Miskin (3): Jatuh Bangun Anak Pembantu Lulusan Terbaik UNS

Reporter : Ramdania
Rabu, 12 Agustus 2015 18:08
Miskin (3): Jatuh Bangun Anak Pembantu Lulusan Terbaik UNS
Nyaris menjadi TKW di Jepang. Hidup pas-pasan saat kuliah tak menghalanginya memperoleh nilai IPK 3,99. Inilah kisah haru anak pembantu rumah tangga itu.

Dream - Namanya sempat menghebohkan dunia maya. Kelulusannya dari Fakultas Hukum sebuah universitas tersohor dengan nilai nyaris sempurna, 3,99, menjadi perbincangan hangat para netizen Tanah Air.

Setelah nyaris putus asa berusaha menghubunginya melalui whatsapp dan SMS, Dream akhirnya berhasil mewawancarai alumnus terbaik itu.  Setelah lulus, sekarang memang waktunya kian sibuk saja. Tak ada maksud lain. Apalagi bersikap sombong.

Devi Triasari, nama alumnus itu, kini memang tengah sibuk mengepakkan sayapnya ke luar negeri. Anak dari ayah seorang buruh tani dan ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu tengah berancang-ancang melanjutkan pendidikannya ke jenjang strata dua (S2) di Australia.

Usai menoreh prestasi sebagai wisudawan terbaik Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dari Fakultas Hukum dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 pada Juni 2015 lalu, Devi fokus meneruskan pendidikannya. Dia pun berburu beasiswa demi mewujudkan mimpinya itu. Ada beberapa pihak yang telah menyatakan kesediaannya membiayai pendidikan gadis cerdas itu, baik dalam maupun luar negeri. Namun, beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang prosedurnya hampir selesai.

" Rencana ke Australia. Yang sudah lulus itu di Monash University. Tinggal menunggu penyelesaian prosedur LPDP, Kemenkeu," ujarnya kepada Dream, Selasa, 11 Agustus 2015.

Di Monash University, Devi mengambil jurusan commercial law atau hukum bisnis. Selain karena dirinya tertarik pada bidang tersebut, menurutnya, hukum bisnis memiliki standar internasional sehingga memiliki aturan yang sama, baik di Indonesia maupun di negara lain.

" Kalau hukum positif di Indonesia mengacu ke Eropa, sementara hukum bisnis berlaku umum," jelasnya.

Kepada Dream, dia tak sungkan menceritakan kisah hidupnya. Menjadi alumnus terbaik universitas terkenal meski ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

***

Posisi Devi sekarang ini... 

1 dari 2 halaman

Berjuang demi Angkat Derajat Keluarga

Berjuang demi Angkat Derajat Keluarga © Dream

Berjuang demi Angkat Derajat Keluarga

Posisi Devi sekarang ini diperoleh bukan tanpa usaha. Dia harus berjuang mati-matian untuk meraih mimpinya mendapatkan pendidikan tinggi demi mengangkat derajat kedua orang tuanya.

" Saya ingin membuat orangtua bahagia. Ridha Allah itu ridha orangtua," tutur Devi.

Ya, niat Devi berkuliah memang untuk mengangkat derajat orangtua. Sebab, selama ini dia merasa nasib keluarga tak pernah berubah karena pendidikan rendah. Sang ayah hanya buruh tani. Ibunda hanya pembantu rumah tangga. " Kami harus berubah," kata dia.

Devi sadar, salah satu cara mengerek derajat keluarga adalah melalui pendidikan. Meski untuk menempuh jalan itu dia sadari memerlukan banyak pengorbanan. Sehingga, meski ekonomi keluarga terbatas, dia tetap sekuat tenaga untuk kuliah. Meski untuk itu dia rela hanya makan nasi dan sayur saja. Tanpa lauk.

Semangat bersekolah nyaris saja buyar setelah Devi lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Hatinya tergiur untuk kaya dengan cara cepat. Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Jepang. " Saya mikirnya jadi TKW, pulang dua tahun bisa beli tanah, sawah, dan bisa membangun rumah kami yang sudah hampir roboh," ujar gadis asal Ngawi, Jawa Timur, ini.

Tak sekadar keinginan. Devi sudah daftar untuk jadi TKW ke Negeri Matahari Terbit itu. Dia bahkan sudah kursus bahasa Jepang. Namun takdir kemudian berbelok. Merasa tak punya dana, dia akhirnya melamar kerja. Diterimalah gadis kelahiran 19 Desember 1991 ini oleh perusahaan kontraktor di Magetan.

Dari hasil kerja itu, Devi bisa membantu keluarga. Meski terbatas. Hasil keringat Devi bisa membelikan kaca untuk jendela. Rumah yang nyaris roboh bisa dibenahi. Termasuk melapisi lantai tanah dengan plester semen.

" Tapi akhirnya saya mikir, kalau seperti ini nggak berubah-ubah, belum bisa bahagia."

Saat itulah keinginan meneruskan kuliah kembali tumbuh. Di sela kesibukan kerja, dia sempatkan membuka kembali buku-buku pelajaran. Mempersiapkan diri untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi. " Saya kerja hari Senin sampai Sabtu. Akhirnya sering ke warnet untuk mencari info beasiswa. Pulang malam, pagi kerja lagi. Hari Minggu ikut bimbingan belajar," tutur Devi.

