mudah dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki kekayaan.
Namun, anggapan bahwa asam urat hanya menyerang orang kaya kini sudah tidak relevan. Penyakit ini dapat dialami siapa saja, termasuk anak muda. Perubahan pola makan, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, faktor genetik, serta penyakit penyerta membuat risiko gout tidak lagi ditentukan oleh status sosial ekonomi seseorang.
Mengapa Asam Urat Dijuluki Penyakit Raja-Raja?
Asam urat atau gout merupakan peradangan sendi yang terjadi akibat penumpukan kristal monosodium urat di dalam atau sekitar persendian. Kristal tersebut terbentuk ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi dan mengendap di jaringan.
Asam urat sendiri merupakan hasil pemecahan purin, yaitu senyawa alami yang terdapat dalam tubuh dan berbagai jenis makanan. Ketika kadarnya meningkat dan tubuh tidak mampu membuangnya secara memadai, risiko pembentukan kristal urat menjadi lebih besar.
Makanan tinggi purin, seperti jeroan, daging merah, dan sejumlah jenis makanan laut, dapat meningkatkan kadar asam urat. Konsumsi alkohol juga dapat memperbesar risiko serangan gout pada sebagian orang.
Pada masa lalu, makanan tersebut sering diasosiasikan dengan kemewahan karena tidak semua orang mampu menikmatinya secara rutin. Akibatnya, penyakit yang berkaitan dengan pola konsumsi tersebut lebih dikenal di kalangan bangsawan dan orang berada.
Hippocrates pada abad ke-5 sebelum Masehi juga mencatat bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dan orang yang memiliki kebiasaan makan serta minum berlebihan. Gambaran tersebut kemudian memperkuat reputasi gout sebagai penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup mewah.
Dari Penyakit Elite Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat
Pandangan terhadap asam urat mulai berubah ketika ilmu kedokteran semakin berkembang. Para peneliti menemukan bahwa penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor biologis, termasuk kecenderungan genetik.
Penelitian dari University of Otago di Selandia Baru menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran signifikan dalam menentukan risiko seseorang mengalami gout. Artinya, ada orang yang secara bawaan lebih rentan mengalami peningkatan kadar asam urat, meskipun pola makannya tidak selalu berlebihan.
Faktor gaya hidup tetap berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya penentu. Dua orang dengan kebiasaan makan serupa bisa memiliki risiko yang berbeda karena kondisi genetik dan kesehatan tubuh masing-masing.
Penyakit penyerta juga perlu diperhatikan. Diabetes, hipertensi, obesitas, dan sindrom metabolik berkaitan dengan peningkatan risiko gout. Kondisi tersebut dapat berjalan beriringan dengan gangguan metabolisme yang memengaruhi kadar asam urat dalam tubuh.
Mengapa Anak Muda Kini Juga Bisa Mengalami Asam Urat?
Salah satu perubahan besar dibandingkan masa lalu adalah semakin mudahnya masyarakat memperoleh makanan dan minuman yang sebelumnya dianggap mewah. Daging merah, jeroan, dan makanan laut kini tersedia dalam berbagai pilihan harga. Konsumsi makanan tinggi kalori, minuman manis, serta kebiasaan kurang bergerak juga menjadi persoalan yang semakin umum.
Obesitas dan gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme yang berkaitan dengan gout. Konsumsi minuman manis berlebihan juga perlu diperhatikan karena kandungan fruktosa dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi asam urat.
Kombinasi faktor tersebut membuat penyakit yang dahulu identik dengan kalangan atas kini dapat ditemukan pada kelompok masyarakat yang lebih luas. Usia muda tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko, terutama jika memiliki riwayat keluarga atau penyakit penyerta.
Meski demikian, tidak tepat pula menganggap setiap orang yang mengonsumsi makanan tinggi purin pasti akan mengalami asam urat. Risiko penyakit ini terbentuk melalui interaksi berbagai faktor, termasuk genetik, metabolisme, kondisi kesehatan, dan pola hidup.
Asam Urat Bukan Sekadar Nyeri pada Jempol Kaki
Serangan gout sering ditandai nyeri sendi yang datang secara tiba-tiba dan terasa sangat kuat. Salah satu lokasi yang paling khas adalah pangkal jempol kaki. Sendi dapat mengalami pembengkakan, kemerahan, terasa panas, dan sangat sensitif ketika disentuh.
Namun, gout juga dapat menyerang sendi lain, seperti pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, dan siku. Jika tidak ditangani dengan baik, kadar asam urat yang terus tinggi dapat menyebabkan serangan berulang, kerusakan sendi, bahkan terbentuknya benjolan kristal urat yang disebut tofus.
Karena itu, penyakit ini tidak sebaiknya dianggap sekadar nyeri sementara setelah mengonsumsi makanan tertentu. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.