Citayam Fashion Week, Cerita Sang Perintis

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 8 Agustus 2022 21:21
Citayam Fashion Week, Cerita Sang Perintis
Ialah orang pertama yang melintas di zebra cross Dukuh Atas.

Dream – Sore itu, Minggu 30 Juli 2022, kereta rel listrik (KRL) tujuan Stasiun Sudirman itu tidak terlalu sesak. Masih ada bangku kosong yang masih bisa diduduki. Hanya satu dua orang yang berdiri. Jarum jam menunjuk pukul 16.15 WIB.

Di dalam KRL dari arah Bekasi itu, beberapa anak muda tampak tampil modis. Mereka masih mengenakan masker dengan tertib, karena KRL memang mewajibkan setiap penumpang mengenakan masker. Sehingga wajah mereka tidak terlihat begitu jelas.

Di salah satu kursi, duduk dua pemuda.  Mereka  kompak mengenakan hoodie berwarna hitam. Semacam sweater bertutup kepala. Bukan merek terkenal. Salah satunya mengenakan celana jenas karet. Namun di bagian dengkulnya di potong sehingga terkesan robek besar. Memanjang hingga nyaris batas ujung celana.

KRL pun tiba di Stasiun Sudirman, Jakarta Selatan. Kedua pemuda itu pun segera turun bersama puluhan remaja yang petang ini mengenakan pakaian modis. Gaya fesyen jalanan atau street fashion.

Keluar dari Stasiun KRL Sudirman, masuklah daerah pedestrian. Ada terowongan yang menghubungkan pejalan kaki dengan stasiun KRL menuju Bandara Sorkarno Hatta di Stasiun BNI saat berbelok ke kiri. Berbelok ke kanan, sudah tiba di stasiun Mass Rapid Transportation (MRT) Dukuh Atas.

Saat hendak memasuki terowongan, dua remaja beda jenis di pojok kanan terowongan tengah bernyanyi. Mereka menggunakan gitar dan pengeras suara. Suaranya mengalun memasuki terowongan tempat orang lalu-lalang berjalan kaki. Benar-benar daerah pedestrian yang ramah pejalan kaki.

Di terowongan, gambar-gambar mural dengan warna menyolok tampak memenuhi dinding. Di sebelah kiri, ada beberapa bangku. Beberapa remaja dan orang tua nampak tengah menunggu giliran. Rupanya tempat itu juga menjadi tempat vaksinasi Covid-19.

Setelah lewat terowongan, jalan membelah dua. Ke kiri, ke Stasisun KRL BNI tujuan Bandara. Sementara ke kanan ke Stasiun MRT Dukuh Atas. Sore itu pengunjung sudah ramai. Ada yang hanya duduk-duduk di tepi jalan. Ada juga yang tengah menyemuti sebuah zebra cross atau tempat penyeberangan di samping Stasiun MRT Dukuh Atas.

Zebra cross atau tempat penyeberangan itu terdapat di Jalan Tanjung Karang, Dukuh Atas. Setelah dekat, orang sudah menyemut di sekitar zebra cross. Baik di sisi Stasiun MRT atau di seberangnya. Terlihat beberapa petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah mengatur lalu lintas.

Suasana Citayam Fashion Week© Istimewa

(Suasana Citayam Fashion Week di Dkuh Atas/Istimewa)

Mobil-mobil yang lewat tampak berjalan perlahan. Di seberang nampak beberapa orang berpakaian modis tengah menunggu untuk menyebrang. Setelah diizinkan Satpol PP yang menahan sebentar laju kendaraan, menyeberanglah mereka satu persatu dengan bergaya.

Inilah zebra cross yang pekan-pekan ini menarik perhatian seluruh rakyat Indonesia. Di tempat inilah, setiap sore, khususnya hari Sabtu dan Minggu, digelar “ Citayam Fashion Week.”

Tidak ada panitia khusus. Semua bisa bergaya. Berlenggak-lenggok di atas zebra cross selama diizinkan petugas Satpol PP yang berjaga.

***  

Salah satu rombongan remaja yang menyebrang berpenampilan unik. Mereka mengenakan kardus coklat bertulis Origin Sudirman, Citayam. Bojong Gede, Depok atau SCBD.

Di belakangnya, beberapa remaja bergaya modis berjalan penuh gaya.  Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya kibasan tangan petugas Satpol PP yang menyuruh mereka agar bergegas agar kendaraan bisa kembali melintas.

Salah satu model pria yang terlihat berlenggak-lenggok adalah Ale. Sore itu dia mengenakan baret, syal, kemeja cokrak biru, kaca mata hitam dan sepatu hitam mengkilat. Tak kalah dengan model-model pria terkenal apalagi tubuhnya juga cukup tinggi.

