7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Skema Ponzi Sering Digunakan Oleh Investasi Bodong. (Foto: Shutterstock)
Dream - Kemajuan teknologi membuat kasus penipuan semakin marak denggan korban kebanyakan dialami kalangan masyarakat kecil. Umumnya mereka tergiur dengan keuntungan yang diperoleh karena lebih besar dari investasi biasa apalagi tabungan.
Jika ditelusuri, kebanyakan modus penipuan itu baru terendus ketika si pemilik uang mulai jarang menerima keuntungan yang dijanjikan. Apesnya, para pelaku umumnya kabur saat uang yang diterima sudah habis untuk dibagi-bagikan.
Kebanyakan kasus penipuan yang dialami menggunakan skema ponzi. Teknis ini banyak dipakai karena pelaku tinggal pintar-pintar mengatur uang yang masuk lalu menginvestasikannya di produk-produk lain. Dengan harapan untuk yang diperoleh bisa dibagikan kepada para investor.
Masalah baru datang ketika uang investor yang diinvestasikan ternyata tak memberikan keuntungan sesuai harapan atau bahkan merugi. Pelaku juga tak bisa sistem gali tutup lubang karena kekurangan pasokan dari investor baru sementar janji untung besar sudah diberikan kepada investor lama.
Namun tahukah Sahabat Dream siapa otak di balik skema ini? Dikutip dari akun Instagram @ojkindonesia, Senin, 15 Februari 2021, inilah sosok di balik para penipu investasi yang masih dipergunakan sampai saat ini.
Skema Ponzi diambil dari nama belakang pencetusnya yang bernama Charles Ponzi. Pria asal Italia ini menjadi terkenal pada tahun 1920 karena telah melakukan penipuan dengan kerugian sebanyak US$225 juta (Rp3,14 triliun) pada masa sekarang.
Pada era sekarang, banyak ditemukan investasi berskema Ponzi. Investasi ini banyak ditemukan di aplikasi smartphone dan website.
Modusnya adalah memberikan keuntungan dari sejumlah deposit uang yang disimpan. Investor akan mendapatkan bonus kalau mengajak teman untuk menggunakan sistem tersebut (sistem referral).
Berikut ini adalah ciri-ciri investasi berskema Ponzi.
1. Menjanjikan keuntungan dalam waktu besar dan singkat serta tanpa risiko.
2. Proses bisnis investasi yang tidak jelas.
3. Produk investasi biasanya milik luar negeri.
4. Staf penjualan mendapatkan komisi dalam merekrut orang.
5. Saat investor ingin menarik dana, malah diiming-imingi dengan investasi berbunga yang lebih tinggi.
6. Mengundang calon investor yang menggunakan tokoh masyarakat dan tokoh agama sebagai figur.
7. Pengembalian macet di tengah-tengah.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?