Dream - Lembaga pemeringkat Standard & Poor memperkirakan bisnis surat utang syariah (Sukuk) bakal menghadapi tekanan selama 2016. Hal ini dipicu harga minyak global yang lemah dan menurunnya anggaran belanja pemerintah di wilayah Teluk dan Malaysia.
Tahun ini diperkirakan hanya akan akan penerbitan sukuk dengan total mencapai US$ 50-55 miliar. Jumlah ini turun dibandingkan tahun 2015 yang mencapai US$ 63,5 miliar dan US$ 116,4 miliar pada tahun 2014.
Koreksi pasar sukuk dimulai pada tahun lalu ketika Bank Negara Malaysia (BNM), emiten terbesar sukuk di dunia, berhenti menerbitkan sukuk. Namun, terlepas dari efek BNM, penerbitan sukuk turun sekitar 5 persen pada tahun 2015.
Faktor-faktor lainnya yang menjadi pendorong utama menurunnya penerbitan sukuk tahun ini di antaranya perkembangan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan Eropa, penurunan harga minyak dunia dan kemungkinan pencabutan sanksi Iran oleh Barat. Selain dua faktor pertama yang cenderung menguras likuiditas pasar global dan lokal, konsolidasi fiskal dan pemotongan anggaran belanja negara-negara di wilayah Teluk juga berperan menurunkan permintaan dana sukuk.
" Kami berpikir bahwa jika harga minyak tetap lemah, beberapa pemerintah dari negara-negara pengekspor minyak di Teluk dan Malaysia mungkin tidak memiliki pilihan lain selain untuk mengurangi pengeluaran investasi, sehingga kebutuhan pembiayaan infrastruktur dan penerbitan sukuk menjadi lebih rendah," kata Mohammad Damak, Global Head of Islamic Finance Standard & Poor mengutip laman Gulfnews, Senin, 18 Januari 2016.
Penurunan harga minyak juga mengurangi deposito dan likuiditas di bank (termasuk bank syariah). Pemerintah dan entitas terkait adalah salah satu deposan terbesar di beberapa pasar inti keuangan syariah, dengan pangsa 15 hingga 40 persen.
" Kami berharap bahwa likuiditas rendah akan menyebabkan investor menjadi lebih berhati-hati tentang risiko dan lebih selektif, yang akan mendongkrak harga," kata Damak.
Kenaikan tarif suku bunga oleh The Fed juga akan membawa penurunan likuiditas global yang akan mengurangi selera investor global untuk sukuk.
" Beberapa pelaku pasar percaya bahwa prospek ekonomi dunia yang lemah karena harga minyak yang lebih rendah dapat meningkatkan penerbitan sukuk karena pemerintah berusaha untuk membiayai kebutuhan dana mereka. Namun, kami berpikir penerbitan obligasi konvensional menjadi yang pertama untuk mendapatkan keuntungan dari tren seperti itu," kata Damac.
Pada 2015, penerbitan obligasi konvensional di wilayah Teluk naik sekitar 140 persen dibandingkan sukuk yang mengalami penurunan 22,4.
Namun, di tengah masalah ini, salah satu pendorong positif adalah pelonggaran kuantitatif Bank Sentral Eropa (QE) yang mungkin mendorong beberapa investor Eropa untuk mengambil aset berimbal hasil lebih tinggi tetapi berisiko seperti sukuk.
Advertisement
Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global

AI Makin Ancam Manusia, PBB Ingatkan Dunia Jangan Terlambat Mengendalikannya

Inilah Peta Baru Dunia Versi PBB: Eropa dan Amerika Jadi Lebih Kecil. Mengapa?

Tak Lagi ke Bantargebang, Sebagian Limbah Jakarta Belok ke Bank Sampah

Sampah Bisa Jadi Voucher Belanja hingga Pengganti Batubara


Masalah Keuangan Berkepanjangan Bisa Berkaitan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat, Ini Penjelasannya

Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Perempuan Usia 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an


Tembus 21 Juta Views, 'Kasih Aba-Aba 2.0' Naykilla & Tenxi Jadi Tren TikTok Untuk Sambut Shopee 9.9


Tak Cukup Lihat Klaim di Kemasan, Orang Tua Perlu Lihat Bukti di Balik Susu Formula Anak

Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global