Kisah 5 Sekawan Jadi Pengusaha: Berawal di Garasi, Dirampok, Kini Sukses dan Punya 40 Karyawan

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 28 Oktober 2021 13:35
Kisah 5 Sekawan Jadi Pengusaha: Berawal di Garasi, Dirampok, Kini Sukses dan Punya 40 Karyawan
Modalnya pun dari `modal nekat`. Mereka juga harus melalui lika-liku bisnis.

Dream – Lima anak muda ini bermodal nekat untuk merintis bisnis kerajinan kulit. Bisnisnya ini berawal dari garasi kecil.

“ Bermodal nekat, kami berlima autodidak belajar menjahit, me-manage tim, bisnis dan keuangan. Semua dari internet,” kata Agung Dwi Kurnianto, salah satu pemilik Revolt Industry, dikutip dari keterangan tertulis Tokopedia, Kamis 28 Oktober 2021.

Bisnis ini dirintis setelah dia dan empat temannya lulus kuliah. Revolt Industry berdiri pada pertengahan 2014.

“ Revolt bisa diartikan perjuangan, perlawanan atau pemberontakan untuk bangkit, sedangkan kata Industry melambangkan sesuatu yang terus bergerak,” kata dia.

“ Bisnis kami adalah perjuangan tanpa henti untuk mengangkat produk lokal agar kita bisa bangkit bersama karena UMKM lokal adalah penggerak ekonomi nasional,” tambah Agung.

1 dari 3 halaman

Dihantam Ujian

Revolt Industry pertama kali memasarkan produk lewat sebuah event di Surabaya. Penjualan mereka meledak usai mengikuti event tersebut. Namun, pada, akhir tahun 2014, tempat usaha mereka ludes terbakar dalam 15 menit.

“ Akhirnya kami mulai lagi dari nol, bahkan dapat dibilang minus,” kata dia.

Langkah awal mereka memulai bisnisnya adalah menyewa kontrakan. Lokasi ini sempat kebanjiran dan mereka sempat kerampokan.

“ Masih banyak lagi, tapi selama masih ada harapan, kami tetap melanjutkan perjuangan,” kata Agung.

“ Langkah awal dengan sewa kontrakan. Sempat mengalami kebanjiran, perampokan dan masih banyak tantangan lain, tetapi selama masih ada harapan, kami tetap melanjutkan perjuangan,” ujar Agung.

2 dari 3 halaman

Terapkan Strategi

Kini, Revolt Industry mampu mempekerjakan 40 karyawan. Pandemi kemudian menjadi pukulan tersendiri. Omzet mereka anjlok hingga 80 persen.

“ Kami memutar otak agar minimal biaya operasional bisa ter-cover dan pengurangan karyawan tidak perlu dilakukan. Pertahanan paling baik adalah dengan menyerang,” ujar Agung.

Revolt Industry akhirnya menyerang dengan membuka gallery store pertama selama tujuh tahun dan dengan terus berinovasi melalui desain produk, mental manusia-manusia di dalamnya hingga kampanye seperti ‘Play Role Campaign’ untuk mengajak masyarakat membantu pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi dengan memakai produk lokal, namun tidak mengambil untung.

“ Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi, tidak melulu menyalahkan keadaan, tapi apa yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri maupun sekitar,” kata dia.

3 dari 3 halaman

E-Commerce Jadi Harapan

Ada 10 persen dari penjualan disumbangkan ke yayasan. UMKM Surabaya, Jawa Timur, itu juga turut serta dalam aksi di Surabaya dan sekitarnya untuk membantu masyarakat yang kelaparan.

Platform digital seperti Tokopedia menjadi harapan Revolt Industry untuk bertahan terutama selama pandemi. Tokopedia, menurut Agung, sangat memudahkan mengelola bisnis.

“ Hanya dari depan laptop, kita bisa mendekorasi toko, mengatur buka tutup toko, stok, hingga menganalisis pasar,” kata dia. 

Beri Komentar