Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pabrik Toshiba (Wikipedia)
Dream - Dua produsen alat elektronik asal Jepang, Toshiba dan Panasonic, menutup pabrik mereka. Akibatnya, ribuan tenaga kerja di kedua pabrik itu kehilangan mata pencaharian.
Panasonic Lighting Indonesia (PLI) di Pasuruan, Jawa Timur, telah berhenti beroperasi sejak awal Januari. Sementara, Toshiba menutup pabrik mereka di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut ada 2.500 orang kehilangan pekerjaan.
Muncul rumor, yang menyebut bahwa penutupan kedua pabrik elektronik itu terkait dengan kegagalan Jepang dalam mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Penutupan pabrik-pabrik itu memang dilakukan setelah Indonesia memutuskan menjalin kerjasama dengan China untuk membangun kereta cepat itu.
Tapi, desas-desus itu ditepis oleh Istana. Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, menyatakan penutupan kedua pabrik itu tak terkait sama sekali dengan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikerjakan oleh BUMN China.
“ Kebetulan kemarin saya berbicara dengan manajemen mereka, intinya sebenarnya mereka bukan menarik tetapi memang karena adanya penurunan kapasitas sehingga melakukan relokasi, dan ini sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kereta cepat ya,” kata Pramono, sebagaimana dikutip Dream dari laman setkab.go.id, Kamis 4 Februari 2016.
Menurut Pramono, kedua perusahaan itu akan merelokasi pabrik mereka ke Bogor. Sehingga, kedua perusahaan itu memberikan pilihan kepada tenaga kerjanya, apakah mau pindah ke tempat yang baru. Jika tidak bersedia, lanjut Pramono, kedua perusahaan itu akan menerima tenaga kerja baru.
China bukan satu-satunya negara yang memiliki proyek besar di Indonesia. Jepang juga memiliki sejumlah proyek yang nilainya hampir sama. “ Karena di beberapa hal yang nilainya, value-nya, hampir sama dengan nilai kereta cepat mereka juga mengerjakan.”
“ Misalnya di project electricity, kemudian nanti di perhubungan. Sehingga sama sekali tidak ada hubungan urusan kereta cepat,” tambah Pramono.
Dia mengaku sudah mendapat konfirmasi langsung. “ Kemarin malah mereka yang menelpon karena untuk dilaporkan kepada bapak presiden,” jelas Pramono.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya