Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
George Soros Memprediksi Krisis Keuangan Akan Kembali Terjadi. (Foto: Georgesoros.com)
Kali ini di Uni Eropa.
Dream – Saat Indonesia dilanda Krisis Moneter (Krismon) pada 1997 lalu, nama miliarder ini selalu disebut-sebut. Dialah miliarder legendaris, George Soros. Kini dia hadir lagi dengan prediksi mengejutkan.
Soros menyebutkan krisis keuangan berskala besar kemungkinan akan kembali terjadi, terutama di Uni Eropa.
Dilansir dari CNN, Kamis 31 Mei 2018, pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan tahunan Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri di Paris, Perancis. Soros berkata meningkatnya sentimen anti Uni Eropa, gangguan terhadap kesepakatan Iran, dan dolar AS yang menguat menjadi kabar buruk untuk ekonomi global.
“Kita mungkin menuju krisis keuangan besar lainnya,” kata dia.
Soros juga menyesalkan fakta bahwa sejak 2008, program penghematan Uni Eropa mengarahkan kepada krisis. Ini juga memunculkan gerakan anti Uni Eropa yang bertanggung jawab atas terjadinya Brexit dan kekacauan politik di Italia belakangan ini.
“Banyak orang muda yang menganggap Uni Eropa sebagai musuh yang telah merampas pekerjaan dan masa depan yang menjanjikan. Politisi populis juga mengeksploitasi kebencian serta membentuk partai-partai dan gerakan-gerakan anti-Eropa,” kata dia.
Soros megnatkaan keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mundur secara sepihak dari perjanjian senjata nuklir dengan Iran. Penghentian kesepakatan dengan Iran akan memiliki efek negative pada ekonomi Eropa.
Meskipun demikian, masih ada harapan bahwa krisis ekonomi di Uni Eropa bisa dihindari. Soros menyerukan Uni Eropa untuk membentuk organisasi yang bisa menarik minat negara-negara lain untuk bergabung.
(Sah)