Pawang Hujan Bisa Mendatangkan atau Mengusir Hujan? Ini Jawaban Sains

News | Rabu, 28 Oktober 2026 10:00

Reporter : Abidah

Belum ada bukti ilmiah kuat bahwa ritual pawang hujan dapat secara konsisten mendatangkan hujan atau membuatnya menjauh dari suatu lokasi.

DREAM.CO.ID - Pada saat terjadinya kebakaran hutan seperti sekarang, salah satu pertanyaan dari banyak orang adalah ke mana keberadaan pawang hujan yang dianggap bisa memindahkan hujan. Pandangan ini tentu saja muncul karena upaya pemadaman yang tak kunjung berhasil dan pawang hujan yang biasanya dianggap bisa memindahkan hujan sama sekali tidak tampak keberadaan pada musim-musim kering ini.

Terlepas dari berbagai kepercayaan, kita bisa beralih pada satu pertanyaan lain. Bisakah manusia membuat hujan turun atau mencegahnya melalui suatu tindakan tertentu? Dalam sains, jawabannya bergantung pada mekanisme yang digunakan.

Manusia memang dapat memengaruhi proses pembentukan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca dalam kondisi tertentu. Namun, belum ada bukti ilmiah kuat bahwa ritual pawang hujan dapat secara konsisten mendatangkan hujan atau membuatnya menjauh dari suatu lokasi.

Untuk memahaminya, kita perlu membedakan tiga hal: proses alami terbentuknya hujan, praktik budaya yang dipercaya dapat memengaruhi cuaca, dan teknologi yang benar-benar bekerja dengan memengaruhi proses fisika di atmosfer.

2 dari 5 halaman

Bagaimana Hujan Terbentuk?

Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari awan gelap. Di baliknya terdapat rangkaian proses fisika yang melibatkan panas matahari, uap air, suhu, tekanan udara, pergerakan angin, dan partikel di atmosfer.

Air dari laut, sungai, dan permukaan tanah menguap akibat panas matahari. Uap air kemudian naik ke atmosfer dan mendingin. Dalam kondisi yang sesuai, uap tersebut mengalami kondensasi, yakni perubahan menjadi butiran air atau kristal es. Butiran yang bertumbuh cukup besar akhirnya jatuh sebagai presipitasi, termasuk hujan.

Proses tersebut dipengaruhi banyak faktor. Kelembapan udara, kestabilan atmosfer, pergerakan massa udara, dan karakteristik awan ikut menentukan apakah hujan terbentuk, seberapa deras intensitasnya, serta wilayah yang akan menerima air.

Itulah sebabnya awan gelap tidak selalu menghasilkan hujan di tempat orang berdiri. Awan dapat bergerak mengikuti angin, hujan bisa turun di wilayah lain, atau kondisi atmosfer berubah sebelum hujan mencapai permukaan.

Bahkan meteorolog yang menggunakan radar cuaca, citra satelit, pengamatan atmosfer, dan model komputer tidak selalu dapat menentukan waktu serta lokasi hujan secara sempurna. Atmosfer merupakan sistem yang kompleks dan terus berubah.

Fakta ini menjadi penting ketika seseorang mengaitkan ritual dengan perubahan cuaca. Apabila hujan tidak jadi turun setelah ritual dilakukan, kita belum bisa langsung menyimpulkan bahwa ritual tersebut penyebabnya. Bisa jadi awan memang bergerak menjauh, kondisi atmosfer berubah, atau hujan sejak awal diperkirakan akan turun di wilayah lain.

3 dari 5 halaman

Bisakah Pawang Hujan Mendatangkan Hujan?

Dari sudut pandang ilmiah, belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa ritual pawang hujan mampu mendatangkan hujan secara andal. Misalnya, sebuah desa mengalami kekeringan. Seorang pawang melakukan ritual untuk meminta hujan, lalu hujan turun beberapa jam atau beberapa hari kemudian. Bagi masyarakat yang menyaksikannya, urutan peristiwa tersebut mungkin dianggap sebagai bukti keberhasilan ritual.

Namun, untuk membuktikan bahwa ritual benar-benar menyebabkan hujan, diperlukan lebih dari sekadar kejadian yang berlangsung berurutan. Peneliti perlu mengetahui kondisi atmosfer sebelum dan sesudah ritual, membandingkan hasil di berbagai kesempatan, serta memastikan bahwa hujan tidak lebih masuk akal dijelaskan oleh proses cuaca alami.

Persoalannya, awan yang menghasilkan hujan terbentuk melalui mekanisme atmosfer yang dapat diamati dan diukur. Sementara itu, ritual belum menunjukkan mekanisme fisik yang teruji dan dapat diulang untuk membentuk awan hujan ketika kondisi atmosfer tidak mendukung.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), dalam pernyataannya mengenai modifikasi cuaca pada 14 Juni 2025, menegaskan bahwa teknologi manusia saat ini tidak mampu menciptakan sistem awan hujan dari ketiadaan atau mengubah pola angin untuk membawa uap air ke suatu wilayah. Klaim yang menjanjikan pengendalian cuaca berskala besar tanpa dasar ilmiah yang kuat perlu disikapi secara kritis. (WMO, Statement on Weather Modification).

Hal itu bukan berarti hujan tidak mungkin diupayakan melalui teknologi. Sains memang mengenal metode untuk meningkatkan peluang terjadinya presipitasi dengan memengaruhi awan yang sudah terbentuk. Akan tetapi, teknologi tersebut memiliki persyaratan dan keterbatasan, berbeda dari klaim bahwa ritual bisa mendatangkan hujan kapan pun dibutuhkan.

4 dari 5 halaman

Lalu, Bisakah Pawang Hujan Mengusir Hujan?

Pertanyaan kedua tidak kalah menarik. Dalam praktiknya, pawang hujan sering diminta menjaga agar acara di luar ruangan tetap berlangsung tanpa hujan. Sebagian orang memaknai keberhasilan sebagai hujan yang benar-benar tidak turun, sedangkan yang lain menganggap hujan yang turun di sekitar lokasi tetapi tidak mengenai tempat acara sebagai tanda ritual berhasil.

Dari perspektif ilmiah, kedua keadaan itu belum membuktikan adanya kemampuan untuk mengusir hujan. Hujan yang tidak turun di lokasi tertentu bisa terjadi karena awan bergerak mengikuti arah angin, sistem hujan melemah, atau wilayah tersebut memang tidak berada pada jalur presipitasi.

Agar klaim tersebut dapat diuji, peneliti perlu membandingkan kejadian dengan kondisi cuaca yang sebanding ketika ritual dilakukan dan tidak dilakukan. Mereka juga perlu menentukan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “mengusir”: apakah hujan tidak turun sama sekali, turun lebih singkat, berkurang intensitasnya, atau hanya bergeser ke wilayah lain.

Perbedaan itu penting karena hujan tidak selalu berupa satu sistem yang bergerak utuh. Awan hujan dapat berkembang, melemah, dan menghasilkan curah hujan berbeda di sejumlah wilayah. Perubahan yang terjadi setelah ritual tidak otomatis membuktikan bahwa ritual mengendalikan proses tersebut.

Dengan demikian, berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, belum ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa pawang hujan mampu menghentikan atau mengalihkan hujan melalui ritual secara konsisten. Namun, sains memiliki pendekatan tersendiri untuk mengurangi dampak hujan di wilayah tertentu.

5 dari 5 halaman

Sains Memang Bisa Memengaruhi Hujan, tetapi Tidak Sesuka Hati

Salah satu teknologi yang dikenal adalah cloud seeding atau penyemaian awan. Di Indonesia, pendekatan ini digunakan dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan dengan mengacu pada pengamatan dan analisis meteorologi.

Cara kerjanya bukan menciptakan awan dari langit cerah. Tim pelaksana terlebih dahulu mengidentifikasi awan yang memenuhi persyaratan untuk disemai. Bahan tertentu, seperti natrium klorida atau garam, kemudian dimasukkan ke awan untuk memengaruhi proses pembentukan dan pertumbuhan butiran air sehingga presipitasi dapat berlangsung lebih cepat dalam kondisi yang sesuai.

Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), OMC dapat digunakan untuk membantu mengurangi risiko banjir dengan mengupayakan agar hujan turun lebih awal atau tidak terkonsentrasi dengan intensitas tinggi di wilayah sasaran.

Contohnya, ketika sistem awan hujan diperkirakan bergerak dari laut menuju daratan yang rentan banjir, penyemaian dapat dilakukan di wilayah laut jika kondisi awannya memungkinkan. Tujuannya agar sebagian hujan turun sebelum awan mencapai daratan. Dengan strategi tersebut, jumlah air yang jatuh di wilayah sasaran diharapkan dapat dikurangi.

Dalam pendekatan lain, penyemaian dilakukan ketika awan masih berada dalam fase pertumbuhan untuk memengaruhi proses perkembangannya. Namun, langkah ini bukan berarti awan langsung lenyap atau hujan pasti batal turun.

BMKG menegaskan bahwa OMC tidak dimaksudkan untuk menghilangkan hujan secara total. Keberhasilannya bergantung pada kondisi atmosfer, jenis dan fase pertumbuhan awan, waktu penyemaian, serta faktor meteorologis lainnya.

Jadi, apakah sains bisa mendatangkan hujan? Dalam pengertian terbatas, penyemaian awan dapat meningkatkan presipitasi pada kondisi awan tertentu. Apakah sains bisa mengusir hujan? Teknologi modifikasi cuaca juga dapat digunakan untuk mencoba mengurangi curah hujan di wilayah sasaran, misalnya dengan mempercepat hujan turun di lokasi lain yang dinilai lebih aman. Akan tetapi, kedua upaya itu bukan jaminan dan tidak berarti manusia dapat memesan atau menghentikan hujan sesuka hati.

WMO juga mengingatkan bahwa kekuatan sistem cuaca sangat besar dan hasil modifikasi cuaca tidak selalu mudah dibuktikan dengan tingkat kepastian yang tinggi. Bukti keberhasilan harus dinilai berdasarkan metode yang digunakan, karakteristik awan, serta pengamatan dan penelitian yang memadai.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id