Hukum Menagih Utang dalam Islam, Boleh dan Tidaknya Tergantung Kondisi Orang yang Berutang

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Selasa, 18 Januari 2022 17:13
Hukum Menagih Utang dalam Islam, Boleh dan Tidaknya Tergantung Kondisi Orang yang Berutang
Hukum menagih utang bisa menjadi boleh dan bisa juga diharamkan.

Dream – Dalam kegiatan ekonomi, utang piutang menjadi hal yang sudah umum dilakukan oleh masyarakat. Bahkan dalam utang piutang ini terdapat nilai tolong-menolong kepada sesama. Di mana orang yang berutang biasanya memang sedang membutuhkan dana, sedangkan orang yang memberikan utang adalah pihak yang menolong dengan memberikan dana tersebut. Bahkan sikap ini sangat disukai dan dianjurkan dengan adanya pahala yang besar.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang bunyinya sebagai berikut:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2).

Dalam melakukan utang piutang ini, maka pihak yang berutang pun secara otomatis memiliki tanggung jawab untuk membayarnya. Tak jarang, dalam kehidupan di masyarakat praktik utang piutang juga sudah sekaligus ditentukan jatuh tempo pembayarannya. Sehingga ketika sudah jatuh tempo dan belum dibayar, maka pihak yang memberi utang pun akan menagihnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum menagih utang dalam Islam? Apalagi di sisi lain, kondisi finansial setiap orang berbeda-beda. Ada sebagian orang yang benar-benar kesulitan untuk bisa membayarnya.

Untuk mengetahui penjelasannya lebih lengkap terkait hukum menagih utang dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Prinsip-prinsip Utang

 

Prinsip-prinsip Utang© Pixabay.com 

Sebelum membahas tentang hukum menagih utang dalam Islam, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai apa saja prinsip-prinsip dalam utang. Telah dijelaskan dalam firman Allah SWT melalui surat Al-Baqarah ayat 282, bahwasanya ketika seseorang beriman memutuskan untuk berutang dengan jangka waktu tertentu, maka sebaiknya hal tersebut dicatat.

Melalui ayat tersebut menunjukkan bahwa berutang kepada orang lain adalah hal yang diperbolehkan, namun harus sesuai dengan prinsip yang ada. Berikut adalah prinsip-prinsip utang seperti dikutip dari Jurnal Bisnis, Vol. 4, No. 1, Tahun 2016 berjudul Esensi Utang dalam Konsep Ekonomi Islam oleh Abdul Aziz dan Ramdansyah:

Utang Adalah Alternatif Terakhir

Prinsip pertama dari utang adalah bahwa utang menjadi alternatif yang terakhir setelah sudah melakukan berbagai usaha untuk memperoleh dana namun tetap saja tidak didapatkan. Dalam hal ini terdapat unsur terpaksa, bukan karena kebiasaan. Di mana sahabat Dream sebelumnya sudah berusaha terlebih dahulu, namun kemudian usaha tersebut sudah menemui jalan buntu. Hingga akhirnya memutuskan berutang.

Jangan Berutang di Luar Kemampuan

Prinsip utang yang kedua adalah jangan berutang di luar kemampuan. Hal ini bisa memberikan dampak yang cukup besar berupa gharir rijal atau mudah untuk dikendalikan oleh orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah saw pun selalu berdoa agar dilindungi dari penyakit ghalabatid dayn yang bisa membuat harga diri hilang.

Ada Niat untuk Membayar

Ketika memutuskan untuk berutang, maka harus ada niat untuk mengembalikannya. Jika kondisinya sudah mampu tapi justru memperlambat pembayaran, maka hal ini disebut dengan zalim. Dengan begitu, bersikaplah komitmen akan tanggung jawab tersebut, yakni membayar utangnya.

2 dari 3 halaman

Hukum Menagih Utang dalam Islam

Hukum Menagih Utang dalam Islam© Pixabay.com

Penagihan utang biasanya terjadi ketika pembayaran utang tersebut sudah jatuh tempo dan belum kunjung dibayar oleh pihak yang berutang. Dikutip dari islam.nu.or.id, mayoritas ulama sudah sepakat bahwa memberikan batas pembayaran utang pada orang yang berutang bisa membuat akad utang menjadi tidak sah. Hal ini karena bertolak belakang dengan dasar disyariatkannya akad utang.

Berbeda lagi pendapat dari madzhab Maliki, di mana menentukan batas pembayaran utang adalah hal yang dianggap wajar dan hukumnya adalah sah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh berikut ini:

ولا يصح عند الجمهور اشتراط الأجل في القرض ويصح عند المالكية

Artinya: Tidak sah mensyaratkan batas waktu pembayaran dalam akad utang menurut mayoritas ulama dan pensyaratan tersebut tetap sah menurut madzhab malikiyah.”

Namun jika diketahui bahwa orang yang berutang tersebut dalam kondisi yang mampu dan memiliki harta untuk membayar utangnya, maka pihak yang memberikan utang pun memiliki hak untuk menagihnya. Sehingga dalam kondisi ini, hukum menagih utang dalam Islam diperbolehkan.

Akan berbeda jika pihak yang berutang dalam kondisi tidak mampu. Maka orang yang memberikan utang pun tidak diperbolehkan untuk menagihnya. Sehingga dalam kondisi ini, hukum menagih utang dalam Islam pun haram. Sebaiknya orang yang memberikan utang menunggu hingga orang yang berutang kondisinya sudah lapang dan mampu membayarnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah berikut ini:

آثار الاستدانة - حق المطالبة ، وحق الاستيفاء: وندب الإحسان في المطالبة ، ووجوب إنظار المدين المعسر إلى حين الميسرة بالاتفاق 

Artinya: Dampak-dampak dari adanya utang adalah adanya hak menagih utang dan hak membayar utang. Dan disunahkan bersikap baik dalam menagih utang serta wajib menunggu orang yang dalam keadaan tidak mampu membayar sampai ketika ia mampu membayar utangnya, menurut kesepakatan para ulama."

 

3 dari 3 halaman

Hukum Menagih Utang dalam Islam

 

Bahkan Allah SWT juga menerangkan dalam Al-Quran tentang dilarangnya menagih utang pada orang yang kondisinya tidak mampu. Yakni ada dalam surat Al-Baqarah ayat 280 berikut ini:

 

وَاِنْكَانَذُوْعُسْرَةٍفَنَظِرَةٌاِلٰىمَيْسَرَةٍۗوَاَنْتَصَدَّقُوْاخَيْرٌلَّكُمْاِنْكُنْتُمْتَعْلَمُوْنَ

 

Artinya: “ Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280).

 

Itulah penjelasan terkait hukum menagih utang dalam Islam. Di mana Islam memperbolehkan untuk menagih utang jika kondisi dari pihak yang berutang sudah mampu dan memiliki harta untuk membayarnya. Sedangkan hukum menagih utang dalam Islam menjadi haram jika kondisi orang yang berutang diketahui sedang tidak mampu.

 

Beri Komentar