Berbayar, Sertifikasi Batik Sepi Peminat

Reporter : Ramdania
Kamis, 2 Oktober 2014 06:46
Berbayar, Sertifikasi Batik Sepi Peminat
Niat pemerintah untuk meningkatkan mutu batik Indonesia melalui sertifikasi, rupanya tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari para pengrajin batik. Apa masalahnya?

Dream - Di Hari Batik Nasional yang jatuh hari ini, sertifikasi batik menjadi hal yang patut diperbincangkan. Sertifikasi batik merupakan pemberian label pada batik asli Indonesia yang terdiri dari batik tulis, cap, dan kombinasi antara batik tulis dan cap.

Pembina Yayasan Batik Indonesia Doddy Soepardi menyatakan pemberian label ini dapat memberikan garansi keaslian batik Indonesia yang terbuat dari lilin dan canting dengan proses tulis, cap, atau kombinasi.

" Kita kerjasama dengan balai kerajinan batik untuk membuktikan keaslian batik. Jadi, kalau batik tulis ada mark (tanda) dari emas, kalau kombinasi warnanya perak, kalau cap warna mark-nya putih," ujar Doddy saat ditemui di Jakarta.

Menurut Doddy, Yayasan Batik Indonesia tidak mengenal batik printing yang banyak dijual di pasar tanah air dengan harga murah. Dia menegaskan batik merupakan teknik pembuatan yang selalu konvensional. Untuk itu, butuh penanda guna membedakan mana batik asli dengan tekstil bermotif batik.

" Batik Indonesia itu pembuatannya konvensional. Dengan label tersebut maka pembeli tidak merasa dibohongi. Selain itu, sebagai identitas batik Indonesia di pasar internasional," tegasnya.

Namun, Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Kemeterian Perindustrian Zulmalizar menyatakan program sertifikasi ini tidak begitu banyak peminat. Saat ini, dari ratusan pengrajin batik di Indonesia, baru 120 pengrajin yang tersertifikasi.

" Jadi baru 120 yang sudah dapat sertifikasi batik mark itu," ungkapnya.

Menurut Zulmalizar, terdapat kesulitas menyosialisasikan program tersebut karena adanya pemikiran yang konvensional dari para pengrajin. Apalagi, proses administrasi sertifikasi ini membutuhkan biaya sekitar Rp 1,7 juta untuk 3 tahun.

" Mereka berpikir tanpa sertifikasi pun, batik produksi mereka sudah laku. Jadi tidak perlu lagi melakukan sertifikasi. Padahal, jika mereka berpikir ke depan, sertifikasi dan ekspor, produknya lebih bernilai dibandingkan tanpa label tersebut sehingga bisa lebih laku," tandasnya. (Ism)

Beri Komentar