Berbekal Doa, Anak Pekerja Serabutan Lolos CPNS

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 18 Januari 2019 09:13
Berbekal Doa, Anak Pekerja Serabutan Lolos CPNS
Sang ayah bekerja serabutan sedangkan sang ibu hanya ibu rumah tangga.

Dream – Usaha tak mengkhianati hasil. Ya, ungkapan ini dibuktikan oleh Fauzi Rizki Arbie. Anak pekerja serabutan ini lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di formasi pengelola teknik informasi bidang monitoring dan evaluasi di Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Dikutip dari laman menpan.go.id, Jumat 18 Januari 2019, cerita perjuangan Fauzi ini bermula dari Oktober 2018. Ketika itu, kontraknya di Dinas Perpustakaan Kota Bandung tak diperpanjang. Lelaki berusia 25 tahun ini tak tenang karena menganggur.

Sang ayah bekerja serabutan dan kala itu dipanggil sebagai mandor bangunan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan sang ibu hanya ibu rumah tangga. Sebagai anak lelaki, dia merasa bertanggung jawab terhadap ibunya.

“ Sempat tidak tenang, tak ada kegiatan untuk menambah penghasilan orang tua,” kata dia.

Kondisi ini mendorong Fauzi untuk menjadi seorang PNS, pekerjaan yang diimpikan. Saat itu, pemerintah sedang membuka seleksi CPNS Tahun Anggaran 2018. Berbekal pengalaman bekerja di pemerintahan, Fauzi mendaftarkan diri pada rekrutmen CPNS tahun 2018. Ia mendaftar pada formasi pengelola teknik informasi bidang monitoring dan evaluasi di KASN.

Perjuangan dimulai saat melakukan pendaftaran secara online. Tiga hari ia mencoba mendaftar di web resmi Sistem Seleksi CPNS Nasional (SSCN), namun selalu gagal karena banyaknya orang yang hendak mendaftar. Ia juga mengakui, dengan latar belakang pendidikan D-III, agak sulit untuk mencari posisi yang tepat.

Lulusan D-3 Pendidikan Teknik Komputer Politeknik Piksi Ganesha Bandung ini memantapkan pilihannya di KASN, meskipun formasinya hanya satu. Formasi ini membuatnya pesimis.

1 dari 3 halaman

Berbekal Doa

Dua minggu berlalu. Saat pengumuman seleksi administrasi, ia menemukan namanya berhak ikut ke tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Ia sadar sepenuhnya bahwa SKD dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) ini tak dimungkinkan ada kecurangan atau ‘titipan’. Ia pun menyiapkan diri dengan belajar keras, karena hanya kemampuannya sendiri yang bisa menolongnya, selain kekuatan doa kepada Tuhan YME.

Selama 100 menit, ia berkutat dengan kumpulan soal Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Intelegensia Umum (TIU). Untuk lolos, Fauzi harus memenuhi ambang batas dari tiap-tiap kelompok soal. Fauzi mendapat nilai 70 untuk TWK, 100 untuk TIU, dan 136 untuk TKP.

“ Nilai saya tidak memenuhi passing grade di bagian TKP dan TWK. Saya hanya bisa berdoa, kalau memang sudah rejeki mungkin ada cara lain,” imbuh Fauzi, yang gemar naik gunung ini.

Tanpa disangka, Kementerian PANRB kemudian mengeluarkan Peraturan Menteri PANRB No. 61/2018 tentang Optimalisasi Pemenuhan Kebutuhan Formasi PNS dalam Seleksi CPNS Tahun 2018. Adanya regulasi yang mengatur soal ranking itu, menguntungkan Fauzi yang mendapat nilai kumulatif cukup tinggi pada SKD. Anak bungsu dari dua bersaudara ini pun dinyatakan lolos dan berhak mengikuti Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

2 dari 3 halaman

Tepis Pesimis dengan Doa Orang Tua

Dalam benaknya, yang ia tahu SKB tidak berbeda jauh dengan SKD yang berbasis CAT. Ia kaget saat membaca pengumuman, ternyata SKB terdiri dari psikotes, wawancara, CAT, TOEFL, dan praktik kerja.

Rasa pesimis kembali menghantuinya. Ia sadar, bahwa yang lolos sampai tahap ini adalah peserta yang unggul. Ia harus bersaing dengan dua orang lain karena setiap formasi diikuti tiga orang peserta untuk diambil salah satu yang terbaik, setelah nilainya diintegrasikan dengan nilai SKD. Bobotnya, 40 persen untuk SKD dan 60 persen untuk SKB.

Namun demikian, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan tekad bulat, Fauzi melangkah ke ibukota dengan harapan bisa menaikkan derajat kedua orang tuanya. Sebelum ujian, ia selalu minta doa restu dengan mencium tangan dan kaki ibunya.

Tak lupa, melalui sambungan telepon, ia juga meminta doa kepada ayahnya yang saat itu berada di Lombok.

Doa dan harapan kedua orang tuanya itu menjadi pemicu semangat Fauzi menghadapi rangkaian seleksi CPNS. Fauzi menekankan, ia selalu berusaha menyeimbangkan antara doa dan usaha keras.

" Doa tanpa usaha itu bohong, tapi usaha tanpa doa itu sombong" , begitu kutipan yang selalu menjadi pegangan hidupnya. Berbekal doa kedua orang tuanya, serta usaha yang keras, Fauzi berhasil lolos SKB dan memasuki tahap pemberkasan.

3 dari 3 halaman

Ingin Berangkatkan Orang Tua untuk Umroh

Perjuangan yang sudah ia lakukan sampai tahap sejauh ini, ia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Menurut Fauzi, sebagai anak laki-laki, sudah sepatutnya untuk mengangkat derajat serta membahagiakan mereka.

“ Saya ingin memberangkatkan mereka umroh dan insya Allah akan mendekatkan ayah dan ibu saya agar tidak berjauhan. Saya juga ingin membalas budi atas kebaikan mereka, meski tidak mungkin, setidaknya saya tidak tinggal diam,” kata dia.

Fauzi sudah berhasil membuktikan apa yang diyakini: lulus seleksi tanpa bantuan orang lain. Dia juga mengapresiasi pemerintah karena berhasil melaksanakan rekrutmen abdi negara yang transparan dan akuntabel. Sistem CAT ini ia yakini tak ada celah terjadinya kecurangan.

“ Tidak ada kecurangan karena dengan komputerisasi dan hasilnya real time,” kata dia.

Fauzi membulatkan tekadnya untuk mengabdikan diri kepada Indonesia dan membahagiakan kedua orang tuanya. Dengan menjadi CPNS, ia ingin ikut memperbaiki sistem komunikasi yang selama ini belum terintegrasi.

Ia memiliki cita-cita untuk mengembangkan teknologi informasi agar lebih berguna bagi masyarakat luas, terutama di daerah yang belum terjangkau.

“ Saya ingin sistem informasi itu terhubung hingga ke pelosok, jangan cuma di kota besar,” kata dia.

Beri Komentar
Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-