Nasi Uduk Kong Abdul

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 1 Desember 2016 20:15
Nasi Uduk Kong Abdul
Kisah kong Abdul memberi harapan, budaya tolong menolong, yang diwariskan kakek nenek kita, belum tenggelam di riuh kemajuan. Jejaring sosial justru bisa merawat. Menemukan kis

Dream - Di bawah temaram lampu jalan yang jadi penerangan gratis, tenda beratap terpal oranye itu berdiri. Air sisa hujan masih menetes di ujung simpul tenda.

Di dalamnya, seorang lelaki tua berpeci hitam sedang meringkuk di depan wajan berisi minyak mendidih. Sembari memasukkan tahu dan tempe, dia goreng ke dalam wajan.

Sementara perempuan berjilbab terlihat sibuk melayani pembeli. Di balik gerobak biru sederhananya, dia membungkus nasi uduk pesanan pelanggan. Dengan fasih tangan wanita itu mengambil nasi uduk dari termos besar.

Mengambil lauk berupa tempe dan telur goreng yang tertata di sebelah kanan dan menawari pembeli sayur yang akan dicampurkan.

“ Mau tambah jengkol juga?” tanya perempuan bernama Siti Atiyah.
Si pembeli menolak. Dia hanya meminta kuah dari semur jengkol saja.

Lelaki tua tadi, Abdul Rauf selesai dengan tugasnya. Gorengan tahu dan tempe dia angkat dari wajan. Diletakkan ke tutup panci.

Malam itu, tepat pukul sepuluh. Satu-dua orang pembeli mampir ke warung Nasi Uduk Betawi milik Abdul di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. Ada yang minta di bungkus. Ada pula yang menandaskan makanan itu di warung berukuran 2 x 1,9 meter.

Delapan kursi plastik berjumlah delapan tampak kosong. Abdul mengambil salah satu kursi untuk duduk. Begitu pula dengan Siti. Belum sempat berbincang, sepasang suami-istri kembali berdiri. Mereka mengangkat termos nasi berukuran tiga liter yang sudah habis sepertiganya.

Keduanya kembali duduk. Menanti pembeli yang datang. Siti menghadap ke gerobak, membelakangi Abdul yang menatap hiruk pikuk jalanan.

Dream menghampiri pria yang akrab disapa engkong Abdul. Menanyakan keadaannya. Dia kemudian memulai bercerita tentang masa-masa suram tanpa pembeli.

“ Banyak dukanya Mas,” kata Abdul sembari tersenyum, Senin kemarin 28 November 2016.

Duka yang dimaksud adalah penggusuran oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dengan dalih mengganggu kenyamanan Jalan Pemuda, warung miliknya terpaksa ditertibkan.

Bahkan penertiban kerap tak kenal waktu. Saat warung baru saja berdiri, warungnya harus diangkut Satpol PP.

Parahnya, Satpol PP meminta tebusan yang cukup mahal untuk gerobak dan peralatan dagangnya. Nilai tebusan itu cukup membuat gigit jari. Besarnya, Rp600 ribu.

“ Harusnya ditebus dan mendapat peringatan saja,” kata warga RT 3/ Rw 3 Kampung Betawi, Rawamangun, Jakarta Timur tersebut.

Pada Idul Fitri tahun lalu, Rauf sempat menerima ‘kejutan’ yang tak terduga. Geliat takbir kumandang perayaan Idul Fitri yang harusnya terdengar indah jadi mala petaka.

Padahal, kala itu, beberapa pengunjung sedang menikmati hangat nasi uduk Betawi buatannya. Mendadak, Satpol PP membubarkan pundi-pundi rupiah yang harusnya bisa diperolehnya.

Selain tekanan dari pihak Satpol PP, Abdul juga kerap menerima tekanan dari para preman. Dia enggan melawan, justru kerap memberi makanan kepada preman tersebut. Lama-lama juga mati, kata dia tersenyum getir.

1 dari 3 halaman

Diusir dan Didatangi Preman

Kong Abdul memulai berjualan di depan pinggir Jalan Pemuda sejak 1982. Tiga bulan setelah dia diputus kontrak oleh perusahaan Assembling Nasional Isuzu karena terlibat cekcok dengan karyawan lain.

Dia kemudian membantu jualan Soto Betawi kakaknya. Di malam harinya dia beraktivitas sebagai Petugas Keamanan Lingkungan Masyarakat (Limas) Kelurahan Jati.

Para preman, kata dia, takut kepadanya. “ Waktu muda saya ini kekar, hahaha,” kata Abdul sembari tertawa.

Merasa berjualan soto tak cukup menguntungkan, dia berganti jualan Nasi Uduk Betawi. Dia beralasan, tak banyak yang berjualan Nasi Uduk Betawi yang asli.

Awalnya, posisi warung Abdul berada di pintu keluar Stasiun Pengisian Bakar Gas (SPBG), Rawamangun. Meski hanya menggunakan petromak, warung itu laris diserbu pembeli. Pukul lima sore buka, jam delapan malam sudah habis, kata dia menggambarkan kondisi kala itu.

Tetapi, kondisi pelebaran jalan keluar SPGB dan banyaknya pedagang pendatang membuat warungnya terusir. Persaingan usaha membuatnya mendapat pesaing.

Dari pantauan Dream, di sepanjang depan SPBG itu setidaknya terdapat empat warung yang berjualan Nasi Uduk Betawi. Persaingan usaha, kata dia, sudah tak sehat. Para pesaingnya kerap menggunakan ilmu gaib. Peristiwa itu dia ketahui dari pelanggannya.

“ Pelanggan saya malam-malam hendak makan. Tapi, kata pelanggan itu, warung milik Abdul tutup. Padahal, malam itu saya buka. Kalau kata orang warungnya dibuat gelap,” ucap dia.

Semenjak kejadian itu, dalam semalam dia hanya mampu menjual sepuluh piring nasi uduk tiap malamnya. Selebihnya dia kerap nombok.

2 dari 3 halaman

'Dukun Dari Jawa Timur'

Nasi Uduk Betawi jadi penyambung hidup keluarga Abdul. Nasi uduk itu juga menjadi cara mewujudkan cita-cita putra bungsunya untuk menjadi polisi. Sebab, kata dia, untuk jadi polisi perlu biaya yang besar.

" Biaya jadi polisi kan mahal, nah itu buat saya bingung,” ucap dia.

Demi memenuhi kebutuhan itu, dia rela bekerja ekstra. Buka pukul lima sore dan tutup jelang dini hari. Setelah istirahat sejenak, pukul dua pagi dia berangkat belanja bahan dagang di Pasar Pulo Gadung.

Memeras keringat sepanjang hari, belum lagi menunggu para pembeli datang menjadi aktivitas yang melelahkan. Tak salah kemudian dia kerap tertidur saat menunggu pembeli.

Momen itulah yang membuat seorang laki-laki muda memotretnya. Lelaki itu, kata Abdul, juga memborong seluruh dagangannya. Setelah itu, laki-laki muda itu pergi sembari mengucapkan sebaris kalimat perpisahan.

“ Kata dia, sampai tinggal kakek. Pertemuan kita sampai di sini saja. Saya enggak tahu siapa nama pria itu,” kata dia.

Tak lama berselang, tiba-tiba warung Nasi Uduk Betawi yang awalnya berubah. Dia terheran-heran kenapa warungnya menjadi ramai. Dia tak tahu menahu kekuatan sosial media menggerakan penggunanya untuk meramaikan warung itu.

“ Saya katanya masuk Pesbuk. Tapi, saya ndak ngerti. Wong saya nggak punya hape,” kata dia.

Tak hanya masyarakat umum yang berkunjung, media massa dan para selebritis pun turut meramaikan warung itu. Kondisi itu membuat sempat membuat macet Jalan Pemuda. Tetapi, banyaknya pengunjung yang datang menghapus sejenak duka dalam dirinya.

Keramaian itu tentu saja membuat gusar para pesaing usahanya. Kata mereka, Abdul menggunakan dukun. Sembari terkekeh dia membalas tuduhan nyeleneh itu. “ Dukun dari Jawa Timur.”

3 dari 3 halaman

Kondisi Berubah Sejak Masuk Media Sosial

Kehidupan Abdul tentu tak berhenti di tiga hari itu saja. Bak mendayung, kehidupan akan terus mengikuti aliran arus sungai hingga tiba di hilir.

Usai menerima berbagai liputan dan undangan acara bincang-bincang di stasiun televisi swasta, dia kembali ke kehidupan biasanya yang sederhana.

Bedanya, semakin banyak yang mengenal warungnya. Nasi uduk yang dimasukkan ke dalam termos tiga literan kerap habis. “ Alhamdulillah sekarang,” kata Siti bersyukur dengan kondisi yang dialaminya saat ini.

Puluhan porsi Nasi Uduk Betawi yang dibanderol Rp10 ribu hingga Rp14 ribu itu terjual ludes. Meski telah laku dia tak mengubah harga. Demi pelanggan, katanya.

Kini kondisi penjualan Abdul telah berubah. Tetapi, dia masih menyimpan rahasia. Dia mengatakan Nasi Uduk Betawi yang dijualnya merupakan nasi uduk kelas kedua.

Nasi uduk kelas pertama yang dia punya sengaja tak dikeluarkan. Sebab, nasi uduk tersebut sangat nikmat.

“ Dapat dimakan tanpa lauk. Cuma pakai sambal aja udah enak. Tapi, kalau jual yang itu ntar rugi. Buat pesanan saja,” ucap dia sembari terkekeh.

Beri Komentar