Ramai Isu Putus Kabel RI–Singapura: Kenapa Internet Dunia Belum Bisa Pindah ke Satelit?

News | Kamis, 29 Oktober 2026 08:49

Reporter : Rizky Wahyu Permana

Infrastruktur internet bawah laut menjadi salah satu isu yang mencuat kala terjadi ketegangan antara Indonesia dan Singapura. Mengapa internet masih dihubungkan dengan kabel dan bukannya satelit?

DREAM.CO.ID - Ketika membuka situs luar negeri, melakukan panggilan video lintas negara, atau menonton layanan streaming internasional, sebagian besar data yang digunakan masyarakat tidak dikirim melalui satelit, melainkan melewati kabel serat optik yang membentang di dasar laut. Infrastruktur yang nyaris tak terlihat ini menjadi tulang punggung internet global, sekaligus salah satu sumber ketegangan terbaru antara Indonesia dan Singapura.

Polemik mencuat setelah mantan anggota parlemen nominasi Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengunggah infografik pada 25 Oktober 2026 yang menyebut sekitar 90 persen lalu lintas internet Indonesia bergantung pada Singapura. Unggahan itu disertai satu kata, “Cut?”, yang memicu kekhawatiran tentang kemungkinan pemutusan konektivitas Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid merespons pada 28 Oktober 2026 dengan mengingatkan bahwa sebagian besar jalur kabel bawah laut yang mendarat di Singapura justru melewati perairan Indonesia. Menurutnya, gangguan pada jalur-jalur tersebut juga dapat menimbulkan dampak besar bagi konektivitas Singapura. Namun, polemik ini perlu dipahami secara proporsional: unggahan Cheng bukan pengumuman resmi pemerintah Singapura, dan ia kemudian menyatakan negaranya tidak akan melakukan pemutusan tersebut.

Peristiwa ini membuka pertanyaan yang lebih mendasar. Jika satelit dapat mengirimkan informasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa kabel fisik, mengapa internet dunia masih begitu bergantung pada kabel bawah laut? Dan seberapa besar sebenarnya posisi tawar Indonesia dalam jaringan yang menghubungkan berbagai negara tersebut?

2 dari 5 halaman

Lebih dari 99 Persen Lalu Lintas Data Internasional Melewati Kabel Laut

Kabel bawah laut bukan teknologi baru. Namun, sistem komunikasi modern mengandalkan serat optik yang mengirimkan data dalam bentuk pulsa cahaya melalui serat kaca yang sangat tipis. Teknologi ini memungkinkan data dalam jumlah sangat besar dikirimkan melintasi samudra dengan kecepatan tinggi dan kehilangan sinyal yang relatif rendah.

Menurut International Telecommunication Union (ITU), jaringan kabel komunikasi bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet dunia. Infrastruktur tersebut mendukung berbagai layanan penting, mulai dari komunikasi internasional, transaksi keuangan, komputasi awan, hingga konferensi video.

Kabel ini menghubungkan pusat-pusat jaringan di berbagai negara. Ketika sebuah perusahaan teknologi menempatkan pusat data di Singapura, misalnya, kabel laut menjadi salah satu jalur yang menghubungkan pusat data tersebut dengan jaringan internet di Indonesia dan negara-negara lain.

Singapura memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pusat konektivitas digital Asia Tenggara. Negara tersebut menampung jaringan kabel internasional, pusat data, dan layanan komputasi awan dari perusahaan teknologi global. Kedekatan geografis dengan Indonesia, terutama wilayah barat seperti Batam, turut membuat jalur melalui Singapura menarik bagi perusahaan yang membangun infrastruktur telekomunikasi.

Pada Juni 2026, dilansir dari CNA, Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, mengakui besarnya ketergantungan konektivitas internet Indonesia pada Singapura. Pemerintah Indonesia pun berupaya mengembangkan jalur alternatif agar lalu lintas data internasional tidak terlalu terpusat pada satu koridor.