Ale saat di CFW© Istimewa

(Ale saat tampil di Citayam Fashion Week/Istimewa)

Ia belum lama ini diwawancara Dedy Corbuzier di Youtubenya yang hingga kemarin sudah ditonton 3,6 juta kali. Ia adalah salah satu ikon Citayam Fashion Week.

Saat ditemui Dream.co.id setelah menyebrang zebra cross dan tampil di pedestrian Stasiun MRT Dukuh Atas, Ale dengan ramah melayani obrolan dengan Dream.co.id.

“ Saya sendiri lahir dengan nama Abdul Sofi Al'lail di Jakarta Barat, 29 Juli 2003. Di Dukuh Atas, saya dikenal dengan nama Ale. Umur saya sekarang 19 tahun,” ujarnya.

Ia mengaku menyukai fesyen. “ Saya sudah nonkrong di Dukuh Atas sejak tahun 2019,” ujarnya.

Ale awalnya nongkrong di Stasiun KRL BNI yang jaraknya cuma 15 meter dari zebra cross Dukuh Atas. Halte KRL BNI ini menghubungkan KRL menuju Bandara.

Penampilan Ale di Citayam Fashion Week© Istimewa

(Ale saat bersantai di sela Citayam Fashion Week/Istimewa)

Ia mengaku saat itu tengah tengah asyik membuat konten untuk TikTok miliknya di akun @abdulsofiallail. Dulu pengikut akun TikTok dia masih sedikit. Namun setelah Citayam Fashion Week viral, pengikutnya sekarang sudah bertambah jadi 70 ribu pengikut.

“ Saat mulai nongkrong di sini saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan di daerah Jakarta Barat. Saya biasa datang pada hari Sabtu dan Minggu,” ujarnya.  

Karena kecintaannya pada fesyen, pada tahun 2020 dia mulai membuat konten TikTok untuk fesyen. “ Sayalah orang pertama yang mulai menyeberangi zebra cross Dukuh Atas dan menjadikannya sebagai catwalk,” akunya.

Menurutnya, seiring perkembangan waktu, setiap Sabtu dan Minggu kawasan itu  makin ramai. Banyak yang datang dari Jakarta. Tapi kebanyakan mereka yang datang dari Jakarta merupakan kelas menengah ke bawah. Ada juga yang datang dari pinggiran Jakarta macam Citayam, Bojonggede dan Depok.

“ Citayam Fashion Week baru viral di awal bulan Juli 2022,” tuturnya.

Anak-anak yang datang mulai berpakaian nyentrik dengan harapan diwawancara untuk dijadikan konten. Karena banyak konten kreator yang membuat konten di sana.

“ Termasuk juga dari aksi menyeberang zebra cross. Dulu cuma saya yang melakukan. Tapi belakangan mulai ramai yang meniru dengan harapan diwawancara pembuat konten,” jelasnya.

Akhirnya, dari konten TikTok, Dukuh Atas jadi viral dan disebut Citayam Fashion Week. “ Kami disebut sebagai anak SCBD, atau Sudirman, Citayam, Bojong Gede,” katanya. Singakatan SCBD berubah total, bukan lagi Sudirman Central District Business lagi.

Para pembuat konten memang mulai giat mewawancarai anak-anak yang nongkrong di situ untuk konten TikTok. Karena jawaban mereka polos dan lucu  akhirnya wawancara itu banyak yang jadi viral.

“ Aksi melewari zebra cross yang semula saya lakukan sendirian juga mulai diikuti banyak orang demi konten atau harapan diwawancara pembuat konten,” kenangnya.

Ia ingat, Citayam Fashion Week mulai viral di awal Juli 2022. Mulailah muncul ikon-ikon Citayam Fashion Week.

Antara lain Roy (asal Citayam), Bonge (asal Bojonggede), Jeje (Jakarta Selatan), Kurma, Tegar, Nadia dan banyak lagi lainnya. Jadinya mulailah ajang Citayam Fashion Week dengan mengubah zebra cros di Dukuh Atas sebagai catwalk.

Roy dan Jeje© Liputan6

(Roy dan Jeje/Liputan6)

Ale menuturkan, setamat SMK awal 2020 dia langsung bekerja. Pertama kerja di restoran selama tiga bulan. Lalu menjadi barista sebuah kafe selama enam bulan.  Lalu bekerja sebagai digital marketing di sebuah agency startup di Kelapa Gading tiga bulan terakhir.

