Penasaran dengan Kepribadian Rekan Kerja, Tes Pakai Cara Ini

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Minggu, 30 Juni 2019 16:01
Penasaran dengan Kepribadian Rekan Kerja, Tes Pakai Cara Ini
Terkadang orang penasaran dengan kepribadian asli seseorang.

Dream – Jika kamu penasaran dengan kepribadian seseorang, cobalah tempatkan dia di situasi yang kritis dan amati cara mereka bereaksi. Tes ini akan efektif jika kamu lakukan di kantor.

Dikutip dari studyfinds.org, Sabtu 29 Juni 2019, studi yang dilakukan oleh Ohio State University dengan Zhejiang University di Tiongkok meneliti sifat-sifat kepribadian tertentu, seperti keegoisan. Sikap ini menjadi lebih jelas ketika berhadapan dengan keputusan penting.

Hasil penelitian menunjukkan seseorang dituntut mengambil keputusan yang cepat akan melakukan hal yang sama seperti masa lalu. Sebaliknya, orang yang punya banyak waktu, akan berperilaku di luar kepribadiannya.

“ Jika tergesa-gesa, mereka akan cenderung pergi dengan bias itu,” kata salah satu penulis kajian, Ian Krajbich.

1 dari 5 halaman

Begini Metode Penelitannya

Krabjich mengatakan penelitian ini melibatkan 102 mahasiswa Amerika dan Jerman. Ada 200 putaran permainan yang biasa digunakan dalam ekperimen psikologi dan ekonomi.

Setiap permainan ini melibatkan peserta untuk memilih dengan dua cara membagi sejumlah uang nyata. Kedua opsi ini disukai peserta, tapi berbagi dengan peserta lain memerlukan uang yang besar.

" Para peserta harus memutuskan apakah akan menyerahkan sebagian uang mereka sendiri untuk meningkatkan hadiah orang lain dan mengurangi ketidaksetaraan di antara mereka," kata dia.

Krabhijch mengatakan seseorang mungkin cenderung egois. Tapi, dalam permainan ini, kamu hanya perlu memberikan US$1 dan orang lain mendapatkan US$20.

“ Itu mungkin cukup untuk membuat kamu bertindak lebih prososial,” kata dia.

Krajbich dan timnya mengatakan hasil menunjukkan perbedaan yang jelas dalam proses pengambilan keputusan orang ketika diberi waktu ekstra untuk mempertimbangkan pilihan mereka.

“ Orang mungkin masih mendekati keputusan dengan harapan bahwa mereka akan bertindak egois atau pro-sosial, tergantung pada kecenderungan mereka. Tetapi sekarang mereka memiliki waktu untuk mempertimbangkan angka-angka dan dapat memikirkan alasan untuk menentang bias mereka,” kata dia.

2 dari 5 halaman

Tunda Makan Siang Biar Produktif? Ups, Kamu Salah Banget!

Dream – Ingatlah selalu jika pekerjaan memang tak ada habisnya. Selesai dengan satu pekerjaan, akan datang tugas baru yang lain.

Meski ingin segera menyelesaikan pekerjaan, kamu jangan lupa mengistirahatkan tubuh. Momen jam makan siang sebaiknya dimanfaatkan Sahabat Dream untuk mengisi asupan. Jangan pernah menunda makan siang.

Niat hati ingin segera merampungkan tugas, menunda makan siang justru akan berakibat buruk pada tubuh dan karier kamu. Bukannya membaik, produktivitas kerjamu malah akan akan menurun.

Dilansir dari Karir.com, Senin 27 Agustus 2018, kamu yang sering telat makan akan merasa mudah capek dan lapar sekali. Ini akan menyebabkan kamu melampiaskan rasa lapar di waktu makan berikutnya.

Hal ini akan mengakibatkan jumlah makanan yang dimakan lebih banyak. Tubuh juga lebih lama mencerna dan lebih lamban dalam menghasilkan energi. Akibatnya, tubuh menjadi tidak bersemangat, mudah lelah dan lesu, serta kamu bisa jadi murung.

Kalau makan siang, aktivitas ini tak hanya menambah energi dengan asupan nutrisi dan protein, tetapi juga memacu semangat dalam bekerja.

Ketika makan siang dengan rekan kerja, komunikasimu akan lancar dan hubungan kerja akan semakin erat. Di waktu ini, kamu juga bisa bertukar informasi seputar pekerjaan atau hal-hal lainnya.

3 dari 5 halaman

Jam Kerja Pendek Tingkatkan Produktivitas, Benarkah?

Dream – Sahabat Dream, ada sebuah riset yang mengejutkan tentang jam kerja yang panjang. Waktu bekerja yang lama, bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

Malah, karyawan yang memiliki jam kerja yang panjang, cenderung rentan terkena kesehatan mental.

Itulah sebabnya pakar merekomendasikan perusahaan untuk memberlakukan jam kerja yang pendek.

Dikutip dari Enterpreneur, Kamis 26 April 2018, bekerja dengan jam kerja yang lebih pendek, diterapkan di negara maju. Misalnya, Swedia.

Negara itu menurunkan jam kerja dari 8 jam menjadi 6 jam. Beberapa kajian yang dilakukan oleh Harvard University menyebutkan, orang yang memiliki jam kerja yang baik, punya beberapa manfaat daripada orang yang bekerja lebih lama.

Bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit, terbukti meningkatkan fokus kerja karyawan, manajemen waktu, dan kepuasan secara keseluruhan. Ini akan mengarah kepada bisnis dan hasil yang menguntungkan.

Ada lima keuntungan yang akan didapat jika seorang karyawan memiliki jam kerja yang pendek. Yang pertama, karyawan itu akan punya keseimbangan karier yang lebih baik.

Keseimbangan hidup-karier yang baik ini datang ketika hidup dipenuhi dengan kesenangan. Ketika jam kerja berkurang, karyawan akan punya waktu yang lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya. Ini akan membuat kepuasan karyawan bertambah dan bisa memicu produktivitas kerja.

Yang kedua, waktu lebih jelas. Dengan jam kerja yang pendek, kamu bisa mendapatkan kejelasan yang jauh lebih baik pada timeline pekerjaan di kantor. Timeline ini bisa berupa deadline maupun agenda-agenda lain yang harus dipenuhi.

Yang ketiga, bebas kesalahan ketika bekerja. Riset menunjukkan karyawan yang kelelahan karena lembur, berpotensi melakukan kesalahan lebih banyak ketika bekerja. Dengan jam kerja yang lebih pendek, seseorang bisa lebih fokus kepada pekerjaan.

Keempat, merasa lebh bertenaga. Dengan jam kerja yang pendek, karyawan bisa beristirahat lebih lama dan bisa mengumpulkan tenaga. Dengan tenaga yang cukup, dia bisa bekerja secara efektif.

Kelima fokus. Jam kerja yang seperti ini bisa “ memaksa” karyawan untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Oleh karena itulah, karyawan harus fokus terhadap pekerjaannya. Mereka juga belajar untuk memprioritaskan tugas yang dan bekerja lebih efektif. (ism) 

4 dari 5 halaman

3 Cara Tingkatkan Produktivitas Kerja ala Miliarder

Dream – Sahabat Dream, menjadi produktif itu tak hanya sekadar bekerja di atas meja. Kita bisa bekerja di manapun, karena saat ini semua bisa terjangkau dengan mudah.

Tapi, ada juga risiko kehilangan fokus dan konsentrasi terhadap tempat maupun waktu yang salah. Lalu, bagaimana caranya untuk mengembangkan produktivitas kerja?

Alangkah baiknya berguru dengan tokoh-tokoh berikut ini, yang sukses mengembangkan diri, memelihara, dan meningkatkan produktiviitas kerja.

Sebut saja para miliarder mulai dari pendiri Facebook, Mark Zuckerberg; founder Microsoft, Bill Gates; CEO Microsoft, Satya Nadella; dan Direktur Utama Berkshire Hathaway, Warren Buffet; yang menguasai keterampilan untuk tetap produktif.

Dan inilah tips-tips meningkatkan kreativitas sebagaimana dilansir Lifehack.

Pertama, membuat perhitungan komunikasi. Komunikasi ini bisa menjadi penghalang produktivitas kerja.

Mencurahkan energi di tempat yang salah bisa membuat waktu terbuang. Bill Gates, misalnya, merupakan advokat untuk berkomunikasi melalui surat elektronik.

Dengan media ini, dia bisa merangkai kata-kata yang baik untuk berkomunikasi. Bahkan, Gates mengklaim dia sangat baik jika berkomunikasi dengan e-mail.

Meminimalkan komunikasi melalui telepon atau pertemuan bisa memberikan ruang lebih untuk berkonsentrasi kepada masalah yang lebih penting.

Ke dua, mengoptimalkan diri dengan menemukan cara bekerja yang sederhana untuk suatu masalah. Menemukan cara yang paling sederhana untuk menyelesaikan tugas bisa digunakan untuk mengambil keputusan bisnis yang penting.

Selain itu, cara ini bisa memperkecil risiko tugas yang sederhana menjadi rumit.

Ke tiga, mengurangi multi tasking. Sahabat Dream, sebuah studi menunjukkan otak tak bisa melakukan banyak hal secara bersamaan.

Jika melakukan tugas secara bersamaan, ini akan membuat kita tak bisa fokus. Kita akan menghabiskan energi dan kekuatan otak untuk beralih dari tugas satu ke tugas lainnya.

Untuk itulah, menghilangkan multi tasking bisa meningkatkan produktivitas. Selain itu, juga bisa dilakukan dengan mendelegasikan seseorang untuk mengerjakan tugas tertentu.

Dengan begitu, Anda bisa fokus menggarap satu tugas dan menyelesaikannya tanpa ada tekanan. Inilah yang dilakukan oleh Nadella di Microsoft.

“ Ciptakan produktivitas dengan memberdayakan setiap orang dan setiap organisasi di planet ini untuk berbuat lebih banyak dan mencapai lebih banyak lagi,” kata dia.

5 dari 5 halaman

3 Tips Kerja Produktif Elon Musk, Anti-Mainstream!

Dream – Nama Elon Musk tak hanya terkenal di dunia otomotif, tetapi juga di dunia bisnis. Miliarder asal Amerika Serikat ini mendirikan beberapa perusahaan terkemuka, seperti Tesla—produsen mobil listrik—dan Space X—perusahaan yang bergerak di teknologi antariksa.

Nah, Musk ini rupanya menyukai bekerja yang produktif. Bahkan, dia punya tips-tips khusus agar karyawan bisa produktif di ruang kerja.

Dilansir dari Inc, Minggu 29 April 2018, tips pertama yang dia berikan adalah menghindari rapat yang besar, lama, dan terlalu sering. Dia malah menyarankan orang untuk keluar dari ruangan rapat jika pertemuannya tidak memberikan nilai tambah terhadap pekerjaan seseorang.

“ Keluar rapat sesegera mungkin ketika kamu tidak mendapatkan nilai tambah dari rapat. Keluar dari rapat bukanlah suatu hal yang merugikan. Justru yang merugikan adalah membuat seseorang tetap tinggal dan membuang-buang waktu,” kata Musk.

Dia justru lebih menyukai rapat kecil, singkat, dan tidak terlalu sering. Kalau ada hal-hal yang mendesak atau perkembangan penting, tak apa jika rapat digelar, asal tidak terlalu lama makan waktu.

Yang kedua, Musk memilih berkomunikasi secara jelas dan langsung. Pria ini ogah menggunakan struktur hierarki dalam berkomunikasi. Dia berpendapat komunikasi yang baik adalah percakapan yang mengalirkan informasi di setiap level.

“ (Biasanya) untuk menyelesaikan sesuatu antar departemen, tak jarang seorang kontributor berbicara dengan manajernya, lalu manajer berbicara dengan direktur, kemudian, direktur berbicara dengan Vice President (VP). Lalu, VP berbicara dengan direktur departemen lain, direktur berbicara dengan manajer, dan manajer berbicara dengan bawahnnya. Kemudian, sesuatu yang super bodoh akan terjadi,” kata dia.

Yang ketiga, kata Musk, tak ada salahnya jika aturan perusahaan dilanggar kalau tak sesuai dengan akal sehat. Dalam situasi tertentu, taat kepada aturan perusahaan justru akan memperburuk keadaan.

“ Secara umum, selalu pilih akal sehat sebagai panduan kamu. Kalau mengikut aturan perusahaan, jelas konyol untuk situasi tertentu,” kata dia.

(Sah)

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik