Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Berangkat haji adalah impian semua muslim. Namun antrean panjang membuat sebagian orang memutuskan melakukan haji kecil, atau bisa dikenal umrah.
Keinginan tersebut semakin mudah terwujud karena semakin banyak agen perjalanan haji dan umrah yang menawarkan harga miring. Bahkan biaya yang ditetapkan lebih murah dibandingkan standar yang ada.
Namun pertanyaannya, amankah menggunakan travel umrah dan haji dengan biaya sangat murah?
Direktur Utama ASBIHU Tour and Travel KH Hafidz Taftazani mengutip laman nu.or.id berharap para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberi kesadaran kepada masyarakat supaya tidak mudah tergiur dengan promosi biaya murah perjalanan umrah.
Imbauan ini disampaikan mengingat banyak jemaah umrah yang justru ditelantarkan atau malah gagal berangkat.
“Jangan justru membiarkan, atau malah menjadi iklan dari perjalanan umrah yang murah. Karena umumnya tokoh agama atau tokoh masyarakat akan dimudahkan mengikuti perjalanan umrah yang murah,” kata Kiai Hafidz.
Menurutnya, agen perjalanan umrah yang hanya mengenakan biaya sekitar Rp14-15 juta menggunakan perhitungan di luar nalar sehat.
“Nalar kita nggak bisa menerima itu. Harga tiket pesawat saja bisa mencapai 1000 dolar, biaya visa 75 dolar. Itu kalau dirupiahkan sudah sekitar 15 juta rupiah. Belum lagi untuk perlengkapan, penginapan, dan biaya selama di Mekah,” kata Kiai Hafidz.
Tren biaya murah perjalanan umrah semakin menjamur setelah adanya model bisnis Multi Level Marketing (MLM) atau subsidi. Jamaah di suatu daerah berangkat umrah karena subsidi dari jamaah dari daerah lain.
“Misalnya jamaah Jakarta disubsidi jamaah Surabaya. Berikutnya jamaah dari Surabaya berangkat karena subsidi dari jamaah Kalimantan. Jamaah dari Kalimantan disubsidi oleh jamaah Sulawesi, dan seterusnya.”
Kiai Hafidz menduga, sistem seperti itu hanya bisa bertahan 5-8 tahun. Di tahun kedelapan, perusahaan biasanya tidak bisa lagi menemukan calon jamaah yang uangnya digunakan untuk menyubsidi jamaah yang lebih dulu berangkat.
Akibatnya, pihak perusahaan kabur atau menghilangkan jejak dari jamaah yang sudah mendaftar dan membayar. Jika demikian, calon jamaah jelas menjadi bagian yang sangat dirugikan.(Sah)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari