Hitung-hitungan Potensi Kerugian Tsunami Banten

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 28 Desember 2018 09:15
Hitung-hitungan Potensi Kerugian Tsunami Banten
Pihak asuransi umum memprediksi kerugiannya mencapai belasan triliun rupiah.

Dream – Bencana tsunami Banten akibat gelombang dahsyat dari Selat Sunda menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik material maupun immaterial. Ratusan rumah dan kendaraan bermotor rusak.

Kerugian ini belum termasuk dermaga dan shelter yang rusak, plus korban jiwa karena sapuan tsunami.

Dikutip Dream dari Merdeka.com, Jumat 28 Desember 2018, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan total eksposur asuransi nasional di Banten dan Lampung mencapai Rp307 triliun dari 17.843 risiko.

Dari nilai itu, paling tidak ada 191 risiko senilai Rp15,9 triliun yang berlokasi di bibir pantai.

" Risiko yang berada di daerah pantai inilah yang kemungkinan terdampak tsunami pada 22 Desember 2018 lalu," kata Direktur Eksekutif AAUI, Dody S. Dalimunthe, di Jakarta.

Dody mencatat potensi risiko di Kabupaten Pandeglang sebesar Rp820,3 miliar dan nilai pertanggungan di lokasi pinggir pantai sebesar Rp221 miliar. Di Serang, nilai eksposur Rp41,3 triliun dan nilai pertanggungan di pinggir pantai sebesar Rp15,68 triliun.

Sementara untuk Kabupaten Lampung Selatan, nilai eksposur sebesar Rp3,95 triliun, Pesawaran nilai Rp 30,4 miliar, dan Tanggamus Rp 303,64 miliar. Sedangkan untuk nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai di ketiga lokasi tersebut masih diidentifikasi.

1 dari 1 halaman

Minta Pemegang Polis Rinci Kerugian

Dia menjelaskan pada zonasi asuransi gempa bumi Indonesia terbaru yang diberlakukan sejak Januari 2017, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran masuk zona gempa bumi IV sedangkan Kabupaten Tenggamus masuk ke zona gempa bumi tertinggi yaitu zona V (lima).

Dia pun meminta Perusahaan Asuransi Umum yang menerbitkan Polis Asuransi Standar Gempa Bumi Indonesia (PSAGBI), agar segera melakukan langkah-langkah proses penanganan klaim sesuai dengan liability penanggung.

" Sampai saat ini nilai kerugian masih menunggu laporan klaim dari semua perusahaan asuransi, dimana angkanya masih belum final dan akan terus berkembang dikarenakan proses identifikasi dan verifikasi masih dalam proses,” kata Dody.

AAUI juga mendorong perusahaan asuransi umum anggota AAUI untuk menginventarisasi dampak tsunami berupa kerugian per lini bisnis asuransi. Dengan kondisi lapangan yang masih kurang kondusif, memang dibutuhkan waktu untuk memproses dan menghitung potensi klaim.

" Untuk memudahkan koordinasi penanganan klaim, perusahaan asuransi juga diharapkan segera melakukan proses penanganan klaim secara profesional dan jika perlu menyediakan call center dan posko penanganan klaim dan melakukan jemput bola agar meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah," kata dia.

Dody juga meminta tertanggung yang memiliki polis asuransi gempa bumi dan mengalami kerugian akibat risiko gempa bumi, segera melaporkan kerugiannya kepada perusahaan asuransi penerbit polis. 
asuransi penerbit polis," kata dia.(Sah)

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie