Curhat Ironi Karyawan Facebook yang Tinggal di Garasi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 27 Juli 2017 12:31
Curhat Ironi Karyawan Facebook yang Tinggal di Garasi
Karyawan ini bekerja sebagai pegawai kafetaria di perusahaan teknologi ini.

Dream – Bos Facebook, Mark Zuckerberg bepergian ke seluruh wilayah Amerika Serikat untuk memenuhi target pribadinya, yaitu belajar tentang harapan dan tantangan yang dihadapi orang-orang.

Namun, ada seseorang yang berharap Zuckerberg mengunjungi kediamannya. Orang itu adalah Nicole, seorang karyawan kafetaria di Facebook. 

“ Apakah dia (Zuckerberg) akan datang ke sini?” kata Nicole, dilansir dari The Guardian, Kamis 27 Juli 2017.

Dia dan suaminya, Victor, tinggal di sebuah garasi yang muat dua mobil. Di “ hunian” sederhana, pasangan suami istri ini tinggal bersama tiga orang anaknya yang masing-masing berusia 9 tahun, 8 tahun, dan 4 tahun.

“ (Zuckerberg) Tak perlu berkeliling dunia. Dia seharusnya belajar apa yang terjadi di kota ini,” kata Nicole yang tinggal di beberapa blok dari kantor pusat Facebook di Palo Alto, Amerika Serikat.

Di garasi ini, keluarga kecil ini tinggal di dekat rumah orang tua Victor selama tiga tahun. Tiga ranjang menempel di tembok, meja dan sofa berada di depan ruangan sebagai ruang keluarga, serta pakaian tergantung di depan garasi. Untuk mandi dan memasak, mereka menumpang di rumah orangtua Victor.

“ Ini tidak mudah, terutama ketika hujan,” kata Victor.

Nicole menambahkan, sang anak kerap bertanya kapan mereka punya kamar sendiri. Pertanyaan itu tak kunjung dijawab karena Victor dan Nicole tak tahu harus menjawab apa.

Pasangan ini bergabung dengan 500 orang pekerja kafetaria di Facebook untuk membentuk serikat pekerja, Unite Here Local 19. Serikat pekerja ini berkumpul untuk mencari standar hidup yang lebih baik. Facebook dan perusahaan kontrak untuk kafetaria Facebook, Flagship Facility Services.

Di Facebook, Nicole mendapatkan upah US$19,85 (Rp264.303) per jam, sedangkan Victor US$17,85 (Rp237.673) per jam. Namun, pendapatan ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti makanan dan pakaian untuk anak-anak serta perawatan kesehatan.

Victor baru saja meminjam uang ibunya untuk mengadakan pesta ulang tahun salah satu putrinya dan meminjam uang teman untuk pergi ke dokter gigi.

Victor mengatakan, dulu upah yang diterima Nicole dan Victor nilainya sangat besar. Karena Facebook masuk ke Menlo Park, semuanya menjadi sangat mahal.

“ Kadang, saya harus sering mendapatkan pinjaman gaji. Kami hampir tidak berhasil,” kata dia.

Pria ini melanjutkan ceritanya. Sebelum Facebook pindah ke daerah tempat dia tinggal, ayahnya bisa membeli rumah kecil dari penghasilannya sebagai penata lahan.

Kemudian, Nicole dan Victor mendapatkan upah US$12 (Rp159.780) dan menjadi manajer di Chipotle. Mereka juga bisa membeli apartemen kecil.

“ Saya merasa lebih aman di pekerjaan saya yang lain. Anda tidak memiliki orang yang melihat Anda,” kata dia. (ism) 

1 dari 2 halaman

Jurang yang Besar di Kantor Facebook

Dream - Kini, pasangan suami istri ini bekerja di perusahaan Zuckerberg dan merasakan ada jarak yang besar dengan karyawan Facebook lainnya, misalnya memandang pekerja kafetaria seolah-olah lebih rendah.

Nicole mengatakan saat akhir shift, dia melihat banyak makanan sisa yang masuk ke kompos. Makanan sisa tak diizinkan untuk dibawa pulang.

Karyawan kafetaria juga tak bisa mengakses layanan kesehatan dan klinik medis Facebook. Tak hanya itu, pekerja kafetaria tak diperbolehkan membawa anak-anak mereka saat Facebook mengadakan acara “ Bring Your Kids to Work”.

2 dari 2 halaman

Facebook Angkat Bicara

Dream - Seorang juru bicara Facebook mengatakan tak ada pekerja kontrak perusahaan yang memiliki akses ke fasilitas ke klinik dan gym. Ini bukan masalah kebijakan antara pekerja kontrak dengan Facebook, melainkan pekerja kontrak dengan kontraktor.

" Kami berkomitmen untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman dan adil bagi semua orang yang membantu Facebook mendekatkan dunia ke seluruh dunia, termasuk kontraktor," kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan.

Seorang juru bicara Flagship mengatakan pihaknya " mengharapkan adanya hubungan positif dan produktif dengan serikat pekerja" . Perusahaan menolak berkomentar mengenai kebijakan para pekerja di kampus Facebook.

Victor mengatakan ada serikat pekerja kafetaria di Facebook ini karena mereka ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga dan kesejahteraan karyawan. Misalnya mengakses kesehatan dan membelikan pakaian anak-anak.

" Kami tidak meminta jutaan. Saya hanya ingin tidak takut apakah saya perlu ke dokter. Itulah alasan kami bersatu,” kata dia. (ism) 

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary