WMA (3): Perjuangan Ustazah Bogor di Ajang World Muslimah

Reporter : Syahid Latif
Senin, 24 November 2014 18:38
WMA (3): Perjuangan Ustazah Bogor di Ajang World Muslimah
Satu-satunya wakil Indonesia di final. Bahasa Inggris sempat menyandera. Pembaca Alquran terbaik.

Dream - Tubuh Lulu Susanti gemetar. Kepala tersandar di dinding. Lemas. Di dalam ruang rias itu, mulut perempuan berhijab ini terus bergumam. Membisikkan doa. Menguatkan hati yang tak lagi bergairah.

Tiba-tiba, mata kuyu itu menjadi berbinar. Wajah pucat seketika cerah, menegaskan paras yang ayu. Di ujung pagelaran World Muslimah Award 2014 itu, namanya disebut sebagai pemenang the Best Alquran Recitation alias pembaca Alquran terbaik.

“ Ya Allah, ini bagaimana Ya Allah,” tutur Lulu setengah tak percaya, sambil mengguncang-guncang tubuh Kusmiati, wartawan Dream.co.id, yang meliput malam puncak final ajang tahunan itu di Yogyakarta, Jumat malam, pekan lalu.

Air mata yang telah lama ditahan, akhirnya jatuh juga. Lulu memang terkejut. Tak menyangka bakal meraih penghargaan itu. Saking gembiranya, dia langsung bersujud syukur kala penobatan di atas panggung.

“ Saat bersujud, saya bersyukur dalam hati, Ya Allah, Alhamdulillah aku diizinkan untuk menginjakkan kaki ke Eropa,” tutur perempuan yang dikenal sebagai ustazah idola kaum ibu ini dengan bibir bergetar.

Dengan penghargaan itu, Lulu memang berhak melenggang ke Eropa. Namun dia bingung mau melakukan apa selama tur itu. “ Mungkin kalau aku dapat hadiah umrah, arahku jelas untuk beribadah kepadaMu. Tapi ke Eropa, Ya Allah, entah apa yang saya akan lakukan di sana,” tambah dia.

Rasa bingung boleh merubung. Namun otak yang cerdas bisa berpikir tangkas. Dalam sekejap, perempuan 28 tahun ini sudah punya gambaran. Dia tak mau tur ke Benua Biru kelak terlewat tanpa manfaat. Sehingga, rencana berdakwah pun telah tersusun di benaknya.

“ Saya yakin ini jalan Allah. Nanti saya akan membawa Ina --boneka yang selalu menemaninya berdakwah-- menemui anak-anak yang kurang beruntung di sana, anak yatim dan kaum duafa. Bismillah semoga dilancarkan Allah,” ujar pendakwah yang gemar mendongeng itu.

10 Besar

Menjadi the Best Alquran Recitation memang bukan prestasi tertinggi di ajang World Muslimah Award. Mahkota tertinggi ajang ini disandang oleh kontestan asal Tunisia, Fatma Ben Guefrache. Dari 25 finalis dari 15 negara, Fatma dianggap paling layak juara.

Namun bukan berarti Lulu gagal total. Perempuan kelahiran Bogor, 3 April 1986, itu menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertahan hingga babak 10 besar. Elis Solihah, Gesti Nur Ula Deraputri, Molina Ulfah Ramadhan, Primadita Rahma Ekida, Safitri Rahmadani, dan Siti Fathimah Junyanti Irfan, yang bersama Lulu mewakili Indonesia, sudah gugur sebelum tahap tersebut.

Persaingan pada tahap 10 besar memang ketat. Sepuluh finalis mengeluarkan seluruh potensi. Menghadapi tantangan dari para juri. Dan Lulu yang sudah malang-melintang di layar kaca pun masih saja gugup ketika memasuki babak tersebut.

“ Ya Allah, entah bagaimana nanti di sana. Saya tidak terlalu pintar Bahasa Inggris. Doakan, doakan, doakan saya,” tutur Lulu, sambil memeluk reporter Dream.co.id Kusmiati yang setia mendampinginya, sebelum naik ke panggung babak 10 besar. Tubuhnya gemetar. Tangannya dingin. Suaranya tertahan di kerongkongan.

Bagi Lulu, babak ini sangat mendebarkan. Dia berusaha meredam adrenalin. Menenangkan diri. Saat melangkah ke atas panggung, sorak-sorai penonton menggema. Memberi dukungan kepada satu-satunya wakil Indonesia di babak 10 besar itu. Penampilan Lulu sungguh anggun. Gaun buatan perancang kondang, Dian Pelangi, membuatnya tampak lebih cantik.

Pada babak ini, Lulu ditanya oleh juri tentang keinginannya di masa depan. Setelah pertanyaan selesai dibacakan, Lulu meminta izin kepada juri untuk menjawabnya dengan Bahasa Indonesia. “ Saya ingin nantinya memiliki tempat singgah untuk bisa menampung banyak yatim dan duafa,” kata perempuan yang tinggal di Depok ini.

Tapi, sebelum Lulu selesai menjawab, pembawa acara memotong kata-katanya. Dia diminta menjawab pertanyaan juri dengan Bahasa Inggris yang dinilai lebih universal. Namun sayang, waktu 60 detik yang diberikan juri tak cukup bagi dia untuk menjawab sempurna.

Inilah awal penyesalan Lulu. Saat turun panggung, tubuhnya lemas. Badan semampai itu terhempas di pinggir ruang rias. Duduk termenung, meratapi penampilan di atas panggung. Wajahnya berubah pucat. Seri di rona wajah pun perlahan sirna.

“ Aduh, kenapa tadi pakai bahasa Indonesia, habis daripada lidah saya ribet ngomong-nya, ya sudah pakai Bahasa,” sesal mahasiswi pascasarjana Ilmu Tafsir Perguruan Tingi Ilmu Alquran, Jakarta, ini.

“ Rasanya mau memeluk ibu,” kata Lulu. Matanya berkaca-kaca, namun dia bendung sekuat tenaga. Sang ibu yang semula duduk di kursi VVIP datang menghampiri. “ Tidak apa-apa, kamu sudah memberikan yang terbaik untuk Ibu,” kata sang ibu menenangkan anaknya.

Dan kata-kata sang ibu pun mujarab. Hati Lulu kembali tenang. Rasa optimis meruap. Senyum lebar pun merekah. “ Aku tak memeluk Ibu ya, nanti malah nangis kencang,” ujar Lulu sambil memegang erat tangan reporter Dream.co.id yang berada di sampingnya.

Sepuluh finalis yang masuk babak ini selesai unjuk gigi. Juri yang berunding sudah memberi nilai. Nama-nama kontestan yang berhak masuk babak 5 besar pun diumumkan. Dan nama Lulu Susanti, tak ada dalam daftar. Sungguh sayang.

“ Ya Allah, itu jadi pembelajaran untuk saya. Saya mau ambil kursus Bahasa Inggris kalau begitu,” ujar Lulu masih menyesali penampilannya di babak 10 besar.

Tak Terlupakan

Bagi Lulu, pengalaman sebagai peserta World Muslimah Award tak akan dilupakan. Selain menambah wawasan, ajang ini telah menambah bilangan saudara. Sebab, peserta dari berbagai negara itu telah dianggapnya sebagai keluarga. “ Ini bukan persaingan, jadi saya merasa tidak ketat atau bagaimana. Alhamdulillah, saya menikmati,” tutur dia.

Ajang ini, kata dia, harus tetap ada. Sebab, telah menjadi contoh dan menginspirasi banyak muslimah muda. “ Dan ini jadi ajang silaturahmi juga dari berbagai negara yang memiliki kebudayaan dan banyak hal yang berbeda,” kata dia.

“ Kita jadi saling belajar satu sama lainnya. Kami juga bisa bersatu dalam semangat dakwah di bidang yang berbeda-beda, menyatukan tujuan menjadi sosok yang bermanfaat untuk sekitarnya,” tutur peserta yang pandai mengocok perut finalis lain selama ajang ini.

Lulu juga setuju apabila World Muslimah Award berikutnya diselenggarakan di negara lain. Dengan demikian, warna ajang ini tak melulu Indonesia. “ Jadi kita semua, muslimah dunia, menjadi kaya akan pengalaman, warna yang berbeda. Mengenal kebudayaan, sosial, ekonomi, dari negara lainya.”

Dan, pada ujung malam itu akhirnya nama pemenang Muslimah Award 2014 diumumkan. Secara mengejutkan, walau dia melakukan kesalahan kecil tidak bicara bahasa Inggris saat ditanya juri, Lulu diumumkan sebagai salah satu pemenang. Ia dinobatkan sebagai pembaca Alquran terbaik. Agaknya, perjuangan Ustazah asal Bogor ini tidak sia-sia… (eh)

Laporan: Kusmiyati

Beri Komentar