Pertama Kali Jadi Ketua Presidensi G20, Apa Untungnya Buat Indonesia?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 15 September 2021 14:47
Pertama Kali Jadi Ketua Presidensi G20, Apa Untungnya Buat Indonesia?
Indonesia akan menerima tongkat estafet presidensi forum itu dari Italia.

Dream – Pemerintah Indonesia bersiap menyelenggarakan KTT G-20 pada 2022. Untuk pertama kalinya Indonesia akan menerima mandat sebagai Ketua Presidensi dari organisasi dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Dikutip dari setkab.go.id, Rabu 15 September 2021, Presiden Joko Widodo akan bertolak ke Roma, Italia pada 30-31 Oktober 2021. Presiden akan menerima tongkat estafet kepemimpinan presidensi saat penutupan KTT G-20 di Roma.

“ Di sana, Bapak Presiden akan menerima secara resmi penyerahan tongkat estafet Presidensi G-20 dari PM Italia kepada Presiden Republik Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Airlangga melanjutkan periode Presidensi G-20 yang dipegang Indonesia akan mulai berlaku sejak 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022. Sekadar informasi, ini merupakan pertama kalinya Indonesia menjadi presidensi G-20 sejak forum itu dibentuk pada 1999.

1 dari 4 halaman

Apa Manfaat Buat Indonesia?

Airlangga mengatakan, dalam presidensi ini, Indonesia mengusung tema “ Recover Together, Recover Stronger” atau “ Pulih Bersama, Bangkit Bersama”. Ada tiga manfaaat yang diperoleh Indonesia, baik dari sisi ekonomi, pembangunan sosial, maupun politik.

Pada aspek ekonomi, kunjungan delegasi negara G20 akan dapat meningkatkan konsumsi domestik, peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), hingga menyerap tenaga kerja.

“ Di aspek ekonomi, beberapa manfaat langsung adalah peningkatan konsumsi domestik yang diperkirakan bisa mencapai Rp1,7 triliun, penambahan PDB hingga Rp7,47 triliun, dan pelibatan tenaga kerja sekitar 33 ribu di berbagai sektor,” kata dia.

Hal tersebut diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan saat Indonesia menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF)-World Bank Annual Meeting di Nusa Dua, Bali, tahun 2018 lalu.

“ Diharapkan secara agregat ini akan beberapa kali 1,5-2 kali daripada efek yang dicapai dalam pertemuan IMF-World Bank di tahun 2018 yang lalu, karena pertemuan ini berjalan sekitar 150 pertemuan selama satu tahun atau selama 12 bulan,” kata dia.

2 dari 4 halaman

Ajang Pamer Keberhasilan UU Cipta Kerja

Selain itu, tambah Airlangga, pertemuan ini juga dapat dijadikan momentum bagi Indonesia untuk menampilkan keberhasilan reformasi struktural berupa dikeluarkannya Undang-Undang Cipta Kerja dan Lembaga Pengelola Investasi (Sovereign Wealth Fund/SWF).

“ Tentunya ini akan mendorong confidence dari investor global untuk percepatan pemulihan ekonomi dan mendorong kemitraan global yang saling menguntungkan,” kata dia.

Sementara itu, dari aspek pembangunan sosial, Indonesia berpeluang mendorong topik terkait produksi dan distribusi vaksin. “ Kami terus mendorong agar vaksin ini menjadi global public goods dan aksesibilitasnya bagi masyarakat Indonesia dan negara berkembang yang berpendapatan rendah,” kata Airlangga. 

3 dari 4 halaman

Sosok Menteri di Kabinet Kerja yang Dipuji Jokowi Berkarier Sukses

Dream - Presiden Joko Widodo mengingatkan perguruan tinggi untuk memberikan peluang bagi mahasiswa mengembangkan talenta yang dimilikinya. Harapan ini disampaikan dengan mengambil contoh sosok Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Jokowi, Budi Gunadi adalah salah satu contoh seseorang yang bisa berkarier jauh dari ilmu yang diperolehnya semasa kuliah.

" Ia seorang Insinyur Teknik Fisika Nuklir yang menjadi bankir," tulis Jokowi dalam unggahannya saat memberikan sambutan di Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia di Universitas Sebelas Maret, Kota Surakarta baru-baru ini.

Jokowi mengatakan kariernya Menkes pilihannya melesat sampai puncak kala berkarier di dunia perbankan. Posisi tertingginya adlah sebagai Dirut PT Bank Mandiri Tbk yang merupakan salah satu bank pemerintah terbesar.

" Dan sekarang, Pak Budi melompat lagi menjadi Menteri Kesehatan," lanjut presiden.

 

4 dari 4 halaman

Harapan Presiden ke Perguruan Tinggi

Presiden Joko Widodo singgung sosok Menkes© Instagram

Belajar dari perjalanan Menkes, Jokowi menyiratkan pesan kepada dunia pendidikan tinggi agar memfasilitasi para mahasiswa untuk mengembangkan talentanya dan mengubah pola-pola lama agar dapat mengatasi perubahan dunia.

Presiden juga meminta perguruan tinggi untuk memfasilitasi para mahasiswa untuk mengembangkan talenta yang belum tentu sesuai dengan pilihan program studi, jurusan, maupun fakultas.

Sering kali pilihan studi jurusan, dan fakultas yang dipilih mahasiswa tidak selalu berdasarkan pada talenta. Kadang kala ketidakcocokan itu baru terasa saat mahasiswa menjalani kuliah.

Tak menyarankan mahasiwa yang `salah arah` untuk pindah program studi, jurusan, atau fakultas pilihannya, Presiden justru mengusulkan perguruan tinggi memperbanyak mata kuliah pilihan.

Ada keragamanan mata kuliah ini diharapkan bisa memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengambil kuliah sesuai talentanya.(Sah)

Beri Komentar