Mantan Bos WhatsApp Menyesal Jual Platform ke Mark Zuckerberg

Reporter : Alfi Salima Puteri
Senin, 9 Mei 2022 07:12
Mantan Bos WhatsApp Menyesal Jual Platform ke Mark Zuckerberg
Arora mengatakan, bahwa platformnya tersebut telah berubah, bahkan tak sesuai dengan perjanjian yang dibicarakan saat negosiasi.

Dream - Neeraj Arora, mantan Chief Business Officer WhatsApp mengaku menyesal telah menjual platformnya ke Facebook pada tahun 2014 lalu. Arora mengatakan perkembangan platform yang turut dikembangkannya di awal berdiri telah berubah dari perjanjian saat negosiasi dahulu.

" Pada tahun 2014, saya adalah Chief Business Officer WhatsApp. Dan saya membantu menegosiasikan penjualan sebesar US$22 (Rp273 triliunan) miliar ke Facebook. Hari ini, saya menyesalinya," tulis Arora melalui Twitter, dikutip dari iMore, 5 Mei 2022.

Platform pesan instan ini didirikan Jan Koum dan Brian Acton pada 2009. Arora sendiri baru bergabung dengan perusahaan itu pada 2011. Satu sampai dua tahun kemudian, pendiri Facebook Mark Zuckerberg berusaha mendekati WhatsApp dan menyampaikan keinginan mengakuisisi perusahaan pesan instan tersebut.

1 dari 3 halaman

" Kami menolak dan memutuskan untuk tetap memantau perkembangan (WhatsApp)," terang Arora.

Namun rupanya upaya Zuckerberg tak berhenti setelah mendapat penolakan. Pada 2014, sang miliarder uda itu kembali mendekati WhatsApp dengan berbagai tawaran kerja sama.

Beberapa tawaran Mark Zuckerberg saat itu di antaranya mendukung penuh end to end encryption, tak ada iklan, independensi penuh atas produk, serta kursi dewan untuk salah satu pendiri WhatsApp, Jan Koum.

Dalam ceritanya Arora juga menyinggung soal WhatsApp di masa-masa awal, yang ia sebut mampu menghubungkan kerabat di berbagai dunia.

2 dari 3 halaman

Saat ia memimpin WhatsApp, perusahaan ini menghasilkan uang dengan menagih pengguna US$1 ketika mengunduh aplikasi. Facebook mengklaim mendukung misi dan visi WhatsApp.

Kemudian Arora juga mengunggah foto yang berisi catatan pendiri WhatsApp, Brian Acton. " Tak ada iklan, tak ada gim, tak ada gimik," tulis Acton dalam catatannya.

Ketika bernegosiasi soal akuisisi, WhatsApp menegaskan pihaknya menolak penambangan data pengguna, tidak ada iklan, dan tidak ada pelacakan lintas platform. Facebook tampak setuju dengan misi tersebut, tetapi beberapa tahun kemudian WhatsApp tampak berubah.

3 dari 3 halaman

Pada 2018, tepat saat detail skandal Facebook/Cambridge Analytica muncul ke publik, Brian Acton melontarkan cuitan yang mengguncang media sosial, " saatnya #menghapusfacebook."

Arora menyebut platform tersebut adalah produk yang ia dan timnya ingin kembangkan untuk dunia. " Dan saya bukan satu-satunya yang menyesal, (WhatsApp) telah menjadi bagian dari Facebook ketika itu terjadi," imbuh Arora.

Dalam utasnya, Arora mengatakan perusahaan teknologi harus mengakui ketika melakukan kesalahan. Tidak ada yang tahu awalnya Facebook akan menjadi monster Frankenstein yang melahap data pengguna dan mengeluarkan uang kotor.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More