“ Saya memutuskan berhenti pada akhir Juli 2022 ini karena bentrok dengan kegiatan saya di Citayam Fashion Week,” ucapnya.

Saat ditanya bagaimana dengan konsep Citayam Fashion Week an anak-anak SCBD? Ia menjawab: “ Menurut saya 11-12 atau mirip dengan street fashion Harajuku, Jepang.”

“ Kenapa? Karena sama-sama street fashion atau fesyen jalanan. Beda dengan Paris Fashion Week yang didominasi oleh brand-brand atau merek-merek terkenal. Kita memadupadankan merek-merek yang tidak terkenal. Jadi dengan bujet yang sedikit, kita sudah bisa bergaya. Dan tren Harajuku menurut saya tidak akan pernah mati,” ujarnya.

Harajuku adalah sebuah distrik di Tokyo. Seperti halnya Citayam Fashion Week, sreet fashion di Harajuku, Jepang, dimulai juga di Stasiun Harajuku. Pedestrian yang ramah pejalan kaki, membuat tempat itu jadi tempat nongkrong anak-anak muda dengan pakaian yang berbeda di Jepang.

“ Setelah Citayam Fashion Week viral, saya banyak mendapat tawaran job untuk tampil. Salah satunya di Kuningan dengan brand besar. Saya mendapat honor Rp 8 juta saat itu,” ujarnya.

“ Sementara tarif saya sendiri sekarang Rp 5 juta untuk empat jam kerja. Setiap hari saya paling bisa mengambil di dua lokasi dengan pagelaran berbeda. Kalau lebih tidak sanggup. Berkat Citayam Fashion Week pemasukan saya bulan Juli kemarin sudah lebih dari Rp 30 juta. Lumayan,” katanya ringan.

Sementara untuk polemik pendaftaran HAKI oleh Baim Wong, Ale mengaku belum bisa komentar. Karena Ale mengaku belum menerima cerita dari teman-temannya secara utuh. “ Saya takut menghakimi tanpa tahu duduk persoalannya. Makanya saya memilih untuk no comment saja,” ujarnya.

Saat ditanya harapannya soal Citayam Fashion Week, dia sendiri berharap  seperti Harajuku. Bisa bertahan terus dan mengedepankan street fashion.

Harapan serupa juga disampaikan Rizky Min-ho. Ia memang pengemar bintang film Korea Selatan, Le Min-ho. Wajahnya sedikit mirip. Tapi dia juga yang membuat Citayam Fashion Week sempat menjadi sorotan, ketika wawancaranya sebagai pria kemayu jadi viral dan dianggap menyebarkan faham Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau LGBT.

Rizki Min-ho di Citayam Fashion Week© Istimewa

(Rizki Min-ho di Citayam Fashion Week/Istimewa)

Kepada Dream.co.id yang menemuinya di Dukuh Atas, remaja 18 tahun dari Bekasi ini meminta maaf. “ Saya meminta maaf karena gara-gara saya Citayam Fashion Week jadi viral dan dianggap menyebarkan ajaran LGBT,” ujarnya.

Min-ho sendiri saat peragaan busana di Kuningan juga tampil dan disewa oleh brand lokal. Tapi tak seperti Ale, dia menolak menyebut honornya. “ Adalah. Pokoknya rahasia,” ujarnya tersepu-sipu.

Ia mengakui Ale adalah perintis Citayam Fashion Week. Dibandingkan Ale, dia sendiri baru datang ke Dukuh Atas pertengahan Juli ketika Citayam Fashion Week viral.

Ia sendiri berharap agar Citayam Fashion Week bisa berlangsung lama. Ia juga menyerukan kepada orang-orang yang hadir di Dukuh Atas untuk tertib. “ Terutama menjaga kebersihan,” ujarnya.

Ikon lainnya Bonge memang tak nampak hidungnya petang itu.  Namun Citayam Fashion Week membawa keberkahan tersendiri buat Bonge, pria asal Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Bersama anak-anak SCBD (atau yang dikenal dengan Sudirman-Citayam-Bojong Gede-Depok), Bonge berhasil mempopulerkan Citayam Fashion Week dan mencuri perhatian publik.

Tak sedikit uang yang didapatkan Bonge yang memiliki nama asli Eka Satria Saputra berkat fenomena itu, lantaran banyaknya endorsement yang masuk melalui akun media sosial Instagram miliknya. Setiap kali ada produk yang melakukan endorsement, pria 17 tahun itu mendapatkan uang sebesar Rp300 ribu.

Namun, kini Bonge harus menanggung utang lantaran akun Instagram miliknya hilang. Sebab, pihak yang melakukan endorsement meminta agar uang mereka kembali.

" Iya nih kak, Bonge lagi pusing. Banyak banget yang nagih uang ke Bonge. Kalau ceritain kayak gini, kepingin nangis bawaannya, enggak kuat banget. Bonge sedih," kata Bonge dikutip dari kanal YouTube CCTV, Senin 1 Agustus 2022.

Bonge dan Jeje© Liputan6

(Bonge dan Jeje/Liputan6)

Dijelaskan Bonge, bahwa belum sempat ia mem-posting barang endorsement yang masuk kepadanya, ternyata akun Instagramnya hilang. Hal itu membuat ia bingung lantaran ditagih pengembalian uang yang sudah masuk kepadanya.

" Jadi kemarin juga banyak endorse-an terus sama Bonge. Belum Bonge posting soalnya akun Instagram Bonge hilang," sambung Bonge.

Uang hasil endorsement, diungkapkan Bonge, sudah diberikan kepada orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, Bonge adalah tulang punggung keluarga yang harus memenuhi segala kebutuhan anggota keluarganya.

" Soalnya, duitnya sudah Bonge kasih ke mama buat beli beras sama uang sekolah adik. Bonge jadi tulang punggung keluarga," ujarnya.


***

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menanggapi fenomena viralnya remaja Citayam hingga Bojonggede dan Depok yang ramai 'nongkrong' di kawasan Sudirman. Bahkan muncul plesetan 'SCBD' menjadi Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok.

Anies bersyukur dengan adanya fenomena itu, sebab kawasan Sudirman menjadi ramai dikunjungi banyak orang untuk dinikmati keindahan dan suasananya. Dia menyebut itu salah satu hasil yang dulu sempat diinginkan banyak orang.

" Alhamdulilah sekarang kawasan itu menjadi kawasan di mana orang datang orang menikmati suasananya, menikmati gedung tingginya. Jadi ini sebuah hasil kerja yang kita dulu sempat bayangan," kata Anies di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu 10 Juli 2022 seperti dikutip Liputan6.

Anies saat melintas di zebra cross Dukuh Atas tempat Citayam Fashion Week digelar© Liputan6

(Anies saat melintas di zebra cross Dukuh Atas tempat Citayam Fashion Week digelar/Liputan6)

Kendati demikian, Anies meminta tak ada diskriminasi terkait gaya bocah Citayam tersebut. Dia mengatakan tidak ada hak atas gaya bagi kelompok tertentu di Sudirman, Jakarta.

" Dari banyak tempat dan jangan pernah kita menganggap ada hak atas gaya, ada ownership atas gaya bahwa yang berhak di jalan Sudirman itu hanya yang gayanya ABC, di luar gaya itu nggak boleh, nggak," lanjut dia.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini menyatakan siapa saja berhak datang ke Sudirman. Hanya saja, dia berpesan kepada siapa pun yang nongkrong di kawasan itu dapat menjaga kebersihan dan ketertiban.

" Ketiga hormati sesama pengguna jalan. Selebihnya ini adalah Indonesia," ujar Anies.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga ikut angkat bicara tentang fenomena Citayam Fashion Week. Ia merujuk pada keberadaan remaja-remaja berbusana nyentrik yang berkumpul di dekat Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, yang disebut dengan remaja SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok).

Presiden Jokowi© Dream

(Presiden Jokowi/Dream)

Jokowi menilai apa yang dilakukan remaja-remaja dalam kegiatan Citayam Fashion Week merupakan bentuk kreativitas yang positif dan harus didukung selama tidak melanggar aturan.

" Asalkan positif, saya kira nggak ada masalah. Jangan diramaikanlah. Hal-hal yang positif itu diberikan dukungan dan didorong asal tidak menabrak aturan. Itu kan kreatif, karya-karya seperti itu," ujar Presiden Jokowi usai menghadiri acara Peringatan Hari Anak Nasional di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 Juli 2022, seperti dilansir Liputan6.

Presiden justru mempertanyakan mengapa kreativitas para remaja tersebut harus dilarang. " Kenapa harus dilarang, asal tidak menabrak aturan, tidak melanggar aturan. Prinsipnya di situ," ujarnya.

Seperti halnya fesyen jalanan Harajuku, fesyen jalanan di Dukuh Atas, tumbuh memang karena tempat itu sunguh asyik sebagai kawasan pedestrian yang ramah pada pejalan kaki. Seperti Harajuku yang ramah pada pejalan kaki, Dukuh Atas pun kini menjelma menjadi tempat nongkrong yang asiyik bagi remaja berkantong tipis. Dan akhirnya memicu fesyen jalanan yang menjadi viral: Citayam Fashion Week. (eha)

Beri Komentar