Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Program KB (posyandu.org)
Dream - Pelaku industri keuangan syariah diimbau tak malu mencontek kesuksesan program Keluarga Berencana (KB). Program ini dianggap berhasil menarik massa mendobrak pola pikir masyarakat.
Sebagai model bisnis yang relatif baru berkembang, pelaku industri keuangan syariah memang dituntut kreatif dalam menembus pasar Indonesia.
" Kita perlu mengambil contoh kesuksesan program Keluarga Bencana. Ada, supply, demand dan influencer. Ini model yang dipakai dalam keuangan inklusif," kata Direktur Karim Business Consulting, Adirwarman A Karim seperti dikutip Dream.co.id, Senin, 10 November 2014.
Adiwarman menjelaskan, program KB pada awalnya mendapat banyak tentangan dari para ulama. Padahal, masyarakat pedesaan umumnya lebih mempercayai perkataan ulama dibandingkan pemerintah.
Kondisi tak jauh berbeda dialami industri keuangan syariah saat ini. Kesadaran masyarakat akan produk keuangan halal masih rendah dikarenakan minimnya sosialisasi dari para ulama dan pondok pesantren.
" Kalau Anda bisa mendekati ulama, program ini mungkin bisa berhasil," katanya.
Pada bagian lain, Adiwarman menjelaskan, tipe pasar syariah Indonesia terbagi kedalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah masyarakat apatis di mana faktor murah menjadi kunci utamanya.
Untuk mendekati tipe pasar ini, lembaga keuangan syariah harus menyediakan beragam produk serba murah. " Misalnya bunga yang lebih murah. Kalau tidak, dia tak mau masuk," katanya
Tipe kedua adalah pasar yang rasionalis dan universalis. Bagi kalangan ini, keunggulan fitur produk menjadi pertimbangan utama. Sedangkan aspek universalitas dilihat dari segi fairness.
Terakhir dalah masyarakat kompromis yang hanya mementingkan produk syariah. " Lembaga keuangn tak perlu sibuk menjual produknya kepada kelompok ini. Tak usah dijual, pasti mereka mau masuk," kata Adiwarman.
Ditambahkannya, tantangan pengembangan sistem keuangan inklusif bagi industri syariah sebenarnya terletak pada upaya mengajak pasar kompromis untuk bisa masuk. Metode pelabelan halal sebetulnya cara mudah memancing kalangan investor ini.
" Bagi saya, letak keseksian ekonomi syariah terletak pada aspek duniawi, akses availibility, dan product fitur," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya