Sembelit pada Balita: Penyebab dan Cara Mengatasinya secara Alami

Stories | Kamis, 27 Agustus 2026 14:00

Reporter : Abidah

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sembelit justru lebih sering ditemukan pada anak usia prasekolah dan usia sekolah dibanding pada bayi.

DREAM.CO.ID - Melihat balita menangis dan mengejan susah payah saat buang air besar adalah salah satu momen yang bikin orang tua panik sekaligus tidak tega. Sembelit ternyata jauh lebih umum dari yang dikira: sekitar 29,6 persen anak di dunia pernah mengalaminya setidaknya sekali. Kabar baiknya, sebagian besar kasus bisa diatasi tanpa obat, cukup dengan penyesuaian pola makan dan kebiasaan sehari-hari.

Tanda-tanda sembelit yang paling umum adalah berkurangnya frekuensi buang air besar dari biasanya (kurang dari tiga kali seminggu), feses yang lebih keras, lebih besar, dan sulit dikeluarkan, serta perut kembung akibat kotoran yang menumpuk di dalam usus. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sembelit justru lebih sering ditemukan pada anak usia prasekolah dan usia sekolah dibanding pada bayi, dan pada pemeriksaan lebih lanjut biasanya tidak ditemukan kelainan organik, kondisi yang dikenal sebagai konstipasi fungsional.

Penyebab Sembelit pada Balita

Sembelit sering dikaitkan dengan kurangnya asupan serat, tapi faktanya tidak selalu demikian. Sembelit juga bisa disebabkan oleh dehidrasi, masalah psikologis, hingga kebiasaan menahan buang air besar.

Perubahan Pola Makan. Pada usia sekitar satu tahun, anak mulai beralih dari tekstur makanan lembut ke makanan keluarga. Jika menu hariannya terlalu banyak mengandung karbohidrat olahan, seperti nasi putih berlebih atau roti putih, tanpa diimbangi sayuran dan buah-buahan, proses pembuangan sisa makanan akan terhambat.

Kurang Cairan. Air sangat dibutuhkan untuk membantu usus mengolah serat. Kurang minum air putih memang menjadi pemicu umum sembelit karena dehidrasi membuat tinja menjadi kering dan keras, meski dehidrasi ringan biasanya belum sampai menyebabkan sembelit kronis.

Trauma saat BAB. Sering kali sembelit dipicu oleh riwayat trauma, misalnya si kecil pernah mengalami nyeri saat buang air besar akibat feses yang keras, atau mengalami toilet fobia karena bertemu toilet yang kotor. Akibat trauma ini, anak jadi takut buang air besar dan memilih menahannya. Padahal, semakin ditahan, feses akan semakin keras, sehingga saat akhirnya berusaha buang air besar, rasa sakitnya justru semakin terasa, menciptakan siklus yang tak ada putusnya jika penyebabnya tidak segera diatasi.

Masa Transisi MPASI. Pada bayi yang baru mulai MPASI, sembelit terkadang muncul saat pertama kali mengenalkan makanan padat. Ini terjadi karena usus bayi masih beradaptasi dari konsumsi ASI menuju makanan padat, sebuah proses peristaltik yang butuh waktu untuk dipelajari ususnya.

2 dari 3 halaman

Cara Mengatasi Sembelit secara Alami

1. Perbanyak Asupan Air Putih

Cara alami paling efektif adalah meningkatkan asupan air putih anak sepanjang hari, sebab air sangat dibutuhkan untuk membantu usus mengolah serat yang dikonsumsi.

2. Berikan Buah Tinggi Serat dan Air

Memberikan buah yang mengandung tinggi air dan serat seperti pepaya bisa membantu melunakkan feses secara alami. Sejumlah penelitian juga menekankan pentingnya asupan serat larut (soluble fiber) dari buah-buahan seperti pir dan plum untuk membantu melunakkan massa feses pada balita.

3. Kurangi Makanan yang Bisa Memperparah Sembelit

Beberapa makanan bisa memperparah sembelit, seperti makanan tinggi lemak, makanan cepat saji, dan produk susu dalam jumlah besar. Cobalah mengurangi atau menghindari makanan-makanan ini dan fokus pada makanan sehat yang kaya serat.

4. Ajak Anak Aktif Bergerak

Aktivitas fisik atau olahraga ringan bisa membantu melancarkan pencernaan dan buang air besar. Ajak anak bermain di luar, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik lainnya, sebab gerakan tubuh membantu meningkatkan gerakan usus sehingga mengurangi risiko sembelit.

5. Mandi Air Hangat untuk Bayi

Khusus untuk bayi yang mengalami sembelit saat transisi MPASI, memandikannya dengan air hangat bisa membantu mengendurkan otot perut dan membuatnya lebih rileks saat berusaha mengejan.

6. Pastikan Posisi Duduk yang Nyaman

Pastikan anak duduk dengan posisi yang nyaman dan tidak terburu-buru saat mencoba buang air besar. Posisi yang tepat membantu proses pengeluaran feses jadi lebih mudah, terutama bagi anak yang sedang dalam masa belajar toilet training.

7. Bangun Kebiasaan BAB yang Konsisten

Mengajarkan kebiasaan buang air besar yang baik, misalnya menjadwalkan waktu rutin setelah makan, bisa membantu mengurangi kebiasaan menahan yang berpotensi memicu sembelit berulang di kemudian hari.

3 dari 3 halaman

Kapan Harus Segera ke Dokter

Meski sebagian besar sembelit pada balita bisa diatasi dengan cara alami, ada tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika sembelit pada anak disertai demam, perut buncit yang sangat keras, muntah, atau adanya darah pada feses, segera hentikan penanganan mandiri dan hubungi tenaga medis. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya penyumbatan atau masalah medis lain yang lebih serius.

Sembelit juga tidak boleh dianggap remeh dan dibiarkan berlarut-larut, karena berisiko menyebabkan komplikasi seperti ambeien pada anak. Apabila si kecil mengalami sembelit lebih dari dua minggu, perutnya terasa nyeri, BAB berdarah, atau kondisinya tak kunjung membaik meski sudah diberi penanganan alami, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Penting dicatat, obat pencahar tidak boleh diberikan sembarangan kepada anak tanpa pemeriksaan dan instruksi langsung dari dokter. Obat semacam ini biasanya baru diresepkan dokter sebagai pilihan lanjutan jika peningkatan asupan serat dan modifikasi gaya hidup tidak membuahkan hasil.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id