Melirik Desa Pusat Kerajinan Dapur Terbesar Banyuwangi

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 6 Agustus 2017 13:10
Melirik Desa Pusat Kerajinan Dapur Terbesar Banyuwangi
Kalibaru Wetan bertransformasi dari desa petani menjadi kawasan industri rumahan peralatan dapur.

Dream - Kalibaru Wetan, desa yang terletak di Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi ini awalnya hanya desa petani. Sebagian besar penduduknya mengandalkan pendapatan dari sektor pertanian sebagai petani maupun buruh tani.

Pamor desa itu berubah sejak 1970. Sejak saat itu, Kalibaru Wetan terkenal sebagai pusat kerajinan dapur terbesar di Banyuwangi.

Perubahan pamor ini dimulai oleh tiga orang asal Madiun, Godel, Sugiyo, dan Misrudin yang pindah ke Kalibaru Wetan pada 1965. Di desa baru itu, ketiganya memulai usaha pembuatan alat-alat dapur seperti wajan dan dandang berbahan logam.

Salah satu perajin alat dapur, Samsul Arifin, 59 tahun, mengaku sudah menggeluti profesinya sejak 1978. Awalnya, pria yang merupakan generasi kedua perajin peralatan dapur Kalibaru Wetan ini menggunakan bahan baku dari drum, lalu beralih ke seng.

" Bahannya memborong dari pabrik, kalau jualnya dulu masih dipikul keliling," kata Samsul, dikutip dari merdeka.com.

Samsul mengatakan era 70-an, jumlah perajin mencapai 60 orang, menyebabkan tingkat persaingan berjalan sangat ketat. Alhasil, sebagian dari mereka memutuskan merantau dan membuka usaha yang sama di daerah lainnya.

" Tahun 1996 sampai era krisis, banyak yang memilih merantau. Mungkin tinggal 10 orang perajin yang bisa membuat. Saya sendiri pernah ke Makassar dan Bali, jualan kerajinan dapur keliling dengan dipikul," ucap Samsul.

Samsul masih ingat bagaimana susahnya menjual barang dengan keliling. Baru pada 2000, orderan mulai berdatangan membuat para perajin tak perlu lagi berkeliling menjual alat-alat dapur produksinya.

Masa yang mudah itu dialami oleh Idhoatul Ghonia, 37 tahun. Idhoatul merupakan cucu Misrudin, perajin alat dapur Kalibaru Wetan generasi pertama.

" Sekarang sudah ada 34 perajin alat dapur rumahan di sini. Sekarang sistemnya sudah pesanan. Jualnya sudah ke Ternate, Kupang, Sumbawa, Flores, Sumatera, Kalimantan," terang Idhoatul.

Seiring berjalannya waktu, bahan baku seng tidak lagi digunakan oleh para perajin. Mereka beralih menggunakan aluminium, stainless steel, dan monel.

Idhoatul sendiri mengaku memasang harga Rp75 ribu per kilo untuk dandang berbahan aluminium. Sedangkan dandang berbahan stainless steel dia jual dengan harga Rp125 ribu per kilo dan bahan monel dihargai Rp1 juta per kilo.

Jika dulu kebanyakan hanya memproduksi wajan dan dandang, kini barang yang dihasilkan sangat variatif. Ada juga perajin yang membuat oven kue, panci, gelas, cetakan kue, sampai sutil.

" Sehari kalau wajan kadang buat lima. Pas lebaran ramai, per hari bisa sampai Rp8 juta. Kalau hari gini tergantung rezeki," ucap Idhoatul.

Tidak hanya itu, kini banyak wisatawan datang ke Kalibaru Wetan dan membeli peralatan dapur di sana. Para perajin sampai membuka kios untuk menawarkan hasil produksi mereka di sepanjang jalan Kalibaru Wetan.

" Kalau wisatawan, banyak yang mampir untuk beli. Banyak juga yang penasaran sambil tanya-tanya kok bisa sebanyak ini yang jualan," tutur Idhoatul.

Beri Komentar