Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Petugas Mencabut Atribut Jelang Pilkada (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Dream - Kondisi ekonomi tanah air bakal ditentukan dua hal yang akan terjadi pada akhir tahun ini. Kedua hal itu adalah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Keputusan The Fed terhadap suku bunganya.
Direktur Bank Syariah Mandiri (BSM) Agus Dwi Handaya menilai penentuan suku bunga The Fed ini tidak akan memberikan goncangan yang signifikan terhadap optimisme industri tanah air, termasuk industri perbankan syariah. Alasannya, hampir semua bank telah bersiap-siap mengantisipasi keputusan kenaikan suku bunga itu.
" Kita sendiri sudah prepare, kalau ada tambahan laba maka kita sediakan untuk cadangan," ujarnya di Jakarta, Senin, 7 Desember 2015.
Menurut Agus, pihaknya saat ini justru mengantisipasi hasil Pilkada yang menentukan percepatan pembangunan dan belanja pemerintah.
" Tahun ini kan belanja pemerintah agak macet, tapi ini kan sudah jadi isu, harusnya tahun depan sudah lebih baik. Namun, yang dikhawatirkan, (karena hasil pilkada) belanja pemerintah jadi mandeg lagi," ujarnya.
Untuk itu, lanjut Agus, pihaknya berharap agar pemerintah bisa menyelesaikan isu tersebut di tahun depan sehingga terjadi akselerasi untuk proyek-proyek pemerintah.
" Jadi kita optimis di tahun depan, tapi tidak over confident. Kalau Pilkada berjalan baik, maka akan berjalan baik ke depannya," ungkap Agus.
Apalagi, adanya kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) diharapkan bisa meningkatkan daya beli masyarakat sehingga bisa menggairahkan kembali industri tanah air, termasuk perbankan syariah.
" Kita menunggu kenaikan UMR. Secara psikologi kan orang kalau take home pay naik, dia lupa yang lain naik juga, seperti TDL," ujarnya.
Lebih lanjut Agus menyampaikan untuk pertumbuhan aset, BSM menargetkan pertumbuhan di kisaran 7-12 persen.
" Kita lebih confident tahun depan, karena kan dapat Rp 500 miliar dari induk. Target pertumbuhan aset yang low-nya 7 persen, moderatnya 10 persen, target optimisnya 12 persen," tandas Agus. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya