Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Wapres Jusuf Kalla (Merdeka.com)
Dream - Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla mengakui pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air semakin meningkat. Namun dirinya berpesan agar pelaku bisnis syariah tak hanya menjual simbol.
Dalam sambutan pembukaan Muktamar III Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI), di Jakarta, Kamis 30 April 2015, Kalla mengapresiasi pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia yang masuk deretan terbaik dunia.
Mengutip laporan Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Bambang Brodjonegoro, ekonomi syariah Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam hal jumlah kelembagaan. Namun dari sisi aset, bisnis syariah justru berada di peringkat kesembilan dengan nilai total US$ 35,63 miliar atau 2,1 persen dari pangsa pasar dunia.
" Hal tersebut membuktikan bahwa lembaga ekonomi syariah di Indonesia perannya masih kecil," kata Kalla.
Wapres mendesak agar negara mendorong penguatan peran lembaga ekonomi syariah. Namun, ekonomi yang berdasarkan pada prinsip Islam ini diakui tidak bisa dilaksanakan secara sporadis melainkan harus melalui sebuah sistem.
Pada bagian lain, Jusuf Kalla juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap maraknya kegiatan ekonomi syariah di Indonesia yang hanya mengadopsi simbol-simbol Islam sebagai nilai jual.
Alasannya, titik penting ekonomi syariah justru terletak pada prinsip-prinsip yang mengharuskan transaksi riil, bagi hasil serta tidak manipulatif.
" Misalnya, dalam segi bahasa gunakanlah istilah umum tidak perlu serba Arab. Karena apa yang sebenarnya mau dijual bahasa atau sistemnya?" tanya Jusuf Kalla.
" Bila dimaknai hanya sebagai simbol, yang terjadi seperti sekarang, tidak maju," tambahnya
Wapres berharap Indonesia bisa belajar banyak dari Malaysia dalam hal pengembangan ekonomi syariah. Selain lebih dahulu menerapkan serta mengembangkan ekonomi syariah, negara bekas koloni Inggris itu juga telah menerapkan sistem yang paripurna tanpa harus menjual simbol-simbol Islam.
(Laporan: Kurnia Yunita)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam