20 Ribu Ton Beras Bulog yang Terancam Busuk Bakal Dilelang

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 3 Desember 2019 12:36
20 Ribu Ton Beras Bulog yang Terancam Busuk Bakal Dilelang
Beras ini merupakan cadangan pemerintah yang dijadikan bantuan pangan non tunai.

Dream - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menyebut ada 20 ribu ton beras Bulog yang menurun kualitasnya atau terancam busuk. Tetapi Budi Waseso membantah beras itu tak layak makan.

“ Ini disposal, bukan berarti dibuang," ujar Budi di kantor pusat Bulog, Jakarta, Selasa 3 Desember 2019.

Menurutnya, 20 ribu ton beras itu merupakan cadangan beras pemerintah (CBN) yang akan dijadikan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada 2017.

Bulog selaku pemilik gudang kemudian mendistribusikan dan mengemas beras itu dengan berat masing-masing 5 kg ke wilayah tujuan BPNT. Tapi, program itu tidak berjalan dan akhirnya beras BPNT tidak tersalurkan.

" Kalau ditarik, cost-nya tinggi akhirnya kita diamkan," kata dia.

Kini, beras itu terlebih dahulu masuk laboratorium dan pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan selanjutnya diberi rekomendasi oleh Menteri Pertanian.

" Jadi itu nanti setelah dicek, layaknya apakah untuk dijadikan tepung, untuk pakan ayam atau yang kualitasnya paling rendah dijadikan etanol," kata dia.

1 dari 5 halaman

Proses Lelang Diawasi Secara Ketat

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu menjelaskan, proses lelang juga akan diawasi secara ketat dan ada perjanjiannya. Peruntukkan kualitas beras tersebut harus sesuai.

" Yang mau jadi tepung lelang. Harus jadi tepung ada perjanjian. Nanti akan dipilah, mana untuk pakan ayam, etanol," kata Budi Waseso.

Uang hasil lelang itu nantinya akan masuk ke Bulog dan dilaporkan ke pemerintahan. Bulog juga nantinya akan membuat rincian selisih harga beras pada saat membeli dan harga jual lelang. Harga selisih tersebut akan ditagihkan kepada pemerintah.

" Bulog nanti laporkan kepada negara bahwa 20 ribu ton itu lakunya sekian. Pembeliannya dulu sekian, maka selisih harganya yang dipintakan," kata dia.

2 dari 5 halaman

Bikin Toko Online Bahan Pangan, Dirut Bulog: Tak Ada Lagi yang Bisa `Bermain`

Dream - Dunia digital semakin banyak digunakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Yang terbaru dilakukan Perum Bulog dengan merilis toko online yang menjual beragam bahan pangan pokok bernama PangananDotCom.

Perusahaan pelat merah yang mengurusi stok bahan pangan nasional ini mengklaim pemakaian teknologi digital bisa mempermudah akses masyarakat. Lebih jauh, Perum Bulog yakin kehadiran online shop ini akan menutup celah para mafia pangan.

 

 © Dream

 

“ Ke depan, kalau sudah ada di seluruh Indonesia, nggak ada lagi yang bisa mempermainkan pangan. Mereka akan mati dengan sendirinya karena nggak ada peluang,” kata Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, di Jakarta, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 26 November 2019.

Budi menjamin masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pangan berkualitas dan akan menerima ganti rugi jika mendapatkan barang yang tidak sesuai dengan platform ini.

Saat ini, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang belum bisa menikmati beras premium, terutama keluarga penerima manfaat.

3 dari 5 halaman

Lakukan Ini Agar Distribusi Beras Transparan

Walaupun mendapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), keluarga penerima manfaat tetap kekurangan beras karena ulah mafia pangan. " Sebanyak 30 persen beras hilang karena adanya mafia ini, ini sudah dibuktikan oleh Satgas Mafia Pangan dan Kepolisian," kata dia.

Melalui platform ini, Bulog juga bakal menggandeng BPNT agar distribusi beras transparan sehingga mafia pangan tidak punya kesempatan mencuri beras.

Nantinya, penyaluran BPNT lewat PangananDotCom akan dimulai Januari hingga Maret 2020 di Jabodetabek, April hingga November 2020 di Pulau Jawa, dan Desember 2020 di seluruh Indonesia.

Sekadar informasi, PangananDotCom ini merupakan kolaborasi dengan Istorisend E Logistic Indonesia, Shopee, dan JNE.


(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

4 dari 5 halaman

Bulog Pastikan Daging Sapi dari Brazil, Halal!

Dream – Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, pemerintah membuka keran daging impor. Salah satu negara yang menjadi pemasok daging sapi ke Indonesia adalah Brazil.

Daging sapi dari Brazil akan masuk ke Indonesia sampai akhir tahun ini. Daging itu dipastikan berstatus halal dan aman untuk dikonsumsi.

Dikutip dari Merdeka, Senin 2 September 2019, Direktur Pengadaan Perum Bulog, Bachtiar, menyebut pemerintah sangat selektif memilih daging sapi yang akan masuk ke Indonesia. Baik dari segi kualitas, kesehatan, sampai kehalalan jadi pertimbangan.

“ Ada surat izin halalnyalah. Kami ada ketentuan mau masuk Indonesia, kan, ada surat dari itu, ada MUI yang mengeluarkan surat halal,” kata dia di Jakarta.

Selain itu, perusahaan yang akan memasok daging pun sudah pasti memiliki sertifikasi-sertifikasi tersebut. Sebab hal itu juga merupakan salah satu dari persyaratan yang diajukan oleh pihak Indonesia.

Daging sapi yang masuk dari Brasil akan dipastikan benar-benar aman dikonsumsi. Artinya terbebas dari penyakit.

" Kita mesti periksa semua melalui karantina, kalau itu tidak memenuhi syarat tidak akan mungkin kita ambil," kata Bachtiar.

5 dari 5 halaman

Menunggu Rekomendasi Pemasok Daging Sapi

Bachtiar mengatakan nama-nama pemasok daging sapi belum keluar. Perusahaan pelat merah ini masih menanti rekomendasi teknik dari Kementerian Pertanian.

Perusahan-perusahaan ini dipilih berdasarkan sistem lelang. Bachtiar memastikan tak ada praktik kecurangan dalam memilih perusahaan pemasok daging sapi impor tersebut.

" Belum. Karena saya menunggu rekontek dari Kementan," tutupnya.

Sebelumnya, pemerintah bakal membuka keran impor daging sapi sebesar 50 ribu ton dari Brasil hingga akhir tahun ini. Sekretaris Jenderal Kemendag Oke Nurwan mengatakan, tujuan impor daging sapi dari Brazil untuk membuat harga daging sapi dalam negeri menjadi lebih kompetitif.

Impor daging sapi akan dilaksanakan oleh tiga badan usaha milik negara (BUMN) yakni Perum Bulog sejumlah 30 ribu ton, PT Berdikari (Persero) 10 ribu ton, dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sejumlah 10 ribu ton.

Beri Komentar