Waspada! Beban Utang `Hantui` Hidup Anda

Reporter : Ramdania
Rabu, 24 September 2014 20:02
Waspada! Beban Utang `Hantui` Hidup Anda
Saat ini, sudah sesuatu yang lazim jika seseorang memiliki utang kepada bank atau lembaga pembiayaan lainnya. Namun, jika utang terlalu besar, maka kehidupan akan menjadi tidak tenang.

Dream - Terjadi perubahan dalam kehidupan saat ini. Orang-orang, terutama masyarakat di Dubai kini sudah tidak begitu khawatir dengan tindak kriminal karena adanya aparat yang melakukan penjagaan. Namun, kini mereka khawatir dengan besarnya cicilan utang yang mereka tanggung. Kekhawatiran ini pun mengarah kepada tindakan bunuh diri.

Dalam survei di Dubai seperti yang dikutip dari Gulf News, Rabu, 24 September 2014, disebutkan dari seluruh peminjam di bank dan lembaga pembiayaan, sebanyak 32,5% peminjam merupakan warga Dubai. Sisanya merupakan warga Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Seorang wanita India yang tinggal di Dubai pun akhirnya harus berjuang sendiri membayar utang kartu kredit, yang ditinggalkan suaminya karena suaminya tersebut bunuh diri.

" Dia pertama kali datang ke Dubai tahun 1956. Pada tahun 1998, dia mengajukan permohonan pinjaman untuk mengembangkan usahanya ke bank. Sayangnya uangnya telah habis untuk membayar biaya kartu kredit dan pinjaman pribadi," ujar perempuan ini.

Selain perempuan India ini, ada juga seorang warga Dubai yang mengaku depresi setelah kehilangan pekerjaannya. Padahal dia memiliki pinjaman untuk biaya kuliahnya dan pembelian mobil BMW.

Dia menjelaskan kepada pihak bank dengan kondisinya. Beruntung, sebagai warga negara Dubai, dia mendapatkan toleransi dengan penundaan pembayaran hingga dia mendapatkan pekerjaan kembali.

Ada juga pengalaman buruh seorang desainer grafis yang meminjam sekitar Dh 120 ribu untuk menutupi pengeluaran keluarga dan membiayai sekolah adiknya. Sayangnya, bukan kemudahan yang didapat justru kebuntuan dalam mengelola penerimaan yang diperolehnya.

Hal ini disebabkan potongan yang dilakukan terhadap gajinya tiap bulan terlalu besar sehingga dia justru tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kini, dia ingin pindah ke Australia. Namun, pinjaman yang belum lunas ini menghalangi langkahnya. Dia terjebak dan stres karena tidak memiliki solusi atas masalahnya tersebut. (Ism)

Beri Komentar