Seleb AS (2): Mike Tyson, Menemukan Islam di Penjara

Reporter : Eko Huda S
Senin, 17 November 2014 19:35
Seleb AS (2): Mike Tyson, Menemukan Islam di Penjara
Juara dunia tinju kelas berat termuda dalam sejarah. Kebangkrutan tak membuatnya menyerah kalah.

Dream - Pria berkopiah putih itu bersujud. Terpekur seperti orang salat. Kening dan hidung dilekatkan pada lantai berdebu. Mulutnya komat-kamit. Khusyuk memanjatkan doa. Memohon berkat untuk mengawali kehidupan baru.

Belum ada semenit, dia sudah bangkit. Sejenak merapikan jaket gelap tanpa kerah yang disandang. Juga kopiah yang sedikit miring. Dengan pengawalan ketat, dia bergegas masuk ke mobil Limousin hitam mengkilap. Mesin menderu halus. Mobil itu membawa pemuda itu meninggalkan halaman penjara Indianapolis yang disesaki manusia itu.

Pemuda yang menjadi sorotan itu adalah Mike Tyson. Petinju dunia yang baru bebas dari hukuman. Dia baru saja menghabiskan waktu tiga tahun di dalam sel karena memperkosa Miss Black America, Desiree Washington, pada 1991.

Keluarnya Tyson dari penjara pada Sabtu 25 Maret 1995 itu memang istimewa. Ribuan pasang mata penggemar melihat secara langsung. Jutaan lainnya menyaksikan dari layar kaca. Banyak orang penasaran. Bukan hanya rindu aksi garangnya di atas ring. Melainkan ingin membuktikan rumor yang mengatakan Tyson masuk Islam.

Dan benar saja. Kabar burung itu langsung terkonfirmasi. Limousin yang ditumpangi Tyson tak langsung menuju bandara. Iring-iringan itu mampir ke masjid di Islamic Society of North America. Di sana sudah menunggu sejumlah rekan Tyson. Para pesohor Muslim Paman Sam, di antaranya mantan juara tinju dunia, Muhammad Ali. Di masjid itu pula, Tyson menunaikan salat dengan dipimpin Muhammed Siddiq, penasihat spiritualnya selama di penjara.

“ Saya sangat bangga menjadi Muslim. Allah tidak butuh saya, saya butuh Allah,” kata Tyson dalam acara Undisputed Truth, Desember tahun silam.

Lima belas tahun berselang, Tyson yang memilih Malik Abdul Aziz sebagai nama Muslimnya ini melakukan perjalanan religi. Pada Juli 2010, dia menunaikan umrah ke Tanah Suci. Di sanalah hatinya kembali tergetar. Tangisnya pecah saat berada di depan makam Nabi Muhammad.

Tyson tampak emosional saat menyampaikan salam untuk Nabi. Dia berdiri sambil menangis selama setengah jam. Dia mengangkat kedua tangan. Berdoa.

Tak hanya itu, dia juga berjam-jam di Rawdah. Ruang di antara mimbar dan bekas rumah Nabi di Masjid Nabawi, Madinah. Di sana, dia membaca Alquran dan berdoa, sambil terus berlinang air mata.

“ Aku tak sanggup menahan air mata saat berada di salah satu taman surga ini,” tutur Tyson sebagaimana dikutip Saudi Gazette. Menjadi Muslim merupakan titik balik kehidupannya.

*****

Tyson lahir pada 30 Juni 1966 di Brooklyn, sebuah kota di New York yang dikenal dengan kehidupan brutal. Michael Gererd Tyson, demikian nama yang diberikan orangtuanya.

Sang ayah, Jimmy Kirkpatrick, meninggalkan keluarga saat Tyson berusia 2 tahun. Sang ibu, Lorna Smith, membesarkan Tyson bersama dua saudaranya, Rodney dan Denise.

Hidup di daerah keras dengan keluarga berantakan membuat Tyson tumbuh sebagai berandalan. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan adu jotos di jalanan. Pada usia 11 tahun dia sudah menginap di tahanan. Sejak itu, dia bolak-balik dari jalanan ke penjara. Pada usia 13 tahun saja, Tyson sudah 38 kali ditangkap polisi.

“ Itu adalah kumpulan kejahatan, kumpulan obat terlarang ... keluarga tidak layak. Saya tidak memiliki kehidupan keluarga yang baik. Ibu dan ayah saya, mereka berada di semacam industri seks. Saya tidak memiliki gaya hidup yang normal,” Tyson mengenang masa kecilnya.

Lorna memasukkan Tyson yang bengal ke Tryon School for Boys di Johnstown, New York. Di sekolah itu, banyak ragam pelajaran olahraga. Dan Tyson memilih tinju. Kegemarannya selama di jalan.

Dia dilatih oleh mantan petinju, Bobby Stewart. Karena melihat kemampuan Tyson, Stewart mengenalkannya ke pelatih kenamaan, Cus D’ Amato.

Tyson mulai berlatih di sasana D’Amato di Catskill Boxing Club pada 1980. D’Amato bersama sang asisten, Kevin Rooney, segera mengenali bakat besar. Mereka menggembleng Tyson menjadi petinju jempolan.

Kedisiplinan dan pengendalian diri menjadi poin utama yang diajarkan kepada Tyson yang bersifat bengal itu. Saat pembajaan itulah sang ibu yang sudah lama digerogoti kanker menyerah. Lorna meninggal pada 1982. Sejak itulah Tyson sepenuhnya menjadi tanggung jawab D’Amato. Guru sekaligus orangtua angkat bagi Tyson.

Karir Mike Tyson dimulai dari tangga tinju amatir. Dia kalah angka dari Henry Tillman dalam kualifikasi tinju amatir menuju Olimpiade. Jenjang profesionalnya dimulai pada 6 Maret 1985 di Albany, New York. Dia mampu menghempaskan lawan di ronde pertama kala itu. Sejak itu dia terus berjaya di atas ring. Rata-rata musuhnya keok di ronde pertama dengan knock out.

Peringkat Tyson di jajaran elit tinju dunia meroket, lantas datanglah peluang itu. Pada tanggal 22 November 1986, Tyson diberi kesempatan untuk meraih gelar. Dia diadu melawan Trevor Berbick untuk kelas berat versi WBC.

Tak butuh waktu lama. Tyson mampu menjungkalkan Barbick dalam dua ronde. Sabuk kehormatan WBC pun melingkar di badan. Dan Tyson dinobatkan sebagai petinju termuda yang menjadi jawara kelas berat dunia. Gelar itu direngkuh dalam usia 20 tahun.

Lima bulan kemudian, 7 Maret 1987, Tyson bertanding melawan James 'Bonecrusher' Smith. Dia mampu menang angka. Sehingga merampas gelar tinju kelas berat versi WBA dari tangan Smith. Kariernya semakin mencorong. Pada 1 Agustus, dia merebut gelar IBF dari Tony Tucker dengan menang angka. Dengan tiga sabuk itu, Tyson menjadi “ juara tinju dunia kelas berat sejati”.

Sejak itu, julukannya bertambah. Si Raja KO tersemat sebagai ‘nama’ barunya. Dari 31 pertandingan, 26 di antaranya dimenangkan dengan KO ataupun TKO. Banyak lawan yang dihempaskan ke kanvas pada ronde pertama. Sebuah rekor yang menggetarkan semua calon lawan. Kemenangan demi kemenangan itu membuat pundi-pundi uang Tyson penuh.

Namun sifat berandalannya kembali tumbuh. Dia tak lagi disiplin seperti pesan D’Amato yang meninggal tahun 1985. Usai D'Amato wafat Tyson memang seperti kehilangan kompas. Arahan Rooney yang menggantikan D’Amato sebagai pelatih pun tak digubris lagi.

Hidupnya kian liar. Apalagi setelah berkenalan dengan promotor tinju kenamaan, Don King. Pesta sampai larut hingga pagi selalu dia jabani. Tyson semakin tak terkendali. Pada 1988 dia bahkan memecat Rooney.

Tyson pun kena batunya. Hidup tak disiplin dan jarang latihan membuat tubuhnya loyo. Dia tak lagi gesit. Pukulannya juga tak mematikan seperti sebelumnya. Dan hari nahas itu tiba pada 11 Februari 1990. Kala melawan James Buster Douglas di Jepang.

Douglas memang sempat roboh. Namun bangkit lagi. Dan pada ronde ke-10 dia membalas pukulan Tyson dengan hook kanan tanpa ampun. Tyson terjungkal dan tak mampu lagi melanjutkan pertandingan. Ia kalah. Dan gelar juara dunianya melayang.

Kekalahan itu tak membuat Tyson kapok. Dia tak belajar dari kesalahannya. Bahkan pada 1991 dia diadili karena memperkosa Desiree Washington di Indianapolis. Kelakuan inilah yang mengantarkannya ke penjara. Dia dihukum 10 tahun: 6 tahun penjara dan 4 tahun percobaan. Namun karena dinilai berkelakuan baik, Tyson hanya menjalani separuh hukumannya, 3 tahun saja.

Di penjara itulah Tyson mengenal Islam. Dia banyak belajar pengetahuan Islam di bawah bimbingan Muhammad Siddeeq, sukarelawan pengajar aljabar sekaligus imam salat bagi tahanan Muslim. “ Ini pengalaman yang tak akan saya lupakan dan saya tidak akan melihatnya sebagai pengalaman buruk. Ini sesuatu yang terjadi dan saya mengatasi itu,” tutur Tyson.

