Duh! Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.981 Triliun

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 17 Juli 2020 19:14
Duh! Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.981 Triliun
Utang luar negeri Indonesia terus naik!

Dream - Utang luar negeri Indonesia hingga akhir Mei sebesar USD 404,7 miliar atau setara dengan Rp5.981 triliun (kurs 14.780/USD). Namun, Bang Indonesia mengklaim angka ini masih tetap terkendali dengan struktur yang sehat.

" Utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US$404,7 miliar pada akhir Mei 2020," kata Kepala Departemen Komunikasi, Bank Indonesia, Onny Widjanarko, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 17 Juli 2020.

Menurut Onny, dari jumlah tersebut, utang luar negeri sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, sebesar US$194,9 miliar. Sementara utang luar negeri swasta, termasuk BUMN, sebesar US$209, 9 miliar.

Untuk itu, utang luar negeri Indonesia tumbuh atau naik 4,8 persen (yoy). Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2020 sebesar 2,9 persen (yoy).

1 dari 3 halaman

Kondisi ini dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta. Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika juga berkontribusi pada peningkatan utang luar negeri berdenominasi Rupiah.

Rincian utang tersebut yaitu utang luar negeri pemerintah meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi utang luar negeri pemerintah pada akhir Mei 2020 tercatat sebesar US$192,1 miliar atau tumbuh 3,1 persen (yoy).

Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh arus modal masuk pada pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global dan tingginya daya tarik aset keuangan domestik. Termasuk terjaganya kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Sentimen positif ini membawa pengaruh pada turunnya tingkat imbal hasil SBN. Sehingga biaya utang Pemerintah dapat ditekan.

" Pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas yang saat ini dititikberatkan pada upaya penanganan wabah Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional," ujar Onny.

© Dream
2 dari 3 halaman

Sektor prioritas tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,4 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (16,3 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,6 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6 persen).

Sementara itu, utang luar negeri swasta meningkat didorong ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. Pada akhir bulan Mei 2020, utang luar negeri swasta tumbuh 6,6 persen. Lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yakni 4,4 persen.

" ULN swasta pada akhir Mei 2020 tumbuh sebesar 6,6 persen (yoy)," kata Onny.

ULN perusahaan bukan lembaga keuangan meningkat sebesar 8,9 persen (yoy), di tengah kontraksi ULN lembaga keuangan sebesar 0,8 persen (yoy). Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,3 persen dari total ULN swasta.

 

3 dari 3 halaman

Sektor-sektor tersebut yaitu jasa keuangan & asuransi, sektor pertambangan & penggalian, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), dan sektor industri pengolahan.

" Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya," kata Onny.

Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Mei 2020 sebesar 36,6 persen. Sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 36,2 persen.

Meskipun meningkat, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 89 persen dari total ULN. Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Onny menambahkan peran ULN juga terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan. Tentu saja dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

© Dream
Beri Komentar