Keuletan mencari informasi di warung internet akhirnya terbayar. Dia diterima dalam program beasiswa yang berafiliasi dengan produk rokok. Namun, setelah menimbang, dia tolak tawaran itu. Devi memilih ikut ujian masuk perguruan tinggi.

Berangkatlah Devi ke Solo, Jawa Tengah. Bersama seorang kawan. Kampus UNS menjadi tujuan. Namun, karena tak punya sanak saudara di sana, Devi dan sang kawan bingung. Mau menginap di mana. Lagi pula, itu kali pertama mereka pergi ke Solo. " Kami berniat tidur di musala, tapi diusir oleh ibu-ibu," kenang dia.

Akhirnya, keduanya terus mencari tempat kos untuk dua hari. Untuk menginap selama mengikuti ujian. " Ketemulah sama ibu baik hati. Ibu itu bilang kamar sudah habis, namun ada gudang. Itu bekas kamar anaknya, namun sudah dijadikan gudang. Kondisinya kotor, hanya dikasih tikar dan lampu saja."

Daripada tidak ada tempat menginap, tawaran itu diterima. " Posisi kamar itu berada di bawah tangga, sehingga kalau salat kepala terbentur. Ya nggak apa-apa, karena adanya itu. Dua hari kami bayar Rp 15 ribu," tambah Devi.

Doa dan upaya Devi terjawab. Dia diterima di Fakultas Hukum UNS. Namun, kebingungan kembali merubung. Dari mana dia dapat duit untuk biaya kuliah. Akhirnya, beasiswa Bidikmisi pun dia dapat. " Ditambah modal nekat saya."

Benar saja. Saat kuliah dia harus pontang-panting menambal kebutuhan. Tapi karena tekad sudah membaja, segala upaya dia lakoni. Jadilah Devi guru les. Jualan pulsa pun dia jalani. Dan juga menjadi asisten dosen.

" Dari situ, malah saya masih bisa membantu orangtua. Saya kirim uang ke rumah walau hanya Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu," katanya.

Selama kuliah, tak sekalipun Devi dijenguk orangtua. Tiga setengah tahun itu, benar-benar dia lewatkan untuk belajar mandiri. Orang tuanya baru datang tanggal 13 Juni 2015  melihat putrinya di kampus. Dan itu hari wisuda. Pengukuhan sarjana sekaligus predikat lulusan terbaik.

" Saya ingin menunjukkan kepada bapak dan ibu, inilah kampus saya. Saya tahu mereka orang desa, mungkin seumur hidup, itu baru pertama mereka menginjak kampus," ujar dia.

" Saya ingin membahagiakan mereka. Mengangkat derajat bapak dan ibu saya," tambah Devi. 

***

Kini, Devi tengah berjuang... 

2 dari 2 halaman

Obsesi Tempuh Pendidikan di Luar Negeri

Obsesi Tempuh Pendidikan di Luar Negeri © Dream

Obsesi Tempuh Pendidikan di Luar Negeri

Kini, Devi tengah berjuang membangun masa depannya. Dia memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri ketimbang bekerja. Devi mengaku pilihannya ini telah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.

" Mereka mengizinkan keluar, tidak masalah. Kan hanya 1 tahun S2-nya, daripada kehilangan kesempatan," ungkapnya.

Devi berharap dengan tingginya jenjang pendidikan yang dia capai, bisa memberikannya pekerjaan yang jauh lebih baik sehingga bisa membahagiakan kedua orang tua di masa tuanya. 

" Setalah lulus ini saya mau kerja. Setelah bekerja tentunya membahagiakan orang tua, bangun rumah dan sebagainya. Biar mereka tidak perlu bekerja lagi. Apalagi bapak sakit jadi sudah tidak kerja, hanya ibu yang masih bekerja di rumah orang," ungkapnya.

Devi pun mengungkapkan adanya tawaran mengajar dari kampusnya dulu, UNS, setelah dirinya menyelesaikan studi S2. " Dari kampus disuruh jadi dosen, belum pasti tapi ada permintaan untuk mengajar di sana," ujarnya.

Demi meraih cita-citanya dan membahagiakan kedua orang tuanya, Devi pun rela mengubur keinginannya berumah tangga untuk saat ini.

" Rencana menikah belum ada, yang penting membahagiakan orang tua dulu. Sekarang kan hukumnya wajib," tuturnya.

Kisah jatuh bangun Devi mengejar mimpinya meraih pendidikan tinggi barangkali bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, terutama bagi mereka yang berada ada hampir sama dengan kondisi Devi saat ini. Meski hidup berkekurangan, tetapi pendidikan tetap yang utama. Karena begitu ada kemauan, di situ pun ada jalan.

" Jangan pernah berhenti berusaha dan bermimpi. Kalau kita punya usaha dan doa pasti bisa tercapai... Yang terpenting kita selalu punya pikiran positif," pesannya menutup percakapan. (eh)

Beri Komentar