Semangat Teknisi Pesawat Bergaji Rp49 Juta Banting Setir Jadi Tukang Servis AC

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 9 April 2020 18:36
Semangat Teknisi Pesawat Bergaji Rp49 Juta Banting Setir Jadi Tukang Servis AC
Gara-gara krisis ekonomi, dia sempat merasa stres luar biasa.

Dream – Melihat kondisi ekonomi yang tidak stabil di tengah pandemi corona menuntut setiap orang untuk memutar otak memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi saat perusahaan menerapkan kebijakan cuti tanpa digaji.

Prinsip itulah yang dipegang seorang pria asal Thailand bernama Folkky Chutiphong dan keluarganya.

Dikutip dari World of Buzz, Kamis 9 April 2020, awalnya ia bekerja sebagai seorang teknisi pesawat terbang dengan gaji lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Penghasilannya mencapai 100 ribu baht atau Rp49,34 juta per bulan.

Akibat krisis ekonomi yang terjadi saat ini, perusahaan mengirimkan memo kepada Chutiphong yang menyatakan dia dirumahkan untuk sementara waktu. Chutiphong menyebutkan, ketika penghasilannya berhenti, pengeluarannya terus menumpuk dan membuatnya stres yang luar biasa.

Stres yang dialaminya kemudian hilang seketika saat ia melihat wajah putranya. " Aku tidak bisa stres seperti ini. Aku perlu mencari sesuatu yang menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga," kata dia dalam hati.

1 dari 5 halaman

Banting Setir Jadi Teknisi AC

Chutiphong kemudian berdiskusi dengan seorang teman dan memiliki ide untuk membuat perusahaan jasa pembersih AC. Bisnis ini dipilih karena Thailand biasanya sangat panas ketika bulan musim panas tiba. Di saat bersamaan banyak warga Thailand memilih tinggal di dalam rumah sehingga bisnis ini diyakini bakal bersinar.

Bersama temannya, Chuthipong kemudian mendirikan bisnis membersihkan AC bersama. Selama lebih dari seminggu, mereka telah membersihkan lebih dari enam AC per hari.

Mereka mengenakan biaya pembersihan AC 350 baht sekitar Rp150 ribu-170 ribu masing-masing untuk membersihkan lebih dari tiga unit AC.

Berdasarkan harga yang diberikan, keduanya dapat menghasilkan sekitar 2.100 baht (Rp1,04 juta). Selama enam hari beroperasi dalam sepekan, mereka masing -masing dapat menghasilkan 50.400 baht (Rp24,87 juta) per bulan.

Meskipun tidak sebanyak yang ia dapatkan dari pekerjaan sebelumnya, Chutiphong mengatakan ia akan terus bekerja untuk keluarga dalam masa-masa sulit ini.

2 dari 5 halaman

Nganggur Karena Corona, Bapak Tua Diselamatkan Sepeda

Dream – Virus corona telah berimbas kepada banyak hal di kehidupan manusia. Tak hanya kesehatan, virus ini juga menyerang sektor ekonomi.

Tak sedikit usaha yang gulung tikar akibat pandemi Covid-19. Begitu pula dengan para pekerja informal terpaksa menganggur karena corona.

Seperti yang dialami oleh pria paruh baya asal Singapura, Ah Guai.

 

 © Dream

 

Dikutip dari Diadona, Rabu 1 April 2020, dia kehilangan satu-satunya pekerjaan yang dimiliki. Hal ini diperparah dengan kondisi fisik Ah Guai yang sudah terlalu tua serta keterbatasan skill sehingga hanya bisa mengerjakan pekerjaan fisik.

Ah Guai pun sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain. Kondisi ini diketahui dari pemilik Jun Yuan House of Fish. Toko ini adalah toko ikan langganan Ah Guai.

3 dari 5 halaman

Berbekal Sepeda dan Semangat

Waulaupun usianya sudah tidak produktif dan keterampilannya terbatas, Ah Guai punya dua hal yang membuat pemilik toko ikan merekrutnya. Dua hal itu adalah semangat dan sepeda.

Dengan dua hal itu, Ah Guai pun direkrut untuk menjadi pengantar ikan. Strategi yang baik mengingat saat ini masyarakat juga menerapkan karantina di rumah sehingga pembelian dengan jasa antar akan lebih memudahkan untuk berbelanja.

Semua pembelian di Juan Yuan House of Fish nantinya akan diantarkan oleh Ah Guai bersama sepedanya. Pembeli hanya diminta biaya tambahan sebesar 1 dollar Singapura atau Rp11.500.

Jumlah itu memang tak memberatkan pembeli, tapi berarti bagi Ah Guai untuk menyambung hidup. Gerakan ini memang sangat sederhana, pemilik usaha yang masih bisa menjalankan usahanya membantu mereka yang kehilangan sumber penghasilan.

4 dari 5 halaman

Kisah Haru Penjual Nasi di Tengah Corona, Memohon ke Pembeli Datang Kembali

Dream – Imbauan jaga jarak (social distancing) membuat banyak pegawai kantoran memilih bekerja dari rumah dengan nyaman. Namun di luar sana masih banyak orang yang dengan sangat terpaksa tetap mencari uang di luar rumah saat pandemi virus corona.

Perjuangan mereka tak berhenti sampai di situ saja. Untuk mendapatkan uang ratusan ribu, mereka harus membuka toko lebih dari 12 jam.

Dikutip dari World of Buzz, Selasa 31 Maret 2020, seorang warganet Malaysia bernama Gary Chong berbagi kisah saat berjumpa dengan penjaja warung makanan. Kala itu, Gary hendak keluar rumah untuk membeli barang di toko kelontong.

 

 © Dream

 

“ Saat mengemudi, saya melewati salah satu kedai kopi jajanan lokal favorit. Saya kebetulan melihat ada tiga kios jajanan terbuka,” kata dia.

Gary memesan tiga paket nasi ayam. Saat membeli dagangan, Gary bercerita sang penjual mengeluh harus buka warung dari jam 07.00 sampai 23.00. Selama jam buka warung, penjual hanya mengantongi uang 100 ringgit-180 ringgit (Rp377.780-Rp680.004).

“ Penjual melanjutkan akan berhenti jika bisnisnya berjalan seperti ini selama dua minggu lagi,” kata Gary.

Malah, kata dia, sang penjual memohon kepada Gary untuk membeli makanannya lagi pada malam hari. Dikatakan bahwa sang penjual akan memberikan ekstra daging di paket-paket yang dibelinya.

5 dari 5 halaman

Sadari Hal Ini

Ini membuat Gary tersadar. Masalahnya tak hanya berakar kepada kurangnya pembeli akibat masa karantina yang ditetapkan oleh pemerintah Malaysia, tetapi juga ketidaktahuan terhadap perkembangan teknologi. Penjual makanan ini juga cemas jika konsumen keberatan dengan harga makanan yang bisa melonjak saat didaftarkan di platform pesan antar.

Saat ditawari bantuan secara finansial, penjual makanan itu menolaknya. Dikatakan bahwa uang dari pembeli masih cukup baginya.

Gary pun datang lagi pada malam hari. Dia membeli nasi dengan setengah ayam. Diselipkan uang dalam nominal besar di nampan. Itu pun tak disadari oleh penjual.

Pria ini menyadarkan masyarakat bahwa tak semua penjual melek teknologi. Dia meminta masyarakat untuk lebih sering membeli makanan di kios-kios di sekitar lingkungan. Kalau perlu, ajaklah berkomunikasi agar interaksi sosial semakin akrab.  

Beri Komentar