Meski demikian, klaim bahwa 90 persen lalu lintas internet Indonesia bergantung pada Singapura perlu dibaca sesuai konteksnya. Angka tersebut berkaitan dengan ketergantungan konektivitas melalui pusat jaringan regional, bukan berarti setiap pesan WhatsApp, pencarian internet, atau pertukaran data antarpengguna di Indonesia harus melewati Singapura. Lalu lintas yang dilayani jaringan domestik dapat tetap berada di dalam negeri.

3 dari 5 halaman

Mengapa Tidak Menggunakan Satelit Saja?

Satelit sebenarnya sudah digunakan untuk menyediakan akses internet, terutama di wilayah terpencil, pulau-pulau kecil, kapal, pesawat, dan daerah yang sulit dijangkau jaringan kabel atau menara telekomunikasi. Jadi, persoalannya bukan satelit tidak mampu mengirimkan data, melainkan apakah teknologi tersebut dapat menggantikan kapasitas kabel laut untuk melayani kebutuhan internet global.

Ada tiga alasan utama kabel laut masih menjadi pilihan utama.

Pertama, kapasitas pengiriman data kabel serat optik jauh lebih besar. Kabel laut dapat membawa lalu lintas data berkapasitas sangat tinggi secara terus-menerus. Sementara itu, kapasitas satelit dibatasi oleh sistem satelit, spektrum frekuensi, dan sumber daya jaringan yang tersedia. Ketika jutaan pengguna mengakses video, aplikasi, layanan awan, dan sistem keuangan secara bersamaan, kebutuhan kapasitasnya sangat besar.

Kedua, kabel laut umumnya menawarkan latensi lebih rendah. Latensi adalah waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh perjalanan dari pengirim ke penerima. Kabel serat optik mampu mengirimkan data dengan latensi rendah untuk komunikasi lintas benua, sehingga cocok untuk aplikasi yang memerlukan respons cepat.

Satelit geostasioner berada sekitar 35.786 kilometer di atas permukaan Bumi. Data harus menempuh perjalanan dari stasiun di Bumi menuju satelit, kemudian kembali ke Bumi, sehingga waktu tempuhnya relatif panjang. Satelit orbit rendah atau low Earth orbit (LEO), seperti yang digunakan sejumlah layanan internet satelit modern, dapat mengurangi latensi karena berada jauh lebih dekat dengan permukaan Bumi. Namun, kapasitas keseluruhan dan biaya jaringan satelit tetap membuatnya sulit menggantikan jaringan kabel laut sebagai pembawa utama lalu lintas data internasional.

Ketiga, biaya per kapasitas kabel laut lebih ekonomis untuk lalu lintas data dalam jumlah besar. Pembangunan kabel memang memerlukan investasi awal yang sangat besar, termasuk kapal khusus, proses pemasangan di dasar laut, dan stasiun pendaratan kabel. Namun, setelah beroperasi, sistem serat optik dapat menyediakan kapasitas besar untuk melayani lalu lintas data dalam jangka panjang.

Pemerintah Singapura sendiri tidak menganggap satelit sebagai pengganti kabel laut. Dalam jawaban resmi di parlemen pada Februari 2026, Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura menyatakan akan terus mengeksplorasi cara memperkuat konektivitas, termasuk melalui satelit. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan upaya memperkuat ketahanan jaringan kabel bawah laut, yang menunjukkan bahwa kedua teknologi lebih tepat digunakan untuk saling melengkapi.

4 dari 5 halaman

Indonesia dan Singapura Sama-Sama Bergantung pada Kabel Laut

Dalam polemik terbaru, angka ketergantungan konektivitas Indonesia terhadap Singapura menjadi sorotan. Namun, hubungan keduanya bukan hubungan satu arah. Singapura juga membutuhkan jaringan kabel yang melintasi perairan negara lain, termasuk Indonesia, untuk menjangkau berbagai pasar dan pusat jaringan di kawasan.

