Laba Bersih Melesat 111%, Aset Mandiri Syariah Tembus Rp100 Triliun

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 8 Agustus 2019 19:24
Laba Bersih Melesat 111%, Aset Mandiri Syariah Tembus Rp100 Triliun
Aset Mandiri Syariah merupakan yang terbesar di antara bank syariah di Indonesia.

Dream - PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) mencatat kinerja mengesankan di paruh pertama 2019. Laba bersih anak usaha PT Bank Mandiri Tbk ini meroket 111,08 persen menjadi Rp551 miliar. 

Pada periode yang sama setahun lalu, Syariah Mandiri membukukan keuntungan sebesar Rp261 miliar.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 8 Agustus 2019, Direktur Utama Mandiri Syariah, Toni E. B. Subari, mengatakan kenaikan laba tersebut didapat dari pendapatan bank, efisiensi, dan kualitas pembiayaan yang terjaga.

Pendapatan bersih Syariah Mandiri pada kuartal II-2019 dilaporkan mencapai Rp3,25 triliun, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,87 triliun. Sementara penyaluran pembiayaan perusahaan tumbuh 14,58 persen menjadi Rp71,47 triliun.

Peningkatan pembiayaan tersebut membuat pendapatan margin dan bagi hasil bank turut meningkat.

Kontribusi terbesar bisnis pembiayaan Syariah Mandiri berasal dari segmen konsumer yang mencatatkan pertumbuhan 26,12 persen (yoy) menjadi Rp30,01 triliun.

Saat ini, Mandiri Syariah memang tengah gencar mensosialisasikan produk pembiayaan kepemilikan rumah (Griya Berkah), mobil (Kendaraan Berkah), Cicil Emas, Gadai Emas dan juga pembiayaan untuk usaha, pegawai dan pensiun.

Pertumbuhan pembiayaan juga disertai perbaikan kualitas yang tercermin dari NPF Nett yang turun menjadi 1,21 persen dari semula 2,75 persen. Sementara, NPF Gross turun dari 3,97 persen menjadi 2,89 persen.

 

1 dari 2 halaman

Aset Tumbuh karena Dana Murah

Prestasi juga ditorehkan Mandiri Syariah dalam hal pengelolaan aset. Hingga akhir Juni 2019, aset perusahaan telah menembus angka lebih dari Rp100 triliun. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi bank syariah di Indonesia.

Direktur Finance, Strategy and Treasury Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho, mengatakan pertumbuhan aset Mandiri Syariah dipengaruhi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) khususnya Tabungan yang bisa secara konsisten tumbuh sebesar 14,45 persen secara yoy menjadi sebesar Rp36,33 triliun.

Hal ini juga berdampak terhadap perbaikan komposisi Low Cost Fund menjadi 54,28 persen dibandingkan total DPK.

Naiknya pendapatan Margin Bagi Hasil, Fee Based Income (FBI), pengendalian biaya overhead serta perbaikan kualitas pembiayaan juga memberikan kontribusi pada peningkatan laba Perusahaan.

" Insya Allah, kami akan senantiasa berinovasi untuk memberikan kemudahan transaksi bagi semua kebutuhan nasabah," tambah Toni.

2 dari 2 halaman

Digital Banking Jadi Fokus Perhatian

Sementara itu Toni menjelaskan Mandiri Syariah sejak dua tahun terakhir berusaha fokus pada pengembangan digital banking terutama perluasan fitur layanan Mandiri Syariah Mobile.

‘’Kami mendesain aplikasi Mandiri Syariah Mobile bukan sekadar layanan perbankan tapi juga memenuhi kebutuhan ibadah umat Islam," kata dia di Jakarta.

Fitur-fiturnya seperti waktu shalat, lokasi masjid terdekat, arah kiblat serta fitur pembayaran zakat, sedekah dan wakaf. Fitur tersebut, kata Toni, sangat khas bank syariah.

Perluasan fitur digital berdampak pada peningkatan pendapatan berbasis fee (Fee Based Income/FBI) yang naik 26,20 persen dari Rp514 miliar per Triwulan II 2018 menjadi Rp649 miliar triwulan II 2019.

Peningkatan FBI tersebut didorong meningkatnya transaksi di e-channel termasuk melalui Mandiri Syariah Mobile. Anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (Persero) terus meningkatkan fitur biller, payment, serta menjalin kolaborasi dengan e-commerce untuk memudahkan nasabah bertransaksi melalui Mandiri Syariah Mobile.(Sah)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam