Berharta Rp146 Triliun, Miliarder Ini Doyan Ngutang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 2 Desember 2019 11:12
Berharta Rp146 Triliun, Miliarder Ini Doyan Ngutang
Tak semua orang tajir melintir tak punya utang.

Dream - Kalau punya berpikir miliarder tak punya utang dan kaya karena bisnisnya memang sukses, itu salah besar. Karena ada miliarder yang justru punya utang menumpuk.

Dikutip dari Liputan6.com, Senin 2 Desember 2019, orang kaya itu adalah Sun Hongbin. Dia adalah miliarder asal Tiongkok dengan kekayaan mencapai US$10,4 miliar (Rp146,41 triliun).

Tetapi, utang Sun sangat banyak karena kebiasaan bisnisnya yang nekat. Malah, kariernya disebut-sebut laiknya roller coaster, naik turun secara drastis. 

Saat perusahaan di Tiongkok mengurangi pinjaman karena ekonomi dunia melambat, Sun malah jor-joran mengeluarkan uang. The Financial Express menyebut orang tajir ini justru membeli tanah bermasalah yang merupakan aset dari Dalian Wanda Group Co., developer yang membangun kawasan bisnis.

Pria ini juga membeli saham senilai US$2,2 miliar (Rp30,97 triliun) dari LeEco. Padahal, perusahaan teknologi dan media ini terancam bangkrut.

1 dari 6 halaman

Hasilnya Mengejutkan

Pembelian saham ini ternyata malah mengerek saham perusahaan Sun naik 212 persen. Tapi, rasio utang perusahaan juga naik hingga 394 persen atau lima kali dari perusahaan lain. Padahal, dia punya 84 persen saham di Sunac China Holdings, yang tidak lain perusahaannya sendiri.

Tak lama kemudian, harga saham Sunac China Holdings turun 1,6 persen. Dampaknya, perusahaan memutuskan penerbitan obligasi sebagai solusi bayar utang.

Meski demikian, analis memprediksi obligasi itu hanya laku US$1 miliar (Rp14,08 triliun).

Yang mengejutkan pertumbuhan top line perusahaan Sun justru mengagumkan. Penjualan properti meningkat dua kali lipat pada 2016 karena pembangunannya terbukti berhasil.

Strategi yang dikembangkan Sun dinilai cerdas oleh beberapa investor sehingga mereka membeli saham Sunac China Holdings.

(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

2 dari 6 halaman

Harta Miliarder Ini Melayang Rp90 Triliun Gara-Gara Saham

Dream – Hilangnya kekayaan tak selamanya akibat bisnis bangkrut. Kebijakan pemerintah juga bisa membuat seorang miliarder kehilangan harta mencapai triliunan. Nasib apes inilah yang dialami seorang bos perusahana properti, Hui Ka Yan. 

Kekayaan Hui Ka Yan mendadak berkurang 21 persen atau Rp 45 miliar yuan (Rp90,20 triliun). Meski berkurang, Hui masih orang tajir. Kekayaannya saat ini masih mencapai 170 miliar yuan (Rp340,75 triliun).

Dikutip dari South China Morning Post, Kamis 7 November 2019, kekayaan Hui Ka Yan itu hilang setelah harga saham perusahaan, Evergrande, babak belur di bursa saham setempat. Saham Evergrande anjlok sampai 22 persen tahun ini.

 

 © Dream

 

Ekspansi besar-besaran yang dilakukan perusahaan sebelumnya telah menggerus aset perusahaan properti ketiga terbesar di Negeri Tirai Bambu itu.

Alhasil, kini Evergrand harus mengurangi asetnya untuk meringankan beban utang perusahaan.

Tak hanya dari faktor internal, kinerja Evergrande juga terpukul oleh kebijakan pemerintah yang melarang pembiayaan langsung kepada pengembang yang belum mendapat persetujuan untuk memulai konstruksi. Pembiayaan ini mencakup pasar ekuitas dan surat utang.

Belum lagi pemicu dari kebijakan Partai Komunis China kepada pemerintah yang mendesak untuk tidak lagi menggenjot properti sebagai sarana pendorong pertumbuhan ekonomi.

3 dari 6 halaman

Dulu Tukang Sayur, Kini Jadi Miliarder Berharta Belasan Triliun

Dream – Tak pernah terbayang dari benak Masaru Wasami bahwa dia akan menjadi miliarder. Kini, dia menjadi orang kaya-raya di Jepang dengan harta belasan triliun rupiah.

Dikutip dari Bloomberg, Senin 14 Oktober 2019, cerita ini bermula dari Masaru yang menjadi karyawan paruh waktu saat berusia 12 tahun. Dia ingin membantu mencari uang untuk pengobatan sang ibu yang mengidap tuberkulosis (TBC). Tiga tahun kemudian, Masaru berhenti sekolah dan berbisnis full time.

 

 © Dream

 

Pada 1970, Masaru merintis bisnis truk di bawah bendera Maruwa Unya Kikan Co. Bisnisnya bergerak di bidang pengiriman produk. Awalnya, dia hanya punya satu truk. Beberapa tahun kemudian, jumlah truk yang dimilikinya sampai 100 truk.

Semula dia berbisnis pengiriman produk, kini bisnisnya berkembang menjadi pengiriman obat-obatan dan logistik supermarket di seluruh Jepang.

Kini, Masaru menjadi orang kaya-raya di Jepang dan keberhasilannya tak lepas dari peran Amazon Inc.

4 dari 6 halaman

Tak Ada Ide

Saat berkisah pertama kalinya memantapkan hati untuk berbisnis, Masaru mengaku tak ada ide. Saking tak ada pikiran, pria ini tak bisa tidur.

Lalu, pagi harinya, Masaru menemani temannya untuk mengambil paket dari pabrik benang. Tapi, dia tidak mampu menangani pengiriman parsel. Inlah yang menjadi alasan Masaru untuk berbisnis pengiriman paket.

Pemilik 60 persen ini tak keberatan menggandeng Amazon dan Rakuten—online retailer di Jepang—untuk mengembangkan bisnisnya. Masaru menawarkan jasa pengiriman “ same day delivery” kepada dua e-commerce raksasa itu.

Selain kerja sama dengan dua e-commerce, kenaikan harga saham Maruwa turut mengerek kekayaan Masaru. Bloomberg mencatat kekayaan pria berusia 74 tahun ini senilai US$1 miliar (Rp14,14 triliun).

Masaru juga menggandeng perusahaan parsel terbesar, Yamato Holdings Co. Sama dengan Rakuten dan Amazon, dia menawarkan bisnis pengiriman same day delivery.

5 dari 6 halaman

Tak Mau Melebihi Batas

Pada 2017, bisnis parsel Yamato berkembang tiga kali lipat dan mendorong volume pengapalan dari ritel e-commerce. Kenaikan bisnis ini tentu saja berakibat pada bisnis pengiriman.

 © Dream

Meskipun sedang moncer, Masaru enggan menerima permintaan kelebihan pengiriman. Dia tak mau ngoyo terhadap bisnis pengiriman barang dari perusahaannya dan ogah melebihi kapasitas.

“ Perusahaan kami juga menawarkan gaji yang kompetitif untuk sopir truk,” kata Masaru.

6 dari 6 halaman

Belum Puas

Dia menuturkan, Maruwa bisa menghasilkan uang senilai 7,2 juta yen (Rp939,92 juta) dengan mengirimkan lebih dari 150 paket per hari.

Sekadar informasi, pendapatan Maruwa melesat 15 persen menjadi 85,6 miliar (Rp1,12 triliun) per 31 Maret 2019. Logisitik dan ritel makanan tetap menjadi bisnis terbesar Maruwa. Kini, paket e-commerce juga memberikan sepertiga pendapatan perusahaan Masaru.

Meskipun sudah sukses dan tajir, Masaru tetap tidak puas. Dia mengatakan penjualannya seharusnya beberapa kali lebih besar karena dia menghabiskan waktu hampir 50 tahun untuk berbisnis.

“ Saya belum menghasilkan yang terbaik,” kata dia.

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak