Digitalisasi Pelaku Kuliner Bisa Perluas Pemasaran

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 17 Maret 2021 08:12
Digitalisasi Pelaku Kuliner Bisa Perluas Pemasaran
Kolaborasi dengan e-commerce jadi hal yang penting dilakukan.

Dream - Digitalisasi saat ini jadi hal yang tak bisa ditawar lagi di intri kuliner. Terutama di situasi pandemi seperti sekarang. Pemesanan makanan kian praktis dan masih banyak orang lebih memilih makan di rumah karena alasan keamanan.

Hal ini pula yang membuat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya digitalisasi bagi pelaku ekonomi kreatif yang bergerak di sektor kuliner untuk memperluas cakupan pemasaran produknya.

Dalam acara NGANTRI (Ngobrol Bareng Mas Menteri) edisi kuliner khas #DiIndonesiaAja yang disiarkan live lewat akun Instagram @pesonaid_travel, beberapa waktu lalu Sandiaga mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pelaku kuliner adalah digitalisasi yang kurang merata. Oleh karena itu, Kemenparekraf/Baparekraf kini tengah menggencarkan digitalisasi para pelaku kuliner lewat sejumlah program.

Sandiaga Uno© Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

“ Ada program ‘Ada di Warung’ untuk membantu rantai distribusi produk ekonomi kreatif dengan menyalurkan produk kuliner ke dalam jaringan warung-warung dan toko kelontong di Indonesia yang sudah dijalankan tahun lalu dan juga kembali dilakukan tahun ini juga,” kata Sandiaga.

 

1 dari 4 halaman

Pada 2020 Kemenparekraf/Baparekraf berhasil mendigitalisasikan empat juta pelaku kuliner dari target dua juta pelaku. “ Sedangkan, di tahun ini, program-program tersebut akan kembali dilakukan dengan target yang lebih besar, yakni sekitar delapan juta UMKM,” katanya.

Sandiaga menuturkan pihaknya juga melaksanakan sejumlah program pelatihan seperti pelatihan kemasan produk kuliner. Termasuk bedah desain kemasan, bedah gerai, promosi dan voucher diskon pada event-event di platform e-commerce.

“ Program-program ini diharapkan mampu mengangkat nama produk lokal agar tetap eksis dan bisa bersaing,” ungkap Sandiaga.

E-commerce© E-commerce

Ia juga mengingatkan para pelaku kuliner untuk selalu menerapkan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental sustainability) dalam kegiatan sehari-hari. Sementara itu, artis sekaligus pengusaha kuliner, Prilly Latuconsina, mengungkapkan ada berbagai cara promosi produk yang dapat mendongkrak angka penjualan dan meyakinkan konsumen untuk membeli produk-produk kreatif pelaku kuliner.

Seperti berkolaborasi dengan platform e-commerce. Tentunya juga menjaga kebersihan serta menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

“ Kita (penjual) bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan bahwa di saat seperti ini kita bukannya jadi lebih cuek tapi malah meningkatkan operasional dalam (segi) kebersihannya, ” ungkap Prilly.

2 dari 4 halaman

Pssst... Pegawai Tokopedia Bocorkan 4 Tips Bisnis Kuliner Online Bisa Laris

Dream – Seiring perkembangan teknologi, kegiatan jual beli mulai beralih ke online. Cara jual beli ini menjadi populer setelah kehadiran pandemi COVID-19.

Selama pandemi banyak sekali muncul penjual-penjual baru dan terjadi peningkatan penjualan dalam bidang makanan dan minuman.

© Dream

“ Selama masa pandemi begini, banyak orang berjualan secara online, makanan siap saji atau siap masak banyak tersedia untuk dikonumsi di rumah,” kata AVP of Category Development for FMCG and Long Tail Categories Tokopedia, Jessica Stephanie Jap, dalam media gathering, Kamis 28 Januari 2021.

Pandemi mengharuskan orang-orang untuk menerapkan jaga jarak agar tidak tertular oleh virus COVID-19. Inilah yang membuat orang-orang membeli makanan dari platform e-commerce, seperti Tokopedia Nyam.

Lalu, bagaimana jika ingin memulai bisnis makanan dan minuman secara online? Jessica membeberkan ada empat langkah yang bisa dilakukan.

3 dari 4 halaman

Ini Rinciannya

Pertama, mulai saja dulu. Saat sudah mulai berpikir untuk membuka usaha, hal pertama yang dilakukan adalah memulainya terlebih dahulu. Jangan hanya rencana yang dibuat tetapi tidak dijalankan.

“ Jalanin saja. Misalnya, mau jualan jarum, ya, jualan jarum. Tidak perlu pikir jualan jarum, tapi tidak jalan-jalan,” kata pengusaha Mad Bagel, Anika Miranti.

Pengusaha Dimsum 49, Muhammad Kautsar, juga menyarankan agar tidak takut untuk memulainya.

Kedua, menyesuaikan keinginan pasar. Keinginan pasar harus bisa kita sesuaikan, mengetahui keinginan pasar bisa dengan mempelajari statistik toko, feedback dari konsumen, saran dan masukan dari konsumen. Ke depannya, produk yang dikeluarkan bisa disukai dan diminati serta dibeli pasar.

“ Buat sesuatu yang disukai pasar, berpikir bener ga sih produk ini ada pasarnya, bener ga sih rasa ini sesuai dengan pasar,” kata Kautsar.

4 dari 4 halaman

Ketiga, gigih. Banyak orang yang mau memulai usaha tanpa ada latar belakang yang memadai (bukan seorang yang kuliah marketing atau bisnis), tetapi harus mau belajar terus-menerus.

Kalau menemukan problem saat bisnis berjalan harus gigih mencari menemukan jalan keluarnya. Tidak boleh langsung menyerah dan merasa gagal.

“ Kalau ketemu masalah harus gigih cari solusi, kalo merasa ada yang salah harus segera dibenerin” tambah Anika.

Keempat, beradaptasi. Dalam situasi apapun harus bisa mengatasi tantangannya, terlebih di zaman pandemi seperti ini, yang baru dialami masyarakat luas. Harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Menyesuaikan lingkungan dan market pasar dari konsumen.

“ Seperti halnya saat pandemi begini, kita harus berpikir bagaimana cara inovasi produknya, bagaimana cara jualan bisa dari berbagai channel atau platform,” kata Anika.

(Laporan: Josephine Widya)

Beri Komentar