Kartu Kredit Syariah VS Konvensional, Mana Lebih Untung?

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 9 April 2019 12:36
Kartu Kredit Syariah VS Konvensional, Mana Lebih Untung?
Yang pasti hati lebih tenang karena dijamin sesuai prinsip syariah. Apa keuntungan lainnya?

Dream - Tren belanja masyarakat perlahan-lahan mulai berubah. Tengok saja di berbagai gerai mal maupun supermarket. Alih-alih pakai uang tunai, kini banyak konsumen yang menyerahkan kartu ke petugas kasir. Cukup sekali gesek di mesin EDC, barang impian sudah bisa dibawa pulang.

Era cashless memang sedang melanda Indonesia. Berbagai transaksi, offline maupun online, kini bisa dilakukan hanya dengan gesekan kartu.

Selama ini masyarakat mengenal dua jenis kartu transaksi yaitu debet dan kartu kredit. Mengutip data Bank Indonesia per Februari 2019, jumlah peredaran Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMG) untuk jenis kartu kredit sebanyak 17.153.940 dan kartu ATM sekaligus Debet mencapai 154.861.589.

Berkembang ekosistem halal lifestyle turut mewarnai cara masyarakat bertransaksi. Semakin banyak orang beralih ke produk keuangan syariah. Alasan utamanya adalah ketenangan batin.

Geliat gaya hidup Islami ini turut melahirkan produk keuangan baru. Salah satu yang tengah berkembang adalah kartu kredit syariah.

Kartu kredit kini memang jadi alat pembayaran praktis. Dengan pengelolaan keuangan yang terencana, pemegang kartu kredit bisa membeli barang atau jasa tanpa perlu membawa uang tunai.

Hanya dilihat dari namanya, kartu kredit ini tentunya menerapkan metode transaksi sesuai prinsip syariah. Namun bagaimana dengan praktiknya? Apa perbedaannya dari kartu kredit konvensional?

Mengutip laman Bank Indonesia, berikut adalah karakteristik kartu kredit syariah yang bisa membuat nasabah tenang:

1. Skema perjanjian

Kartu kredit syariah yang saat ini ada didukung oleh tiga jenis skema perjanjian yang menjadi dasar kesyariahannya. Tiga jenis perjanjian itu adalah penjaminan atas transaksi dengan merchant (kafalah), pinjaman dana atas fasilitas penarikan uang tunai (Qardh), dan sewa atas jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu (ijarah).

Dengan skema yang dipilihnya, bank syariah penerbit kartu mengenakan fee kepada pemegang kartu.

2. Penetapan fee (biaya) tersebut?

Untuk fasilitas transaksi dengan merchant, besarnya fee didasarkan pada nilai transaksi sehingga bersifat fluktuatif. Meskipun komponen fee banyak, namun dari sisi nominal, fee yang dikenakan oleh Kartu kredit syariah lebih rendah dibandingkan suku bunga yang dikenakan kartu kredit konvensional.

Alhasil, pengguna Kartu kredit syariah dapat menikmati keuntungan dari lebih rendahnya fee tersebut dibandingkan dengan kartu kredit lain.

3. Apakah ada denda tunggakan tagihan?

Tentu saja. Denda memang dikenakan untuk mendidik kedisiplinan pemegang kartu. Perbedaannya, penerimaan denda ini tidak dipakai untuk keuntungan bank syariah. Dana yang terkumpul juga tidak dimasukkan ke dalam pendapatan bank syariah.

Bank syariah akan menyalurkan seluruh penerimaan denda ke sektor-sektor sosial.

Model transaksi menggunakan kartu kredit syariah ini bisa ditengok dari produk terbaru CIMB Niaga Syariah, Syariah Platinum Card.

CIMB Niaga Syariah© Dream

Kartu kredit syariah ini telah menerapkan seluruh prinsip Islami dalam setiap transaksinya. Berbeda dari produk lain, Syariah Platinum Card ini menjadi satu –satunya kartu kredit yang mengusup konsep cashback card. (baca selengkapnya di sini)

Fasilitas cash back ini menempel pada kartu sebagai fiturnya. Bukan berupa program dengan periode tertentu.

Nah, Sahabat Dream yang penasaran atau ingin hijrah bertransaksi menggunakan kartu kredit syariah, ajukan pertanyaan kamu di sini. Lima orang penanya terbaik akan mendapatkan hadiah dengan total nilai Rp1,25 juta dari CIMB NiagaSyariah.

 

Beri Komentar