Konsep Moral Ambition dari Rutger Bregman: Ketika Ambisi Tidak Lagi Diukur dari Jabatan dan Kekayaan
© Moral Ambition
Reporter : Abidah
Ambisi pada dasarnya adalah energi untuk mencapai sesuatu secara maksimal. Persoalannya bukan apakah seseorang ambisius, melainkan apa yang menjadi tujuan ambisinya.
DREAM.CO.ID - Bayangkan dua orang yang sama-sama memiliki kemampuan tinggi. Yang pertama menghabiskan bertahun-tahun mengejar jabatan, memperbesar gaji, mengumpulkan gelar, dan mendapatkan posisi bergengsi. Yang kedua menggunakan kemampuan yang sama untuk menyelesaikan persoalan yang mungkin tidak membuatnya kaya atau terkenal, tetapi berdampak bagi kehidupan banyak orang. Keduanya sama-sama ambisius. Perbedaannya terletak pada untuk apa ambisi itu digunakan.
Gagasan inilah yang menjadi inti Moral Ambition, buku karya sejarawan dan penulis Belanda Rutger Bregman. Bagi Bregman, ambisi tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Ambisi pada dasarnya adalah energi untuk mencapai sesuatu secara maksimal. Persoalannya bukan apakah seseorang ambisius, melainkan apa yang menjadi tujuan ambisinya.
Bregman mendefinisikan moral ambition sebagai keinginan untuk menjadi yang terbaik dengan ukuran keberhasilan yang berbeda. Kesuksesan tidak terutama diukur dari gaji besar, jabatan tinggi, kantor mewah, atau status sosial, melainkan dari seberapa jauh seseorang menggunakan karier, bakat, waktu, dan kemampuannya untuk menghadapi persoalan besar yang dihadapi masyarakat.
Dengan kata lain, moral ambition adalah pertemuan antara idealisme dan ambisi. Idealisme memberikan arah mengenai dunia seperti apa yang ingin diwujudkan, sedangkan ambisi menyediakan tenaga untuk benar-benar mewujudkannya.
Empat Tipe Manusia
Untuk menjelaskan gagasannya, Bregman membuat semacam peta yang mempertemukan dua hal: ambisi dan idealisme. Dari persilangan tersebut muncul empat tipe manusia.
Tipe pertama adalah orang yang tidak terlalu ambisius dan tidak terlalu idealistis. Mereka menjalani pekerjaan sekadar untuk mendapatkan penghasilan dan melewati kehidupan sehari-hari t
Tipe kedua adalah orang yang sangat ambisius tetapi tidak idealistis. Mereka ingin menjadi yang terbaik, tetapi ukuran keberhasilannya terutama berupa uang, status, kekuasaan, atau prestise. Mereka tidak salah karena ingin sukses.
Tipe ketiga adalah orang yang idealistis tetapi tidak ambisius. Mereka peduli terhadap kemiskinan, ketidakadilan, lingkungan, atau berbagai persoalan sosial, tetapi kesulitan mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan yang efektif dan berskala besar.
Tipe keempat adalah yang menjadi tujuan Bregman: orang yang sekaligus idealistis dan ambisius. Mereka tidak hanya bertanya, "Apa yang benar?" tetapi juga, "Bagaimana membuat hal yang benar itu benar-benar terjadi?" Bregman menyebut kombinasi inilah sebagai moral ambition.
Dari "Menjadi Sukses" ke "Berguna"
Gagasan ini pada dasarnya mengajak kita mempertanyakan definisi kesuksesan yang sudah dianggap normal.
Sejak kecil, banyak orang diajarkan bahwa hidup yang berhasil berarti mendapatkan nilai bagus, masuk universitas ternama, memperoleh pekerjaan bergaji tinggi, naik jabatan, membeli rumah, memiliki kendaraan, kemudian pensiun dengan nyaman. Tidak ada yang salah dengan semua tujuan tersebut. Masalahnya muncul ketika seluruh ukuran keberhasilan berhenti pada kepentingan pribadi.
Bregman menawarkan pertanyaan yang berbeda: setelah menghabiskan puluhan tahun bekerja, apa yang sebenarnya berubah karena pekerjaan kita?
Pertanyaan ini tidak berarti setiap orang harus meninggalkan pekerjaan dan menjadi aktivis. Moral ambition lebih tepat dipahami sebagai perubahan orientasi: menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk menghasilkan dampak yang lebih besar daripada sekadar keuntungan pribadi.
Seorang programmer dapat mengembangkan teknologi untuk membantu masyarakat. Seorang pengacara dapat menggunakan keahliannya untuk memperjuangkan kebijakan yang lebih adil. Seorang guru dapat mengembangkan metode pendidikan yang membantu anak-anak dari kelompok yang kurang terlayani. Seorang pengusaha dapat membangun bisnis yang menyelesaikan persoalan sosial tanpa mengabaikan keberlanjutan ekonominya. Dengan demikian, moral ambition tidak harus berarti bekerja di lembaga amal. Ia dapat muncul dalam berbagai profesi.
Bukan Sekadar Menjadi Orang Baik
Salah satu aspek menarik dari gagasan Bregman adalah kritiknya terhadap anggapan bahwa niat baik sudah cukup.
Seseorang dapat sangat peduli terhadap lingkungan, kemiskinan, ketimpangan, atau hak-hak manusia. Namun, jika kepedulian tersebut tidak pernah diterjemahkan menjadi strategi, organisasi, kebijakan, inovasi, atau tindakan nyata, dampaknya mungkin sangat terbatas.
Karena itu, Bregman mencoba memasukkan kata "ambisi" ke dalam dunia idealisme. Menurut kerangka ini, perjuangan moral bukan hanya soal menjadi orang baik, tetapi juga soal menjadi efektif. Ia membutuhkan keberanian mengambil risiko, kemampuan membangun organisasi, menemukan orang yang tepat, mengumpulkan sumber daya, dan bertahan cukup lama sampai perubahan benar-benar terjadi. Dalam pengertian tersebut, moral ambition bukan bentuk kesalehan pribadi. Ia lebih dekat dengan strategi perubahan sosial.
Bregman melihat persoalan besar dunia bukan hanya terletak pada kurangnya orang baik, tetapi juga pada salah alokasi bakat. Terlalu banyak orang dengan kemampuan tinggi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pekerjaan yang tidak memberikan kontribusi berarti, atau bahkan berkontribusi terhadap persoalan yang sebenarnya ingin mereka hindari. Situs resmi The School for Moral Ambition bahkan merumuskan persoalan tersebut sebagai terlalu banyak talenta yang diarahkan kepada masalah yang tidak membutuhkan penyelesaian.
Di sinilah moral ambition menjadi gagasan yang cukup radikal. Bregman tidak sekadar meminta manusia menjadi lebih baik secara pribadi. Ia meminta kita mengubah standar mengenai kehidupan yang berhasil. Pertanyaannya bukan lagi hanya, "Berapa banyak yang berhasil saya dapatkan?" Melainkan, "Berapa banyak yang bisa saya lakukan dengan kemampuan yang saya punya?"
Namun, gagasan tersebut juga perlu dibaca secara realistis. Tidak semua orang memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan berdasarkan idealisme. Banyak orang harus bekerja untuk membayar kebutuhan sehari-hari, menghidupi keluarga, membayar utang, atau sekadar bertahan hidup. Karena itu, moral ambition tidak semestinya diterjemahkan secara sederhana sebagai keharusan meninggalkan pekerjaan yang dianggap tidak ideal.