Ilustrasi
Dream - Sesuai prediksi, inflasi tahun 2014 akhirnya melonjak di atas target pemerintah seiring kenaikan sejumlah komponen harga masyarakat, utamanya Bahan Bakar Minyak (BBM). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahun 2014 berada di level 8,36 persen.
Sebelumnya pemerintah menetapkan target inflasi 2014 dalam APBN-P 2014 berada di rentang 5,3-7,3 persen. Adanya kenaikan harga BBM bersubsidi membuat target inflasi berubah dengan kenaikan 2 persen.
Laporan BPS menyebutkan inflasi komponen inti di Desember 2014 mencapai 1,02 persen dengan inflasi inti secara tahunan (yoy) mencapai 4,93 persen. Tingginya angka inflasi ini dipicu kenaikan harga BBM subsidi.
" Inflasi Desember 2,46 persen sehingga inflasi tahunan 8,36 persen. Pada Desember ini semua kota mengalami inflasi," kata Kepala BPS, Suryamin dalam keterangan pers di kantornya, Jakarta, Jumat, 2 Januari 2014.
Dari 82 kota IHK, inflasi tertinggi tercatat di Merauke 4,53 persen dan inflasi terendah Meulaboh 1,17 persen.
Pada akhir tahun ini, sumber inflasi terbesar berasal dari sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Kenaikan tarif angkutan umum membuat terjadinya pembengkakan laju inflasi yang menyumbang sebesar 2,46 persen.
" Andilnya kepada inflasi sebesar 1,06 persen," katanya.
Adanya kenaikan tarif angkutan juga berdampak pada inflasi pada sektor makanan. Di sektor ini, laju inflasi mencapai 3,22 persen dengan andil 0,64 persen.
" Kemudian itu berpengaruh pada makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan inflasi 1,96," tambahnya.
Selain BBM, inflasi dari kelompok komponen energi juga dipengaruhi kenaikan tarif listrik yang dilakukan pemerintah setiap 2-3 bulan. Kenaikan harga gas elpiji 3 Kg juga ikut menyumbang andil kenaikan inflasi Desember 2014.
" Jadi ini mempengaruhi inflasi yang diatur pemerintah mencapai 6,10 persen. Sedangkan inflasi barang bergejolak juga tinggi mencapai 3,56 persen," tutupnya.