Merck Bakal Bagikan Formula Obat Covid-19 ke Negara-Negara Miskin

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 1 November 2021 09:35
Merck Bakal Bagikan Formula Obat Covid-19 ke Negara-Negara Miskin
Perusahaan obat ini memberikan lisensi non-royalti untuk membantu negara miskin memerangi Covid-19.

Dream - Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Merck, telah memberikan lisensi bebas royalti untuk produksi obat Covid-19 kepada organisasi nirlaba yang didukung oleh PBB. Sehingga, obat tersebut dapat diproduksi dan dijual murah di sejumlah negara miskin di mana jumlah vaksin untuk Covid-19 masih terbatas.

Dikutip dari Straits Times, Merck telah menjalin perjanjian dengan Medicines Patent Pool, sebuah organisasi yang bekerja membuat perawatan medis dan teknologi dapat diakses secara global. Perjanjian ini memungkinkan perusahaan di 105 negara (sebagian besar di Afrika dan Asia) untuk mensublisensikan dan mulai membuat formulasi obat antivirus Molnupiravir.

Merck, yang dikenal sebagai MSD di luar Amerika Serikat dan Kanada, melaporkan obat tersebut efektif mengurangi separuh dari jumlah pasien rawat inap dan tingkat kematian akibat Covid-19. Obat ini sudah lolos uji klinis pada pasien yang mendapatkan hasil tes Covid-19 positif.

Negara-negara kaya termasuk AS, telah bergegas menegosiasikan kesepakatan untuk membeli obat dan mengikat sebagian besar pemasok bahkan sebelum disetujui oleh regulator. Hal ini tentunya meningkatkan kekhawatiran negara-negara miskin, karena adanya kemungkinan tidak akan mendapatkan akses langsung pada obat.

 

1 dari 4 halaman

Disambut Baik

Pembuat obat generik di negara berkembang diharapkan dapat memasarkan dengan harga US$20 atau sekitar Rp284,5 ribu untuk konsumsi konsumsi obat selama lima hari. Sedangkan Pemerintah AS mengeluarkan uang sekitar US$ 712 atau sekitar Rp10,1 juta hanya untuk membayar pembelian awal.

Pendukung akses pengobatan menyambut baik kesepakatan ini.

" Lisensi Merck adalah perlindungan yang sangat baik dan berarti bagi masyarakat yang tinggal di negara-negara di mana lebih dari separuh penduduk dunia tinggal," kata pimpinan Knowledge Ecology International, James Love, sebuah organisasi riset nirlaba.

" Izinnya tidak sempurna," tambah dia. " Tidak pernah, tapi akan sangat membantu jika obatnya bekerja dengan baik dan cukup aman. Ini akan membuat perbedaan."

Merck telah memberikan lisensi kepada pembuat obat terbesar di India untuk memproduksi versi generik molnupiravir. " Namun perusahaan khawatir bahwa produksi di satu wilayah tidak akan cukup untuk memastikan akses cepat ke obat di seluruh negara berkembang," terang Wakil Presiden Merck untuk Kebijakan Global, Jenelle Krishnamoorthy.

 

2 dari 4 halaman

Perjanjian Transparan Pertama untuk Obat Covid-19

Perusahaan ini merupakan merek farmasi langka yang menuai informasi positif dari media belakangan. Selama perjuangan panjang mendapatkan obat dengan harga terjangkau untuk mengobati HIV di awal 2000-an, Merck sering menjadi sasaran kemarahan aktivis.

Proses yang Merck gunakan untuk Molnupiravir, termasuk lisensi sukarela untuk pembuat obat India, serta penyerahan pasar di mana pemerintah atau konsumen tidak akan mampu membayar obat tersebut, juga merupakan praktik standar dalam industri obat saat ini. Bahkan sejak perjuangan untuk mendapatkan obat HIV dahulu kala.

Direktur Medicines Patent Pool, Charles Gore, mengatakan perjanjian baru dengan Merck merupakan lisensi kesehatan masyarakat transparan pertama untuk obat Covid-19.

" Sangat penting, itu untuk sesuatu yang bisa digunakan di luar rumah sakit, dan yang berpotensi menjadi sangat murah," katanya.

" Mudah-mudahan ini akan membuat segalanya lebih mudah dalam hal menjaga orang keluar dari rumah sakit dan menghentikan orang meninggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," lanjut dia.

 

3 dari 4 halaman

Berebut Sub-lisensi

Gore mengatakan lebih dari 50 perusahaan dari semua wilayah di negara berkembang telah mendekati organisasi tersebut untuk mendapatkan sub-lisensi. " Kesepakatan dengan Merck juga sangat penting."

" Dari sudut pandang ilmiah, industri telah melakukan pekerjaan yang sangat brilian. Pertama, menyediakan vaksin dan sekarang menyediakan perawatan. Tetapi sisi aksesnya telah mengecewakan semuanya," ungkap dia.

Pfizer juga memiliki pil antivirus Covid-19 dan Gore mengatakan perusahaan sedang dalam pembicaraan dengan sekumpulan paten. Molnupiravir dikembangkan oleh Merck dan Ridgeback Biotherapeutics of Miami, yang pertama kali dipelajari di Emory University Atlanta.

Ketiga organisasi tersebut tentunya tidak memerlukan biaya dari perusahaan sub-lisensi mana pun. Merck telah menyerahkan data uji klinisnya ke Food and Drug Administration untuk meminta izin penggunaan darurat, sehingga keputusan dapat diambil pada awal Desember 2021.

 

4 dari 4 halaman

Bakal Tersedia dengan Harga Terjangkau

Badan regulasi obat di negara lain yang memproduksi versi Molnupiravir tentu perlu mengevaluasinya. Karena para produsen obat kemungkinan akan mencari pra-kualifikasi WHO.

Di Afrika Selatan, aktivis akses pengobatan menyebutkan bahwa lisensi kumpulan paten sebagai langkah yang positif.

" Kami telah kehilangan begitu banyak nyawa karena pemblokiran perizinan," kata Ketua Treatment Action Campaign, Sibongile Tshabalala.

Organisasi Afrika Selatan ini melobi perusahaan obat global untuk obat HIV yang terjangkau dan telah berkampanye dalam beberapa bulan terakhir untuk Covid-19 akses vaksin.

" Memperluas jangkauan negara di mana Molnupiravir dibuat akan menentukan harga obat serendah mungkin dan membuatnya lebih layak bagi sistem kesehatan masyarakat di Afrika untuk membelinya dan digunakan secara luas," tutup Tshabalala.

Laporan: Angela Irena Mihardja

Beri Komentar