Umrah Ojek Ikhlas Pak Soleh

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 9 Mei 2016 20:50
Umrah Ojek Ikhlas Pak Soleh
Semua tak diukur dengan uang. Hanya keikhlasan. Saat pintu rezeki dibuka. Pak Soleh menginjakan kaki di tanah suci.

Dream - Hawa panas begitu menyengat. Sesekali tiupan angin menyibak pohon mangga di depan rumah di Jalan Akmalia VII Blok D3B, 25 Bumi Sawangan Indah Depok, Jawa Barat.

Gerbang besi berwarna perunggu rumah itu terkunci rapat. Pun dengan pintu rumahnya. Sepi. Tak ada penghuni yang terlihat.

Dua buah helm tergantung berdampingan. Satu berwarna putih, satu lagi berwarna oranye. Di sebuah sudut, dua gelas plastik sisa penghuni tertinggal. 

Kala seorang tukang bangunan di samping rumah itu menyapa. Lelaki paruh baya itu mengatakan si empunya rumah sedang pergi. Si pemilik rumah dan istrinya sedang menjalankan ibadah umrah di tanah suci.

" Pak Soleh dan istrinya sedang umrah Mas. Sudah seminggu ini," kata tukang bangunan itu, Selasa, 3 Mei 2016 kepada Jurnalis Dream, Maulana Kautsar.

Kabar keberangkatan Sutriarno Soleh dan istrinya ke tanah suci memang sudah menyebar. Seorang tetangga Soleh juga mengetahui kabar tersebut.

" Mungkin beberapa hari lagi sudah balik mas," kata perempuan yang tinggal di samping rumah Soleh sembari terburu-buru pergi.

Soleh dan istrinya memang baru mendapat kesempatan beribadah umrah. Seorang Hamba Allah bersedia menanggung biaya mereka. Pasangan suami istri itu telah berangkat ke tanah suci, Selasa, 26 April 2016.

" Alhamdulillah selama perjalanan umrah berjalan lancar," kata Soleh, yang akhirnya bisa ditemui Dream, Sabtu, 7 Mei 2016.

Rona wajahnya begitu bahagia. Tak ada bekas kelelahan setelah dua pekan tinggal di Tanah Suci. Untaian rasa syukur tak henti terucap dari mulut Soleh. Dia masih tak menyangka. Bagai masih bermimpi bisa beribadah di tanah kelahiran Nabi Muhammad. 

" Alhamdulillah semuanya lancar-lancar saja," ucap dia.

Hanya rasa takjub yang dia rasakan. " Semuanya indah," ujar dia singkat.

***

 

1 dari 2 halaman

Saya Tahu Rasanya Tak Punya Uang

Pergi keluar negeri, apalagi umrah, awalnya hanya mimpi buat Soleh. Bagaimana tidak, hidupnya serba pas-pasan. Pekerjaan sebagai pengojek cuma cukup untuk makan keluarga. Muskil menyisihkan rupiah demi ibadah haji kecil.

Sebagai pengojek, hidup Soler juga penuh ketidakpastian. Kadang banyak penumpang diangkut. Hari lainnya lebih banyak beristirahat di rumah. Belum lagi, saling sikut dengan pengojek lain demi meraup rupiah.

" Sehari paling dapat Rp30ribu sampai Rp50ribu," lirih pria 66 tahun itu.

Tetapi, Soleh tak surut. Rezeki sepeser apapun tetap disyukuri.

Saban hari, jalanan sepanjang Sawangan Depok hingga sekitaran Stasiun Palmerah dia susuri. Semua demi rupiah. Dan dapur yang terus mengepul. Setiap hari dipacu sepeda motornya dengan ikhlas.

Keikhlasan Soleh bukan hanya itu. Tak seperti pengojek lain, Soleh tak memasang tarif. Setiap penumpang bebas membayar jasanya. Tak ada tarif khusus. Dia justru menetapkan tarif " seikhlasnya" kepada si calon penumpang.

Bukan karena Soleh sok kaya apalagi sudah tak lagi butuh uang. Ini cara Soleh membantu orang lain. Pengalaman hidup yang membuatnya berlaku demikian. Sering kali Soleh tak memiliki uang sepeserpun.

" Sebelum mengojek, usaha saya pernah bangkrut. Saya tahu rasanya tak punya uang," kata dia.

Meski pasang tarif ikhlas, tak membuat Soleh miskin benar. Dia masih menerima upah layak. Setiap bayaran dari penumpang diterimanya dengan ikhlas. Dia tak merasa rugi dengan tarif seikhlasnya itu.

" Nggak mikirin rugi. Dia mikir itu uang kelebihan saja," kata dia tersenyum.

Kepasrahan dan rasa ikhlas tak hanya diuji lewat penumpangnya. Dia pernah mendapat ujian yang menggetarkan hati. Dua kali motor yang digunakannya untuk bekerja raib dicuri orang.

" Motor ditaruh rumah, tahu-tahu paginya sudah hilang saja," ucap dia terbata-bata.

September 2015 lalu, rasa sabar dan ikhlas Soleh seolah lulus. Seorang perempuan berhijab yang diantarnya membagi kisah Soleh di akun sosial media Facebook. Kisah ojek ikhlasnya menyebar cepat.

***

2 dari 2 halaman

Orang Rata-rata Takut

Dewi Rachmayani siang itu membatalkan pesanan ojek online dari telepon genggamnya. Seorang pengojek tua membuatnya melakukan itu. Hatinya mendadak luluh.

Di kejauhan, si pengojek tua itu dengan sopan menawarkan helm kepada setiap orang yang melintas di trotoar. Tapi tak ada yang merespon. Tetapi tidak dengan Dewi.

Perempuan berhijab itu mendekati pengojek tua itu. " Orang rata-rata pada takut kalau yang nyetirin sudah tua kaya saya, Neng," kata pengojek tua itu kepada Dewi yang kini sudah berada di sampingnya.

Dewi lulu. Dipakainya helm itu. Selama 30 menit perjalanan Palmerah menuju kawasan perkantoran Mega Kuningan mereka berbincang. Singkat. Tapi, momen itu akan selalu diingat keduanya. Terutama bagi Dewi. Sebab, sebuah jawaban mengharukan terlontar saat Dewi biaya ojek.

" Terserah. Seikhlas penumpang aja," kata pengojek tua itu.

Dewi mendesak. Dia minta pengojek tua itu menyodorkan angka. Terdesak, pengojek tua itu menyebut angka.

" Kalo 20 ribu kemahalan nggak Neng?" tanya dia.

Dewi terenyuh. Uang sebesar Rp170 ribu tersimpan rapi di dompetnya. Dia keluarkan Rp150ribu kepada pengojek tua itu.

" Rezeki Pak Soleh yang kebetulan nangkring dulu di dompet gue," papar Dewi.

Itulah pengalaman Dewi bertemu Soleh. Kisah yang kemudian menyebar. Menjadi viral lewat akun jejaring sosial Facebook. Kisah yang tanpa dia sadari akan mengubah perjalanan hidup pengojek tua yang belakangan diketahui bernama Soleh itu.

Berkat unggahan kisah itu, nama Soleh dikenal seantero negeri. Kabar Soleh dan tarif ojek ikhlas itu menyebar cepat.

Satu per satu media nasional memburu cerita dan kisah dari Soleh. Nomor telepon seluler miliknya mendadak tak pernah sepi. Mulai permintaan wawancara hingga bantuan dari yang liyan.

Jalan baru mendadak terbuka. Mimpi beribadah di tanah suci kembali menganga. Di sebuah acara, Soleh mendapat kabar bahagia. Tiket umrah menukar tiap jengkal keikhlasan yang dijalaninya.

Beri Komentar