Rocky Gerung dan Kursi Wantimpres yang Tak Ditolaknya
© 2026 Rocky Gerung (Instagram)
Reporter : Okti Nur
Bertahun-tahun Rocky Gerung mengkritik kekuasaan. Kini duduk di dalam Istana sebagai Wantimpres. Apa yang berubah?
DREAM.CO.ID - Di luar kekuasaan. Itulah tempat Rocky Gerung biasa berdiri. Bertahun-tahun. Dari sana dia menggugat. Membantah. Menjungkirbalikkan logika dan kata. Bahkan menertawakan. Penghuni Istana pening dibuatnya.
Namun kini posisinya berubah. Tak hanya lompat pagar. Dia bahkan masuk ke dalam Istana. Rocky yang biasanya duduk di panggung diskusi sekarang punya kursi di dekat presiden. Di lingkar dalam kekuasaan.
Dulu dia datang sebagai tamu. Bahkan disebut disiden saat berkunjung 27 April silam. Kini, lima bulan berselang, menjadi penasehat presiden. Rocky dilantik menjadi anggota Dewan Penasehat Presiden bersama 25 tokoh lainnya. Prabowo yang melantik. Di Istana. Jumat, 2 Oktober 2026.
Rocky bukan orang yang tiba-tiba muncul di panggung politik. Pada 2002, dia pernah ikut mendirikan Partai Indonesia Baru. PIB. Pada 2011, Rocky bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen. SRI. Dia menjadi anggota Majelis Pertimbangan.
Partai itu akan mencalonkan Sri Mulyani sebagai capres pada Pemilu 2014, Namun gagal. Mereka tak lolos verifikasi administrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Gagal juga mengikuti Pemilu Legislatif 2014.
Rocky lahir di Manado pada 20 Januari 1959. Ia belajar filsafat di Universitas Indonesia, kemudian mengajar. Rocky juga aktif dalam berbagai forum pemikiran. Menjadi pengisi diskusi. Menulis. Berdebat. Mengomentari pemerintah, tentunya. Gayanya khas. Bermain dengan istilah. Kadang menyengat.
Suara Rocky keras dan intens selama masa pemerintahan Joko Widodo. Suatu kali dalam talkshow, Rocky mendapat pertanyaan tentang motivasinya kritis terhadap pemerintah. Menurut dia, pemerintah memang ditakdirkan untuk dikritik.
“Karena kekuasaan cenderung absolut, oleh karena itu kritik itu adalah permanen di dalam politik,” kata dia, salam sebuah talkshow.
Jadi, tambah dia, orang yang tidak mau dikritik adalah mereka yang tidak tahu kekuasaan. “Kekuasaan harus terus dikritik. Kalau bisa 27 jam sehari,” tegas dia.
Bagi Rocky, penguasa harus tahan kritik. Jika tidak tahan, ya tutup saja kuping. Bukan membungkam orang yang mengeluarkan kritik. “Kalau anda tidak tahan dikritik, silakan tutup kuping, bukan menutup mulut si pengkritik,” tutur dia.
Urusan publik. Itulah satu hal yang dipastikan Rocky pada setiap kitiknya. Dia mengkritik kekuasaan. Kekuasaan itu urusan publik. “Jadi saya memberikan kritik pada urusan publik, hanya itu,” tegas dia.
Jadi, kalau menjadi pejabat, apakah siap dikritik? Dia menjawab, “Saya nggak siap, saya anjurkan supaya kalian yang siap mengkritik,” kata Rocky.
Rocky yang senang naik gunung Selama itu, dia seolah membangun reputasi bukan sebagai politisi yang mengejar jabatan, melainkan sebagai intelektual yang berdebat dengan kekuasaan.
Sebenarnya, pelantikan Rocky Gerung oleh Prabowo tidak mengherankan. Mereka tak sepenuhnya berjarak. Prabowo dan Rocky sudah lama jadi sparing diskusi. Karena itulah, saat bertemu di Istana April lalu mereka tidak canggung. Keduanya santai. Prabowo menyebutnya disiden. Rocky mengiyakan.
Apakah setelah dilantik sebagai Wantimpres status disiden akan berubah? Siapa yang tahu. Yang jelas, saat ditanya mengapa menerima jabatan Wantimpres ini, Rocky menjawabnya melalui pertanyaan. “Alasan saya menolak apa?”
Rocky pernah berujar tetap berbeda pendapat meski berdiskusi dengan Prabowo. Namun itu dulu. Kini tempatnya sudah berubah. Dari luar pagar, Rocky masuk Istana. Dari komentator, jadi penasehat. Disiden itu kini punya kursi di Istana.
Namun Rocky punya jawaban untuk menepis keraguan bahwa jabatan ini akan mengurangi kekritisannya. Wantimpres, kata dia, justru merupakan dewan yang fungsinya kritis.
“Bukan kritik ya, beda. Kritis terhadap kebijakan. Kenapa harus kritis? Karena pasti ada persepsi negatif, ada persepsi positif. Dua-duanya persepsi, karena itu tugas dewan mengandalkan kepekaan etis dan kemampuan melihat detail persoalannya dimana. Dan itu yang dijadikan pertimbangan,” jelas Rocky.
Dia mengilustrasikan tugas Wantimpres melalui surat keputusan yang biasa dibuat oleh pemerintah. Dalam setiap surat keputusan, kata dia, ada bagian mengingat, menimbang, memutuskan dan menetapkan.
Tugas Wantimpres, tambah dia, adalah mengingat, menimbang, dan memutuskan. Sementara, penetapan ada di tangan presiden. “Jadi kita membuat pertimbangan, user-nya adalah Bapak Presiden. Itu cara kerja dari dewan ini,” kata Rocky.