Meutya Hafid menyatakan gangguan pada jalur kabel yang melintasi perairan Indonesia berpotensi mengancam hingga 80 persen kapasitas konektivitas Singapura. Angka tersebut merupakan pernyataan yang disampaikan Menkomdigi dalam merespons polemik, bukan berarti semua konektivitas Singapura pasti akan terputus jika satu kabel mengalami gangguan.

Jaringan internasional biasanya memiliki sejumlah jalur untuk mengalihkan lalu lintas ketika salah satu kabel rusak. Dampak gangguan bergantung pada kabel yang terdampak, kapasitas jalur cadangan, konfigurasi jaringan, dan kemampuan penyedia layanan mengalihkan lalu lintas.

Namun, banyaknya jalur kabel tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko. Jika beberapa kabel melewati koridor geografis yang berdekatan, kerusakan pada satu wilayah dapat berpotensi memengaruhi lebih dari satu sistem.

Kabel laut juga rentan terhadap aktivitas manusia, seperti jangkar kapal dan kegiatan penangkapan ikan, serta bencana alam seperti gempa bumi dan longsor bawah laut. ITU mencatat bahwa gangguan terhadap kabel bisa memengaruhi layanan internet, transaksi keuangan, komunikasi, dan berbagai operasi penting. Karena itu, perlindungan kabel dan kemampuan memperbaikinya menjadi agenda kerja sama internasional.

5 dari 5 halaman

Polemik Kabel Internet di Tengah Ketegangan Bilateral

Pernyataan Calvin Cheng muncul ketika hubungan Indonesia dan Singapura juga disorot akibat persoalan pasokan gas. Dalam konteks tersebut, unggahan tentang kemungkinan pemutusan akses internet memicu reaksi karena menyentuh infrastruktur yang penting bagi perekonomian kedua negara.

Namun, pernyataan seorang mantan anggota parlemen tidak dapat disamakan dengan kebijakan resmi pemerintah Singapura. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Singapura secara resmi berencana memutus jaringan internet Indonesia. Cheng sendiri kemudian menyatakan pemutusan tersebut tidak akan dilakukan.

Meski begitu, polemik itu memperlihatkan risiko ketika ketergantungan pada infrastruktur lintas negara dipersepsikan sebagai alat tekanan politik. Internet tidak hanya digunakan untuk hiburan dan komunikasi personal. Layanan perbankan, perdagangan, pusat data, sistem pemerintahan, hingga operasional perusahaan membutuhkan konektivitas yang stabil.

Karena itu, persoalan utama bagi Indonesia bukan memutus hubungan dengan Singapura, melainkan mengurangi ketergantungan yang terlalu terkonsentrasi. Pemerintah perlu memperluas jalur kabel internasional ke berbagai kawasan, meningkatkan koneksi antarpulau, memperkuat pusat pertukaran internet domestik, dan memastikan adanya jalur cadangan yang benar-benar dapat digunakan ketika terjadi gangguan.

Satelit dapat menjadi bagian dari solusi, terutama sebagai jalur alternatif untuk wilayah terpencil atau ketika jaringan terestrial dan kabel terganggu. Namun, teknologi ini belum dapat menggantikan peran kabel laut sebagai tulang punggung internet internasional.

Ketergantungan Indonesia dan Singapura terhadap jaringan tersebut bukan alasan untuk saling mengancam, melainkan kepentingan bersama untuk menjaga kabel tetap aman dan konektivitas tetap berjalan. Bagi Indonesia, kemandirian digital tidak berarti harus memutus hubungan dengan pusat jaringan regional. Yang lebih penting adalah memiliki cukup banyak jalur alternatif agar gangguan pada satu negara, satu kabel, atau satu koridor tidak membuat konektivitas nasional terlalu rentan.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id