Aset Asuransi Umum Syariah Naik Jadi Rp5,9 T, Kontribusi Motor Kurang Ngegas

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 12 Maret 2020 18:24
Aset Asuransi Umum Syariah Naik Jadi Rp5,9 T, Kontribusi Motor Kurang Ngegas
Penjualan sepeda motor yang melambat telah menggerus tipis kontribusi atau premi asuransi syariah.

Dream - Asosiasi Asuransi Jiwa Syariah Indonesia (AASI) melaporkan kontribusi atau premi asuransi syariah sepanjang tahun 2019 mencapai Rp1,82 triliun. Perolehan tersebut melambat 1 persen dibandingkan tahun 2018.

“ Kontribusi bruto pada 2019 mengalami perlambatan 1 persen dari Rp1,84 triliun menjadi Rp1,82 triliun,” kata Ketua Umum AASI, Ahmad Sya’roni, di Jakarta, Kamis 12 Maret 2020.

Menurut Sya’roni, penurunan kontribusi asuransi umum syariah dipicu oleh perlambatan ekonomi dunia. Kondisi perekonomian global yang makin pelan telah mendorong pembelian sepeda motor menjadi turun. 

“ Khususnya, di kelas sepeda motor yang turun seiring dengan perlambatan di industri dan ekonomi, secara motor, (juga) turun,” kata dia.

Meski melambat, Sya’roni menegaskan kualitas bisnis dari sisi klaim di asuransi umum syariah justru mengalami perbaikan. Klaim asuransi umum syariah pada 2019 sebesar Rp726 miliar, turun 8 persen dari sebelumnya Rp785 miliar di tahun 2018.

“ Ada perbaikan kualitas. Jadi, trennya membaik,” kata dia.

Sepanjang 2019, AASI mencatat aset asuransi umum syariah naik 5 persen dari Rp5,62 triliun pada 2018 menjadi Rp5,9 triliun, investasi berkembang 7 persen dari Rp3,78 triliun ke Rp4,03 triliun, dan hasil investasi naik 24 persen dari Rp197 miliar ke Rp243 miliar.

“ Ini didominiasi oleh (hasil investasi) deposito yang hampir 50 persen dari portofolio investasi,” kata dia.

1 dari 5 halaman

Fitch Ratings: Asuransi Syariah Butuh Dukungan Pemerintah

Dream - Amandemen regulasi tentang kepemilikan asing yang berlaku pada 2020 akan mempermudah perusahaan asuransi untuk melepas unit syariahnya (spin off).

Menurut laporan Fitch Ratings “ Indonesia Takaful Dashboard 2020”, dalam aturan itu, perusahaan asuransi melepas unit syariah dengan batas kepemilikan asing sebesar 80 persen. Perusahaan asuransi tak wajib menambah modal agar rasionya bisa 80:20 itu melegakan bagi mereka. 

Fitch juga mempredikasi industri asuransi syariah akan mendapatkan manfaat dari Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024 yang diterbitkan pada 2019. Dukungan pemerintah bisa memperhalus aturan pemberlakuan International Financial Reporting Standards (IFRS) 17.

 

 © Dream


Standar pelaporan ini mengharuskan perusahaan asuransi menggunakan tingkat diskonto untuk menilai kewajiban. Bagi pebisnis asuransi, ini dianggap tidak perlu dan makan investasi yang besar.

Pertumbuhan premi asuransi syariah diprediksi naik 10 persen pada tahun ini. Meskipun demikian, penetrasi asuransi syariah dan bisnis syariah di Indoensia masih rendah.

Pada 2018, angkanya hanya 1,5 persen. Lebih rendah daripada rate di pasar negara berkembang lainnya. Kurangnya kesadaran dan pemahaman produk asuransi syariah menghambat perkembangan bisnis ini.

2 dari 5 halaman

Mengenal Akad Tabarru' dalam Asuransi Syariah

Dream - Asuransi syariah berbeda dengan konvensional. Pada asuransi konvensional, risiko sepenuhnya ditanggung nasabah. Pola ini tidak sesuai dengan syariat Islam karena yang menanggung risiko hanya salah satu pihak saja.

“ Karena itu, perusahaan asuransi syariah mengeluarkan konsep asuransi syariah, yaitu konsep asuransi yang didasarkan pada sharing of risk,” kata Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Aminuddin Yakub, di Jakarta, Rabu 27 Februari 2020.

Dia mengatakan, para peserta asuransi akan “ berbagi” dana hibah. Dana ini dinamakan dana tabarru. Tabarru merupakan akad hibah dalam pemberian dana dari satu peserta ke yang lain. Tujuannya pun tak bersifat komersial.

 

 © Dream

 

Di perusahaan asuransi syariah, peserta menghibahkan dana atau berdonasi dan disinilah ada unsur pahala. Para peserta memberikan kontribusi gotong-royong membantu peserta lainnya saat mengalami musibah.

“ Jadi, di perusahaan asuransi ada ibadahnya. Ibadah yang dimaksud adalah saling menolong. Inilah aspek yang ada di asuransi syariah. Itu sudah sesuai dengan syariah,” kata dia.

Laporan: Cindy Azari

3 dari 5 halaman

Masya Allah, Inilah yang Sangat Membedakan Asuransi Syariah dari Konvensional

Dream - Sahabat Dream pasti sudah mengenal atau setidaknya mendengar tentang asuransi. Atau jangan-jangan di antara kamu ada yang sudah memiliki polis asuransi?

Asuransi banyak diterjemahkan orang sebagai penolong di saat seseorang mendapat cobaan atau musibah. Kala tak memiliki uang untuk berobat atau mengalami kerugian, pihak asuransi biasanya akan menanggungnya. Tentunya besar maupun hal yang ditanggung tergantun polis yang dimiliki.

