Norman Kamaru (Sumber Foto: Kapanlagi.com)
Dream – Siang itu Matahari tengah terik-teriknya menikam ubun-ubun. Langit membiru. Namun, di lobi H apartemen kelas menengah Kalibata City, Jakarta Selatan, justru aroma masakan begitu harum meruap. Asap masakan dengan aroma menggoda itu mengepul dari sebuah warung kecil bernuansa biru di lobi itu.
Wanginya tercium kuat. Menerobos hidung setiap orang yang melintas. Banyak juga yang tak tahan pada 'godaan' itu. Langkah mereka pun terhenti. Penasaran. Mereka pun bergegas ke arah warung yang menyebar bau harum masakan itu bertuliskan 'J&J Cafe and Coffe, Menu Siang: All About Manado.'
Begitu masuk, suasana sudah lumayan sesak. Beberapa pria-wanita beragam usia mengisi hampir semua meja dan kursi di ruangan berukuran setengah lapangan badminton itu. Di sana, pengunjung asyik ngobrol sambil menunggu pesanan. Yang lainnya, sedang lahap menyantap makanan menggugah selera di piring porselen putih bersih.
" Mas, mau pesan lagi," teriak salah satu pengunjung dengan wajah berkeringat, kepedasan menyantap makanan yang hampir tandas.
" Mbak, boleh pesan minumnya dua lagi," kata pengunjung lain dari meja berbeda.
Membludaknya pesanan membuat tiga orang pelayan kewalahan. Dapur warung juga ikut riuh. Walau sibuk dan terdesak order pesanan yang terus mengalir, semburat ketegangan tak tampak dari wajah pemilik warung, seorang pria berbadan tinggi.
Sorotan mata pengunjung yang menahan lapar menunggu pesanan tak membuat si empunya warung gugup. Ia justu terlihat sigap, meski tangannya hampir tak pernah berhenti bergerak.
Panci panas berukuran sedang berisi bubur, baru saja ia angkat dari kompor. Karena lumayan berat untuk diangkat seorang diri, urat di tangannya sampai keluar. Begitu beres, ia bergegas ke pengunjung untuk meladeni pesanan.
" Maaf pak, jadi bubur Manado-nya tambah satu lagi," tanyanya.
" Wah, mas Norman. Jadi benar ya ini warung mas. Enak mas buburnya. Iya pesan satu lagi ya," jawab si pengujung yang kaget karena dilayani langsung pemilik warung.
" Iya pak, terima kasih sudah mau datang dan mencobanya," ujar si pemilik warung, seraya tersenyum sambil bergegas melayani yang lainnya.
Begitulah sepenggal potret kesibukan warung bubur milik Norman Kamaru yang terekam reporter Dream, Amrikh Palupi, saat berkunjung akhir pekan lalu.
Siapa sangka Norman yang dulu anggota polisi (Brimob), kemudian mendadak tenar jadi artis, dan kini malah sering gotong-gotong panci bubur. Norman Kamaru menceritakan begitu getirnya....
© Dream
Pemilik warung itu, Norman Kamaru, adalah pria asal Gorontalo, kelahiran 27 November 1985. Wajahnya mungkin tak asing di mata publik. Tiga tahun silam, ia tak pernah absen muncul di layar kaca. Hampir setiap hari.
Norman Kamaru, saat menjadi anggota Brimob, menjadi fenomena berkat goyangan dan caranya meniru lagu India, “ Chaiyya Chaiyya.” Jogetnya direkam oleh temannya saat bertugas di pos jaga ketika dia tengah menghibur rekannya di Polda Gorontalo yang tengah patah hati.
Video itu segera menyebar dan menjadi fenomena di Youtube. Ditonton jutaan kali. Dengan lipsync lagu “ Chaiyya Chaiyya,” semua orang berusaha ingin mengetahui identitas Norman Kamaru.
Pria hitam manis ini dikejar sejumlah tayangan televisi untuk menjadi bintang tamu. Di mana ia hadir, Norman selalu dapat sambutan hangat dari para penggemar. Publik memperlakukan Norman bak artis besar.
Mereka histeris saat melihat pria itu di atas panggung. Mengenakan seragam kepolisian sambil membawakan lagu “ Chaiyya Chaiyya.” Penggemar juga berusaha mengejar Norman untuk mendapatkan tanda tangan atau sekadar foto bareng.
Terlena dengan popularitas, membuat Norman sering meninggalkan tugasnya sebagai polisi. Akhirnya, Selasa, 6 Desember 2011, melalui sidang kode etik di Polda Gorontalo, Norman resmi dipecat sebagai anggota Brimob.
Ia juga tak dibolehkan memakai atribut Polri dan harus menanggalkan embel-embel " Briptu' dalam namanya. Norman tak menyesali keputusannya tersebut.
Kala itu dia berpikiran tanpa ikatan sebagai polisi bisa membuat dia leluasa mengambil tawaran pekerjaan, seperti manggung atau main sinetron.
Sayangnya dia mengambil keputusan yang mungkin keliru. Setelah tak jadi polisi karir Norman mendadak surut. Minimnya pengetahuan pada industri hiburan membuat ia tak bisa menjaga karirnya dan perlahan-lahan mulai terlupakan.
© Dream
Masa keemasan Norman cuma sesaat. Nama Norman mulai memudar. Dia jarang tampil lagi di televisi, karena sepi tawaran.
" Sebenarnya sejak dipecat dari polisi saya sudah mulai berpikir ke depannya. Dunia hiburan pasti tidak selamanya menjanjikan. Bagaimana saya bisa bertahan, jalan satu-satunya buka usaha," kata Norman saat berbincang dengan Dream.
Begitu sudah mulai kehilangan 'daya pikat', Norman mulai putar otak agar dapur tetap mengebul. Ia bersama Daisy Paindong, perempuan yang dinikahinya 2012 lalu, membuka butik di Manado.
Kata Norman, penghasilan dari situ saja tak cukup. Ia pun berunding dengan istri untuk membuka usaha lain. Keduanya sepakat menjajal bisnis kuliner. Jualan bubur Manado.
Dengan modal di atas Rp 50 juta, sekalian sewa tempat, ia memulai usaha. Uang itu didapat dari gabungan uang hasil di butik dan tabungan. Ia pun menyewa tempat di apartemen Kalibata City. Soal resep, kebetulan sang istri jago memasak bubur Manado.
" Bubur ini dibuka sebelum lebaran tahun lalu. Alhamdulillah ramai terus. Sekarang ada 7 karyawan dan sudah bukan cabang di Pasar Minggu dan Mal Ancol," ujar Norman.
Norman tidak peduli kata orang tentang statusnya sekarang sebagai tukang bubur. Ia membuang jauh-jauh rasa gengsi. Semua itu justru dijadikan penyemangat dalam meniti karir di dunia bisnis.
Sang Istri, Daisy pun tak henti mengucap rasa syukur karena suami bisa bangkit dari keterpurukan. Ia tak pernah malu punya suami yang dulu tersohor kini malah jualan bubur.
" Tidak dipungkiri Norman sempat malu dan down karena cibiran banyak orang. Saya selalu kasih dia dukungan. Norman juga mau berusaha. Kini sejak tak setenar dulu dia banyak berubah. Lebih mudah bergaul dan tidak sombong," ujar Dessi melepar senyum ke Norman, yang dibalas pelukan mesra.
© Dream
Norman juga tidak menampik peran media ikut andil dalam usaha buburnya. Dia berterima kasih pada media yang sudah datang dan meliput kegiatannya jualan bubur.
Kata dia, banyak orang penasaran datang untuk merasakan lezatnya bubur buatannya itu. Salah satu pengunjung itu bernama Haji.Anas.
Haji Anas mengaku datang dari jauh-juah dari Samarinda, Kalimatan Timur, khusus untuk menjajal bubur Manado Norman.
" Saya tahunya dari pemberitaan TV. Penasaran datang, kebetulan lagi berobat ke Jakarta selama 5 hari. Rasanya lezat, murah lagi, seporsi cuma Rp15 ribu," kata dia saat ditemui Dream di warung Norman.
Warung yang buka 24 jam ini memang hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Tak heran keuntungan yang didapat pasti menggiurkan. Berapa besar?
Norman mengaku saban hari bisa menjual 200-300 porsi bubur Manado. Belum lagi dari menu di luar bubur. " Ya sehari sudah dapat Rp 3 juta, sudah alhamdulilah," kata Norman.
Meski kini sudah mendapatkan penghasilan lumayan dari bubur. Norman mengaku tak trauma kembali ke dunia hiburan. Belum lama ia juga ditawari bermain film sambil menggeluti profesi baru sebagai Disc Jockey (DJ).
" Intinya saya tetap fokus ke bisnis bubur. Untuk entertaimen buat sampingan saja sekarang. Kalau ada tawaran ya diterima. Kalau tidak ada, ya di warung bubur saja," ujarnya.
Seperti itulah roda kehidupan. Bergerak cepat layaknya roller coaster. Bisa naik-turun dalam waktu sangat singkat. Mungkin Norman tak pernah menyangka, dulu ia menenteng senjata, lalu mikropon, dan kini: panci bubur. (eh)