Lippo Jual Dua Mal, Raup Rp1,28 Triliun

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 9 Januari 2020 11:41
Lippo Jual Dua Mal, Raup Rp1,28 Triliun
Dua pusat perbelanjaan itu kini dimiliki NWP Retail.

Dream - Pejaten Village dan Binjai Supermall tak lagi berada di bawah pengelolaan PT Lippo Karawaci Tbk, perusahaan retail milik Lippo Group. Dua pusat perbelanjaan tersebut dijual Lippo Mall Indonesia Trust (LMIRT), anak usaha Lippo Karawaci kepada NWP Retail.

Penjualan tersebut ditandai dengan perjanjian jual beli LMIRT dengan NWP Retail yang merupakan perusahaan kerja sama Warburg Pincus dengan PT City Retail Developments. Dari penjualan ini, Lippo meraup dana segar mencapai Rp1,28 triliun.

Chief Executive Officer manager REIT, James Liew, mengatakan penjualan ini merupakan perubahan strategi ke arah pengelolaan portofolio secara aktif. Selain itu, menunjukkan kinerja REIT yang mampu merealisasikan divestasi dengan nilai valuasi yang menarik.

" Melangkah ke depan, kami akan terus mengoptimalkan portofolio kami untuk mengoptimalkan nilai pemegang saham," ujar James, lewat keterangan tertulis, Kamis 9 Januari 2020.

Pejaten Village terjual senilai Rp997,4 miliar, sedangkan Binjai Supermall laku dengan harga Rp283,3 miliar. Harga tersebut masing-masing lebih tinggi 33,3 persen dan 19,3 persen dari saat diakuisisi pada 2012 yaitu Rp748 miliar dan Rp237,5 miliar.

 

1 dari 5 halaman

Perkuat Valuasi

" Transaksi ini menunjukkan kualitas portofolio kami serta memperkuat valuasi harga unit kami," kata James.

Tak hanya itu, nilai penjualan tersebut sudah termasuk diskon masing-masing sebesar 4,1 persen dan 8.3 persen dari nilai valuasi terbaru sebesar Rp1,04 triliun dan Rp309 miliar. " Diskon tersebut secara signifikan lebih tinggi daripada diskon tersirat NAV REIT saat ini ketika diperdagangkan," lanjur James.

CEO Lippo Karawaci, John Riady, mengatakan mal ritel tetap akan menjadi bagian dari bisnis inti perseroan. Pihaknya akan terus mengelola aset untuk meningkatkan valuasi.

" Dengan strategi pengelolaan portofolio secara aktif, REIT berada pada posisi yang lebih baik untuk menutup kesenjangan valuasinya dengan menjual asetnya yang memiliki harga pasar yang menarik," ucap John.

2 dari 5 halaman

Tak Setuju Bakar Uang, Lippo Jual Sebagian Saham OVO

Dream - Lippo Group mengurangi kepemilikan sahamnya di perusahaan pengelola dompet digital Ovo. Perusahaan bisnis milik miliarder Mochtar Roady itu menilai kebijakan bakar uang yang terus dilakukan Ovo tak sejalan dengan Lippo.

“ Terus bakar uang, bagaimana kita kuat?” kata pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, di Jakarta, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 28 November 2019.

Menurut Mochtar, Lippo telah menjual dua pertiga dari kepemilikan sahamnya di perusahaan OVO. Saat ini, Lippo memiliki sisa sekitar 30 persen dari investasi awal yang telah disimpan perusahaan. 

“ Bukan melepas, kami menjual sebagian. Sekarang mungkin tinggal 30 sekian persen, sepertiga. Jadi, dua pertiga (sahamnya) kami jual,” kata dia.

Sebelumnya, manajemen Lippo Group sempat menegaskan jika perusahaan tidak akan berpisah dari Ovo. Kabar yang sebelumnya beredar terkait konflik Lippo dan Ovo disebut hanya rumor yang tak berbasis fakta.

" Berita-berita yang mengabarkan adanya rumor bahwa Lippi Group akan meninggalkan dan keluar dari Ovo karena tidak sejalan dengan kebijakan marketing Ovo. Hal tersebut sepenuhnya rumor sama sekali tidak benar dan tidak berdasarkan fakta," ujar Direktur Lippo Group, Adrian Suherman, beberapa waktu lalu.

3 dari 5 halaman

Lippo Dikabarkan Hengkang dari Ovo, Benarkah?

Presiden Direktur PT Visionet Internasional (Ovo), Karaniya Dharmasaputra, membantah kabar santer yang menyebut pendiri sekaligus investor strategis Ovo yakni Lippo Group hengkang dari perusahaan. Kabar ini kian mencuat lantaran Ovo dinilai masih menerapkan sistem 'bakar duit' pemain dan pesaing dompet digital di dalam negeri juga kian menjamur. 

" Soal rumor itu, sama sekali tidak benar. Saya malah beberapa waktu lalu baru saja ketemu dan ngobrol panjang dengan Pak John Riady (Direktur Lippo Group) soal pengembangan Ovo ke depan. Kepada saya, Beliau banyak memberikan masukan dan selama ini sangat suportif terhadap berbagai upaya pengembangan bisnis Ovo," kata Karaniya kepada Liputan6.com.

Dia melanjutkan, perusahaan memiliki misi yang jelas untuk meraih untung. Sebagai pemain baru yang berusia dua tahun, pihaknya menegaskan Ovo kini dalam tahap edukasi dan pengembangan pasar di tanah air.

" Ini penting, karena e-money masih berada di level infancy di Indonesia pada saat ini, dan akan terus berkembang dengan teramat pesat dalam 1-2 tahun ke depan," kata dia. 

(Sumber: Liputan6.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana)

4 dari 5 halaman

Perluas Layanan Keuangan, OVO Gandeng Bareksa

Dream – Platform pembayaran digital OVO menggandeng Bareksa, Do-It, dan Taralite. Kerja sama ini bertujuan untuk memperluas layanan OVO di luar pembiayaan

Serta, mempermudah masyarakat Indonesia mendapatkan pembiayaan yang cepat dan tepat.

“ Kemitraan ini merupakan bentuk nyata komitmen OVO untuk menghadirkan layanan finansial yang mampu merangkul seluruh masyarakat Indonesia,” kata CEO OVO, Jason Thompson, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 20 Maret 2019.

CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra, mengatakan kemitraan OVO bertujuan untuk memperluas jangkauan produk investasi sekaligus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

 

© Dream

 

Dikatakan dia, saat ini literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 0,3 persen. Minimnya angka ini disebabkan oleh tingkat kepercayaan dan pengetahuan yang masih rendah.

“ Tujuan utama kami adalah meningkakan literasi keuangan di Indoensia, terlebih untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya berinvestasi,” kata Karaniya.

Nantinya, kata dia, pengguna OVO bisa mendapatkan akses investasi secara langsung dengan tingkat suku bunga 5-6 persen.

5 dari 5 halaman

Momen Kejar Pertumbuhan

General Manager Do-It, Jennifer Claudia, mengatakan kolaborasi strategis dengan OVO menandai momen penting untuk menggenjot pertumbuhan perusahaan.

" Kami bekerja sama dengan OVO untuk memastikan pengalaman terbaik bagi pengguna, saat mereka mengakses produk keuangan. Hal ini merupakan bukti fleksibilitas dan kemampuan Do-It untuk menghadirkan integrasi mendalam dari layanan kami, dalam platform lain,” kata Jennifer.

Sebagai bentuk pengembangan ekosistem dengan kehadiran Taralite, OVOPayLater hadir di Tokopedia, dalam bentuk integrasi langsung di dalam platform, serta memberikan pengguna keputusan persetujuan kredit dalam waktu kurang dari satu menit.

CEO, Taralite Abraham Viktor, menyatakan, senang dapat menjadi bagian dari ekosistem OVO.

" Melalui kolaborasi ini, kami akan menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang belum memperoleh layanan finansial secara optimal. Sebagai platform pinjaman online terpercaya, kerjasama ini akan diharapkan mampu meningkatkan pemerataan akses terhadap ekonomi digital," kata Abraham.


(ism, Sumber: Liputan6.com/Nurmayanti)

Beri Komentar