Kita mengenal ada dua jenis asuransi yaitu umum dan jiwa. Asuransi jiwa biasanya terdiri dari kesehatan, kematian, dan kecelakaan.

 

 © Dream

 

" Asuransi umum yang banyak (jenis). (Misalnya), asuransi properti, mobil travel, kapal, dan bencana," kata Chief Strategy Officer Prudential Indonesia, Paul Setio Kartono, dalam " Prudential Indonesia Masterclass 2020" di Jakarta, Jumat 21 Februari 2020.

Seiring perkembangan industri keuangan syariah yang semakin berkembang, saat ini masyarakat juga mulai banyak yang mengenal asuransi syariah. Kehadiran jenis asuransi ini membuta muncul istilah asuransi konvensional.

Selain prinsip tata kelola yang berbeda, sebenarnya ada satu hal yang sangat membedakan asuransi syariah dan konvensional.

Paul menjelaskan ada lima perbedaan yang mendasar dari asuransi konvensional dan syariah yaitu prinsip dasar, peran perusahaan, keuntungan, pengawas, dan investasi.

" Yang paling utama adalah yang pertama," kata dia.

Menurut Paul, perbedaan utama dan paling penting dari asuransi syariah adalah prinsip risk transfer atau pengalihan risiko peserta asuransi. Di asuransi konvensional, risiko dialihkan kepada perusahaan. Semakin banyak klaim peserta, perusahaan akan semakin rugi dan begitu juga sebaliknya.

Prinsip berbeda dan mulia dianut oleh asuransi syariah. Risiko peserta asuransi syariah  akan ditanggung peserta yang lain. Paul bahkan mengibaratakan asuransi syariah mirip dengan sumbangan.

“ Kalau asuransi syariah, risiko akan ditanggung peserta,” kata Paul.

Dalam asuransi syariah, para peserta akan bergotong-royong membantu jika ada salah salah satunya mengalami suatu risiko.

“ Misalnya, peserta ada 10 ribu. Nah, mereka bayar kontribusi Rp100 ribu untuk menyantuni anggota keluarga yang meninggal,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Perusahaan Asuransi Syariah Sebagai Pengelola Dana

Perbedaan selanjutnya adalah posisi perusahaan. Di asuransi konvensional, perusahaan sebagai penanggung risiko, sedangkan syariah menjadi manajer pengelola dana tabarru’. Untuk keuntungan? Keuntungan akan menjadi milik perusahaan.

“ Kalau di syariah, jadi surplus underwriting,” kata Paul.

Sekadar informasi, surplus underwriting adalah selisih dari total dana kontribusi peserta ke dalam dana tabarru’. Dana ini telah dikurangi pembayaran klaim/santunan.

Perbedaan selanjutnya adalah keberadaan dewan pengawas syariah di asuransi syariah, sedangkan di konvensional tidak.

Yang terakhir, dana yang diinvestasikan di perusahaan asuransi konvensional, akan ditempatkan di instrumen berbasis syariah dan non syariah. Sebaliknya di asuransi syariah, dana hanya ditempatkan di instrumen berbasis syariah.(Sah)

5 dari 5 halaman

7 Keuntungan Asuransi Syariah yang Wajib Kamu Tahu

Dream – Nama asuransi syariah mungkin belum sepopuler asuransi konvensional. Tapi, manfaat asuransi syariah ini tak kalah menguntungkan dengan asuransi konvensional.

Dikutip dari Cermati.com, Jumat 6 Juli 2018, ada tujuh manfaat yang bisa kamu peroleh dari asuransi syariah.

Yang pertama, asuransi syariah bisa dicairkan sebelum jatuh tempo. Asuransi konvensional memiliki aturan yang sangat ketat tentang pencairan premi. Asuransi konvensional hanya mencairkan premi saat jatuh tempo.

Sebaliknya, asuransi syariah bisa mencairkan premi kapan pun sesuai dengan kebutuhan tanpa potongan apa pun. Nasabah yang tidak sanggup melanjutkan pembayaran akan diberikan dua opsi: tarik premi atau melanjutkan, tapi membayar di kemudian hari.

 Ilustrasi© Shutterstock

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Kedua, dana tetap diproteksi meskipun telat membayar. Meskipun pembayaran premi asuransi menunggak, nasabah tetap mendapatkan proteksi penuh sama seperti nasabah lainnya, seperti kecelakaan.

Asuransi akan menutup sebagian biaya perawatan di rumah sakit meskipun nasabah tersebut menunggak. Uang yang dipakai pihak asuransi untuk membiayai kejadian ini, bisa dilunasi di kemudian hari jika nasabah mempunyai uang.

 Ilustrasi© Shutterstock

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Ketiga, polis dibebaskan dari kontribusi dasar. Kalau kondisi kesehatan nasabah sedang terganggu, misalnya mengidap penyakit parah atau kecelakaan, dia akan dibebaskan dari biaya kontribusi dasar. Selain itu, nasabah juga berhak mendapatkan biaya perawatan penuh selama proses penyembuhan tanpa harus ikut berkontribusi membayar biaya rumah sakit.

Kempat, sistem bagi untung yang tinggi. Dalam asuransi syariah, syariah, satu orang nasabah tak boleh dirugikan secara finansial. Saat premi sudah jatuh tempo, pihak asuransi akan membagikan pokok premi beserta imbal hasil sesuai dengan yang telah dijanjikan sebelumnya.

Agar nasabah tak salah paham tentang sistem bagi untung, petugas asuransi akan menjelaskan mekanisme bagi untuk secara detail untuk memastikan nasabah benar-benar paham sehingga tidak merasa dirugikan di kemudian hari.

Baca selengkapnya di sini. (ism)  

[crosslink_1]

Beri Komentar