Bebas dari penjara, Tyson kembali bertinju. Tak butuh waktu lama, setelah mengalahkan sejumlah petinju, dia kembali berkesempatan meraih gelar juara. Pada 16 Maret 1996, dia menghajar Frank Bruno. Pertandingan berakhir di ronde tiga dengan kemenangan TKO.

Tyson merengkuh gelar WBC. Enam bulan berselang, giliran Bruce Seldon menjadi sasaran amuk Tyson. Seldon terkapar di ronde pertama. Sabuk WBA jadi milik Tyson. Nama si leher beton pun kembali harum di atas ring.

Namun tahta Tyson tak bertahan lama. Tiga bulan kemudian dia dikalahkan Evander Holifield. Pada pertarungan 9 November 1996 itu, Tyson tersungkur di ronde ke-10.

Para laga ulangan 28 Juni 1997, wasit menghentikan pertandingan di ronde ke-3 karena Tyson menggigit telinga Holifield. Dia kesal karena lawannya kerap menyeruduk. Sehingga dia memilih melepas karet pelindung gusi, dan akhirnya terjadilah insiden gigitan itu.

Setelah itu, karier tinju Tyson meredup. Hidupnya bahkan di ambang kehancuran karena gaya hidup mewahnya. Pada 2003, dia mengajukan pailit. Hartanya ludes. Rumah dan sebagainya habis untuk membayar utang. Hidupnya menggelandang.

Menurut laporan New York Times tahun 2003 silam, sebenarnya uang yang didapat Tyson dari atas ring cukup banyak. Selama 20 berkarier di atas ring, sejak 1985, setidaknya mengumpulkan U$400 juta dolar atau sekitar Rp 4,8 triliun –kurs saat ini. Untuk sekali bertinju, bayarannya bisa mencapai US$ 30 juta atau sekarang sekitar Rp 366 miliar.

Namun kekayaan itu justru membuat Tyson mabuk. Hidup royal membuatnya terjerat utang sebesar US$ 23 juta atau sekitar Rp 280 miliar. Tagihan pajak di Amerika Serikat dan Inggris mencapai US$ 17 juta dolar atau Rp 207 miliar.

Berdasar dokumen pengadilan, Tyson menghamburkan  uang US$ 400 ribu atau Rp 4,8 miliar sebulan untuk gaya hidup. sejak 1995 hingga 1997 dia menghabiskan US$ 9 juta atau sekitar Rp 109 miliar untuk pengacara, US$ 23 ribu atau Rp 2,8 miliar untuk telepon, Rp 5 miliar untuk pesta ulang tahun. Belum lagi membayar fasilitas mewah lainnya, semacam sewa Limousin dan sebagainya.

Karena utang itulah Tyson nekat bertanding. Meski usianya sudah senja bagi seorang petinju. Pada 11 Juni 2005, dia menghadapi Kevin McBride. Namun Tyson menyerah pada ronde ke-7, setelah sempat tersungkur. Inilah pertarungan terakhir Tyson di atas ring.  Sejak itu dia menggantung sarung tinju.

“ Saya sudah tidak punya semangat dan jiwa bertarung lagi. Saya ingin melanjutkan, tapi saya pasti babak belur. Saya bertanding demi melunasi seluruh tagihan saya,” ujar Tyson kala itu.

Beruntung, di tengah kemelaratan itu ada penggemar asal Inggris yang dermawan. Tyson kemudian membeli sebuah rumah di Seven Hills. Pada 6 Juni 2009 dia menikah dengan Lakiha Spicer alias Kiki. Dianugerahi dua anak, Moroco dan Milan. Pernikahan sebelumnya, dengan Robin Givens dan Monica Turner, kandas.

Bersama Kiki inilah Tyson membangun kehidupan baru. Hidupnya semakin teratur. Tidur pukul delapan malam. Bangun jam dua pagi. Dia membaca buku sebelum memulai hari dengan sang istri pukul 6 pagi.

Keduanya mendirikan perusahaan Tyranic yang bergerak di bidang hiburan. Kiki menjadi manajer Tyson. Dengan bendera itu, Tyson tampil dalam film, teater, maupun talkshow. Film yang mereka garap adalah The Hangover I, II, dan III. Film-film itu berkisah tentang sejarah kehidupan Tyson.

Itulah roda kehidupan Tyson. Dia mengaku tak pernah membayangkan akan menjadi jawara tinju dunia, aktor, maupun penulis. Satu-satunya yang dia pastikan adalah kematian. Dan sekarang, dia tengah melanjutkan biduk kehidupan dengan sabar.

“ Tujuan saya adalah hidup dengan sehat, hadir, dan melayani. Saya harus terus berjuang. Hanya karena monyet turun dari punggungmu, bukan berarti sirkus telah meninggalkan kota,” tutur Tyson beramsal.

Bagi Tyson, dunia belum lagi tamat… (eh)

Beri Komentar