Swalayan TipTop, Kisah Sukses Minimarket Islami (I)

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 19 Februari 2015 11:01
Swalayan TipTop, Kisah Sukses Minimarket Islami (I)
Minimarket 400 meter persegi harus diperluas. Rumah terpaksa diikhlaskan untuk dibongkar.

Dream - Berbekal tempaan pendidikan berniaga sang Ayah dibarengi ajaran akhlak berdagang, bisnis swalayan TipTop semakin besar. Berbeda dengan supermarket lain, TipTop memegang teguh prinsip Islam dalam menjalankan bisnisnya.

Adalah Rusman Maamoer, pendiri Swaslayan TipTop yang berhasil mengubah minimarketnya menjadi sebuah supermarket. Bersaing dengan peritel-peritel lain yang dibantu permodalan pengusaha besar.

Cerita sukses bisnis Rusman dimulai ketika dirinya masih bocah. Di usia 11 tahun, ayah Rusman memberikannya modal untuk membuka usaha.

" Kamu mau dagang apa, terserah!" kenang Rusman menirukan pesan sang ayah seperti dikutip Dream dari laman Pengusahamuslim.com Kamis, 19 Februari 2015.

Berbekal uang itu, Rusman berjualan kelapa. Sebuah gerobak menjadi modal Rusman menjajakan dagangannya. Jarak 10 kilometer kerap harus dilaluinya.

Bisnis Rusman sempat berhenti. Pendidikan tetap menjadi prioritas hidup bagi sang Ayah. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rusman sempat terjun ke dunia kerja. Jabatan Direktur Bank Pembangunan Daerah sempat disandangnya.

Namun panggilan berbisnis begitu kencang. Tekadnya bulat. Rusman hanya ingin bekerja selama tujuh tahun di BPD. Jalan bisnis jadi pilihannya.

Pilihan itu tak semulus yang dibayangkan. Beberapa kali jatuh bangun membangun usaha, Rusman memutuskan melalangbuana ke Benua Biru, Eropa. Tujuannya, mereguk informasi sebanyak mungkin soa bisnis yang akan dijalaninya.

Puas dengan ilmu yang diperolehnya, Rusman mantap memulai bisnis baru. Minimarket menjadi pilihannya. Sebuah toko seluas 400 meter persegi jadi pijakan pertamanya. Nama TipTop dipilih untuk memulai bisnisnya tersebut.

Tekad Rusman membangun bisnis begitu besar. Terjun langsung memburu barang-barang jualan rela dilakoni. Pergi ke pasar tradisional membeli bawang, cabai jadi kegiatan rutinnya.

Sejak memulai bisnis swalayan, Rusman sudah memantapkan hati. Bisnisnya ini harus berjalan dengan prinsip Islami. Haram baginya menjual minuman keras apalagi daging babi.

" Saya juga selektif memilih barang. Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya Islami atau tidak, saya tolak," kenang Rusman.

Ajaran Nabi Muhammad dalam berdagang juga juga rujukan Rusman. Prinsip berdagang sesuai dengan hati nuraninya, tidak menipu, mencelakakan atau menganiaya orang selalu dipegangnya. Baginya, untung 2 sampai 3 persen saja sudah cukup.

Lambat laun bisnis Rusman terus berkembang. Swalayan dengan prinsip Islami direspon positif masyarakat. Sambutan publik terhadap Tip Top benar-benar diluar bayangan Rusman.

Lahan seluas 400 M2 sdah tidak lagi mencukupi. Hampir setiap tahun, swalayan TipTop di Rawamangun itu harus diperluas. Bagian rumah harus rela dibongkar untuk mengembangkan mini marketnya.

Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi Pasar Swalayan, dengan luas 3000 M2 dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat. (Ism)

Next >>> Ujian Datang....

 

Beri Komentar
#Q&A - Dream Inspiring Woman 2018