Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Pemerintah tidak menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak jenis Pertalite meski harga komoditas energi sedang naik. Pemerintah tidak ingin menimbulkan market shock.
" Pertamax sudah terkena karena itu kelompok masyarakat kaya yang konsumsi, tapi Pertalite tidak diubah, Premium sudah hilang sekarang," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dikutip dari merdeka.com, Selasa 22 Maret 2022.
Selain tidak ingin menimbulkan market shock, keputusan tidak menaikkan harga Pertalite dan tarif listrik juga mempertimbangkan daya beli masyarakat. Pemerintah khawatir terjadi dampak buruk pertumbuhan ekonomi bila terjadi kenaikan.
" Market shock kalau komoditas untuk oil dan gas dan listrik itu adalah administer price. Pilihannya adalah kalau kita shock dari kenaikan bahan bakunya ini diteruskan ke masyarakat, naiknya tinggi langsung jeblok konsumsinya. Maka sampai hari ini listrik nggak naik," tutur Sri Mulyani.
Saat ini, tambah dia, ekonomi dunia terus-menerus dihadapkan berbagai tantangan. Meski pandemi Covid-19 cukup terkendali, muncul konflik Rusia-Ukraina yang berdampak pada kenaikan harga-harga komoditas, misalnya batu bara, nikel, minyak hingga gas bumi.
" Kenaikan harga komoditas sebetulnya sudah mulai muncul karena pemulihan ekonomi mengalami disrupsi dari sisi supply-nya. Jadi ini, kayak kena badai semua dan pada saat ekonomi sedang tertatih-tatih dari pandemi sehingga belum kuat untuk bangkit," ujar Menkeu.
Lonjakan harga komoditas itulah yang membuat pemerintah masih mempertimbangkan harga-harga, khususnya untuk minyak dan kelistrikan.
" Jadi APBN sekarang ngitung berapa penerimaan nambah dari komoditas, berapa belanja akan ditagihkan ke kita kalau ini belum di past over dan nanti struktur APBN-nya tetap akan sehat tidak," tutur Sri Mulyani.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya