3 Bisnis Paling Tahan Banting Saat Ekonomi Indonesia Terancam Resesi

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 5 Agustus 2020 13:20
3 Bisnis Paling Tahan Banting Saat Ekonomi Indonesia Terancam Resesi
Salah satunya bahkan meningkat di saat sektor usaha lain sedang tiarap.

Dream - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mencatat minus 5,32 persen. Dari 17 sektor usaha yang diamati, Badan Pusat Stastik (BPS) melaporkan masih ada 3 bisnis yang mencatat pertumbuhan positif secara Q to Q.

" PDB dari lapangan usaha mengalami kontraksi 4,19 persen Q to Q," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam keterangan pers virtual, Rabu, 5 Agustus 2020.

Menurut Suhariyanto, hampir seluruh lapangan melaporkan pertumbuhan negatif di kuartal II-2020. Namun demikian, data BPS menunjukan masih ada tiga sektor bisnis yang masih bisa melaju positif di tengah ancaman resesi ekonomi Indonesia.

Ketiga lapangan usaha yang masih kokoh di saat pertumbuhan ekonomi negatif tersebut adalah pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 16,24 persen. Disusul sektor usaha informasi dan telekomunikasi yang tumbuh 3,44 persen. Serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang dengan pertumbuhan 1,28 persen.

Diungkapkan Suhariyanto, lapangan usaha pertanian bahkan mengalami pertumbuhan signifikan selama kuartal II-2020. Pada kuartal I-2020, sektor ini mencatat pertumbuhan 9,46 persen dibandingkan kuartal IV-2019.

Sementara di sisi berseberangan, BPS juga melaporkan adanya kontraksi pertumbuhan yang cukup tajam di beberapa lapangan usaha yang selama ini berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 29,22 persen. Disusul lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 22,31 persen serta jasa lainnya sebesar 15,12 persen.

" Triwulan ketiga saya mengajak membangun optimisme. sejak ada relaksasi PSBB sudah ada geliat dibandingkan pada yang terjadi dari bulan Mei meskipun masih jauh dari kondisi normal," ujar Suhariyanto.

 

1 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2020 Minus 5,32% Terpukul Covid-19

Dream - Pertumbuhan ekonom Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat mengalami kontraksi 5,32 persen (year on year). Kinerja perekonomian Indonesia ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan posisif sebesar 2,97 persen pada kuartal I-2020.

Melambatnya ekonomi dunia yang terpapar wabah Covid-19 ikut memukul laju perekonomian Indonesia.

" Perekonomian Indonesia pada tri=wiluan II-2020 secara y on y dibandingkan triwulan II-2019 mengalami kontraksi -5,32 persen," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam keterangan pers virtual, Rabu, 5 Agustus 2020.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada triwulan II-2020 ini jika dibandingkan triwulan I-2020 (q to q) megalami kontraksi atau minus 4,19 persen.

Menurut Suhariyanto, pandemi Corona yang melanda Indonesia sejak awal tahun menjadi penyebab utama penurunan pertumbuhan ekonomi ini. Pandemi Covid-19 telah menciptakan efek domino dari masalah sosial dan ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga, UMKM hingga korporasi.

Berbagai indikator bisnis juga tak memberikan kabar baik bagi perekonomian Indonesia dan dunia. Harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional pada kuartal II 2020 secara umum tercatat mengalami penurunan baik q to q maupun yoy.

Sementara harga komoditas makanan seperti gandum, minyak kelapa sawit dan kedelai mengalami penurunan q to q, tetapi meningkat secara yoy.

" Di satu sisi negara mengutamakan kesehatan dengan menerapkan lockdown, PSBB dan lainnya, di sisi lain pemerintah juga berupaya agar tingkat ekonomi berjalan. Dan untuk menyeimbangkannya bukan persoalan gampang. Dan bisa dilihat, banyak negara yang mengalami kontraksi," kata Suhariyanto.

2 dari 3 halaman

Eropa Resmi Resesi, Bagaimana Nasib Indonesia?

Dream - Uni Eropa resmi resesi. Ekonomi Benua Biru itu minus 11,9 persen pada kuartal II 2020. Pada kuartal pertama yang lalu, ekonomi mereka minus 3,2 persen.

Negara penyumbang ekonomi terbesar di Eropa, Jerman, juga telah masuk jurang resesi dengan minus 10,1 persen pada kuartal ke dua. Pada kuartal pertama yang lalu, Negeri Panzer minus 2,2 persen.

Prancis, Italia, dan Spanyol, mengalami tingkat resesi lebih dalam. Prancis minus 13,8 persen, Italia minus 12,4 persen, dan Spanyol minus 18,5 persen.

Ekonom sekaligus Analis Keuangan Valbury Asia Futures, Lukman Leong, memprediksi bahwa gelombang resesi yang melanda Eropa akan berdampak buruk bagi ekonomi Indonesia. Mengingat dampak resesi akan memukul kerja sama ekonomi antara Uni Eropa dan Indonesia.

" Saya kira kalau resesi itu pasti dampak buruknya akan menjalar ke segala sektor. Khususnya sektor ekonomi termasuk kerjasamanya," ujar Lukman, dikutip dari Merdeka.com.

3 dari 3 halaman

Apalagi, tambah dia, Eropa merupakan bagian penting mitra dagang Indonesia. Sejumlah negara Eropa memang masih mempercayai Indonesia sebagai mitra yang mampu memenuhi standar sejumlah produk yang ditetapkan. Tentu saja resesi Eropa ini akan menganggu ekspor nasional.

Namun, Lukman tak merinci seberapa besar potensi keuntungan dari kerjasama tersebut. " Yang pasti potensi ekonomi dari kerjasama ini cukup besar. Terlebih banyak negara maju di kawasan tersebut," imbuh lukman.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah lebih tanggap dalam menyikapi resesi yang marak di sejumlah negara, khususnya mitra dagang. Antara lain dengan memetakan sejumlah negara mitra yang berpotensi mengalami kondisi ekonomi sulit.

Namun, menurutnya prioritas pemerintah kini lebih baik diarahkan terhadap peningkatan serapan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sehingga lebih banyak menyelamatkan masyarakat dan pelaku usaha dari dampak resesi.

" Hemat saya, yang paling penting untuk bisa meningkatkan serapan stimulus PEN. Karena ekonomi ga akan bangkit tanpa aktifitas," tukasnya.

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar