Dollar AS Terus Menguat.
Dream – Penguatan dollar AS terhadap mata uang dunia masih terus berlanjut. Nilai tukar dollar AS di pasar spot seperti terekam Bloomberg tercatat sudah hampir mendekati level Rp15.200.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis 4 Oktober 2018, pada pukul 13.15, kurs dollar AS terhadap rupiah di pasar spot berada di level Rp15.187. Nilai tukar ini menguat 112,5 poin (0,75%) dari pembukaan.
Ketika perdagangan dibuka, dollar AS bertengger di level Rp15.120.

Dari awal tahun hingga hari ini, dollar AS menguat 12,04 persen.
Penguatan dollar juga tercatat di data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Dikutip dari laman bi.go.id, dollar AS berada di level Rp15.133.
Kurs rata-rata dollar AS itu melemah 45 poin dibandingkan kemarin yang untuk pertama kalinya menyentuh level Rp15.088.
Dikutip dari Liputan6.com, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, mengatakan sentimen eksternal mendorong pelemahan rupiah. Plus, JP Morgan mengatakan perang dagang Amerika Serikat—Tiongkok, akan berlangsung lama. Ini memicu kekhawatiran pasar. Pasokan valuta asing juga belum berimbang dengan permintaan.
“ Di pasar modal, masih terjadi outflow. Permintaan valas untuk minyak tinggi, tapi pasokan terbatas. Permintaan valas belum berimbang karena pasokan,” kata dia.
David mengatakan pelemahan rupiah masih bertahap dan bisa diantisipasi oleh pelaku usaha sektor riil. Tren pelemahan ini terjadi sejak 2012.
“ Pelemahan rupiah pelan-pelan. Tidak seperti Turki. Pelaku usaha juga tidak ingin penguatan dan pelemahan mata uang terlalu cepat,” kata dia.
David mengatakan rupiah masih tertekan hingga akhir tahun. Nilai tukarnya diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.000 hingga 2018.
Dia meminta Bank Indonesia (BI) dan pemerintah bisa merespons dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan BI. Bank sentral diperkirakan masih bisa menaikkan suku bunga acuan 25-75 basis poin (bps) sampai 2018. Hal ini dilakukan untuk menekan defisit transaksi berjalan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
“ Defisit transaksi berjalan harus turun karena tantangan tahun depan lebih berat. Kuartal III, defisit transaksi berjalan akan di bawah 3 persen,” kata dia.
David mengatakan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti perang dagang, kenaikan suku bunga The Fed, dan harga minyak dunia.
Pemerintah diharapkan bisa memberikan insentif. Tujuannya agar pengusaha bisa mengendapkan devisa hasil ekspor di Indonesia.
“ Dorong ekspor susah. Namun, dana ekspor diharapkan masuk dengan buat insentif menarik agar pengusaha konversikan ke rupiah,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Agustina Melani)