Pakaian Rapi Bisa Tentukan Promosi Kerja

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 18 Maret 2020 11:36
Pakaian Rapi Bisa Tentukan Promosi Kerja
Begini alasannya.

Dream – Kamu yang sering disindir terlalu lama memilih pakaian kerja bisa membalikkan ucapan rekan kerjamu. Sebuah survei membuktikan jika busana yang dipakai bisa menentukan karier seorang pegawai.

Namun patut diingat. Jangan sampai waktu kamu memilih pakaian membuat telat masuk kerja atau lebih banyak dari jam kerja kamu. 

Mengutip laman MissKyra.com, Rabu 18 Maret 2020, studi dari Sekolah Pascasarjana Manajemen Johnson di New York, Amerika Serikat, menyebut otak manusia memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan dalam sehari. Menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk memilih pakaian kerja hanyalah buang-buang energi.

Terlalu lama memilih pakaian kerja menandakan kamu termasuk tipe manusia yang kurang memiliki kemampuan saat mengambil keputusan. Nah orang-orang sukses tentu tak mau menghabiskan waktu hanya untuk berlama-lama memilih baju kerja.

Para tokoh dunia memang berpakaian ala kadarnya dan tak terlalu ribet. Sebut saja Barrack Obama yang hanya mengenakan jas abu-abu atau biru. Dia mengatakan tak ingin membuang waktu terlalu banyak untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dikenakan.

“ Saya punya terlalu banyak keputusan lain yang harus dibuat,” kata Obama.

Begitu pula dengan Mark Zuckerberg yang memakai T-shirt abu-abu yang sama setiap hari. Dia mengatakan memutuskan baju yang akan dikenakan pada pagi hari bukanlah sesuatu yang dilakukan. dikatakan bahwa itu bisa membuang energi.

1 dari 6 halaman

Solusi Tak Habis Waktu Pilih Busana Kerja

Bukan berarti kamu juga harus mengikuti saran tersebut. Terlebih jika lingkungan kerja menuntu kamu tampil dengan busana terbaik.

Solusinya adalah kamu harus pintar mengatur waktu. Stylist selebriti, Sanjana Batra, mengatakan tambahan 15 menit bagi diri sendiri bisa membuat pikiran seseorang menjadi lebih jernih.

“ Dengan tambahan 15 menit untuk diri di pagi hari, kamu dapat menjernihkan pikiran dan fokus pada hal-hal yang ingin kamu capai di siang hari,” kata Batra.

Perlu diingat bahwa menjadi pekerja keras sama pentingnya dengan berpenampilan baik. Kamu harus memastikan pergerakan karier sama cerdasnya dengan pilihan karier.

Ada tiga tips yang bisa membantumu untuk berpenampilan baik dan tidak membahayakan karier. Pertama, mempertahankan warna-warna dasar, seperti putih, hitam, dan nude.

Kedua, menggantung pakaian agar bisa ditemukan lebih cepat.

Ketiga, menetapkan laci untuk aksesoris.

(Sah, Laporan: Raissa Anjanique)

2 dari 6 halaman

2 Tips Sukses Karier Ala Menteri Basuki

Dream - Menyelesaikan masa kuliah dalam waktu 3,5 tahun tentu menyenangkan. Apalagi jika kamu mendapat peringkat cum laude. Mendapat pekerjaan dengan mudah tentu sudah ada dalam bayangan. 

Eits tapi tunggu dulu. Kuliah dengan cepat apalagi dengan biaya yang semakin mahal memang harus jadi prioritas. Ada satu hal lagi yang mesti kamu perhatikan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengingatkan Kamu setidaknya harus punya pengalaman kerja sebelum berjuang di dunia kerja yang sesungguhnya.

 

 © Dream

 

“ Jangan hanya kuliah 3,5 lulus, nanti tidak bisa apa-apa saat memasuki dunia kerja,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, kepada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, dikutip dari Kementerian PUPR, Kamis 5 Maret 2020.

Sang Menteri yang dipercaya mengelol dana triliunan rupiah untuk membangun berbagai proyek infrastruktur ini memberikan tips karier bagi mahasiswa.

Basuki menyarankan mahasiswa memiliki pengalaman kerja di lapangan. Tujuannya agar paham apa yang harus dilakukan saat menjadi insinyur.

3 dari 6 halaman

Akhlak Penting untuk Kesuksesan Karier

Di samping memiliki pengalaman lapangan, Basuki juga berpesan agar mahasiswa memiliki etika akhlakul karimah. Perilaku ini akan membuat nyaman dan bermanfaat bagi orang lain.

“ Smart is a must but not sufficient. Kesuksesan orang bukan cuma karena smart, bagi saya akhlakul karimah juga penting untuk meraih sukses," kata dia.

Basuki menekannya keberadaan seseorang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat. " Dan tidak mengancam orang lain," kata dia.

(Sah, Sumber: pu.go.id)

4 dari 6 halaman

Telecommuting, Rusak Karier Atau Sebaliknya?

Dream - Teknologi modern telah menghubungkan orang-orang dari kantor ke rumah. Meskipun perkembangan teknologi pesat, banyak orang berpikir bekerja tak perlu lagi pergi ke kantor.

Cukup dengan menggunakan teknologi komunikasi yang sudah mumpuni, melakukan pekerjaan kantor bisa dilakukan dari tempat lain alias telecommuting atau telework. 

Semisal bekerja dari rumah. Tapi apakah itu membatasi karier si karyawan?

Dikutip dari studyfinds, Sabtu 7 Maret 2020, studi yang dilakukan Laily School of Management di Rensselaer Polytechnic Institute meredakan kekhawatiran pengusaha dan pegawai. Penelitian yang terbit di Journal of Vocational Behaviour menyebut, telecommuting tak selalu merugikan karier seseorang. 

 

 © Dream


Profesor dan Kepala Manajemen Laily School, Timothy D. Golden, mengatakan beberapa pekerja enggan mencoba telecommuting karena takut merusak akrier. 

“ Penelitian ini membantu menjawab pertanyaan kritis itu: apakah akan merugikan karier jika telecommuting? Penelitian saya bergantung kepada konteks pekerjaan karyawan,” kata Golden.

5 dari 6 halaman

Begini Hasilnya

Studi ini menggunakan data perusahaan aktual pada promosi dan pertumbuhan gaji 405 karyawanm untuk mengevaluasi dampak telecommuting terhadap lintasan karir mereka.

Dalam studi ini, yang digunakan adalah data objektif berupa promosi dan kenaikan gaji. 

“ Dengan cara ini, kami bisa mulai mengungkapkan dampak sebenarnya dari telecommuting terhadap hasil karier yang mendasar,” kata dia. 

Budaya kantor, kata Golden, menjadi salah satu faktor terpenting untuk menentukan tingkat promosi karyawan.

Para karyawan ini menerima lebih banyak promosi kalau perusahaan menerima budaya kerja dari rumah. 

Para karyawan yang bekerja dari rumah akan memiliki peluang mendapatkan kenaikan gaji lebih besar jika sering tatap muka dengan perusahaan. Mereka yang memberikan jam ekstra untuk bekerja, akan mendapatkan kenaikan gaji yang lebih tinggi lagi.

6 dari 6 halaman

Ini Kelemahan Telecommuting?

Akan tetapi, ini tidak berlaku bagi mereka yang bekerja dari rumah namun tak ada budaya telecommuting dari perusahaan.

Karyawan ini bisa saja tak mendapatkan promosi atau kenaikan gaji sebanyak karyawan yang pergi ke kantor untuk bekerja.

“ Penelitian sebelumnya menunjukkan perlakuan sama untuk karyawan yang datang ke kantor dan bekerja dari rumah. Telecommuting bukanlah pengukuran kerja satu ukuran untuk semua,” kata Golden. 

Studi ini menunjukkan, faktor kontekstual penting untuk dipertimbangkan saat menentukan efek bekerja dari rumah pada promosi dan pertumbuhan gaji.

Beri Komentar